nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BPJS Defisit Anggaran, Kepersertaan yang Belum Merata Tantangan Utama Program JKN

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 22 November 2019 14:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 22 481 2133154 bpjs-defisit-anggaran-kepersertaan-yang-belum-merata-tantangan-utama-program-jkn-jraW5RLQH2.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) hangat diperbincangkan setelah mengalami defisit anggaran dalam penerapannya di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal ini pun membuat berbagai pihak mencari jalan keluar terhadap masalah yang dialami BPJS terutama dari segi kepesertaan yang masih belum merata.

Direktur The SMERU Research Institute, Widjajanti Isdijoso, M.Ec.St, mengatakan salah satu tantangan JKN adalah masih rendahnya kepesertaan dari segmen kelas menengah.

Beberapa upaya yang dilakukan saat ini nyatanya masih belum mampu memberikan dampak yang besar dalam menarik jumlah peserta.

Rumah Sakit

(Ilustrasi)

Saat ini JKN memang telah berjalan selama lima tahun sejak diperkenalkan pada 2014 silam. JKN telah menjangkau 223 juta orang atau 83,9 persen dari total penduduk Indonesia.

Namun perkembangan tersebut masih memiliki tantangan, terutama dalam segi kepersertaan khususnya di kelas menengah.

Rumah Sakit

"Dari total kepesertaan sekitar 83 persen, terdapat kelas menengah yang kepesertaannya masih rendah. Penelitian Smeru memberikan pendaftaran online untuk membantu meningkatkan tapi cuma sedikit, jadi kesimpulannya kemauan untuk menjadi peserta itu suatu tantangan," ungkap Widjajanti saat ditemui Okezone di Gedung Sujudi, Kemenkes RI, Kamis (21/11/2019).

Pada kesempatan tesebut, Widjajanti merinci bahwa Peserta Mandiri Bukan Upah (PBPU) yang ikut dalam JKN jumlahnya jauh lebih sedikit dari peserta Penerima Bantuan Iuran (PNB). Bahkan jumlah PBPU yang terdaftar dalam Program JKN kurang dari 30 persen.

Rumah Sakit

"Oleh sebab itu, saat ini sedang dicari caranya menciptakan insentif untuk pembayaran iuran reguler dan bertanggung jawab. Pasalnya masih banyak peserta dengan perilaku membayar iuran ketika mereka membutuhkan. Oleh sebab itu pencarian skema baru yang lebih pas serta bantuan lembaga penelitian sangat diperlukan untuk mencari cara dalam meningkatkan kepesertaan," lanjutnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini