nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ciptakan Generasi Unggul di Masa Depan, Guru Perlu Meningkatkan Kompetensi Empati

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 22 November 2019 23:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 11 22 612 2133347 ciptakan-generasi-unggul-di-masa-depan-guru-perlu-meningkatkan-kompetensi-empati-J8KWokn1TV.jpg Ilustrasi (Foto: Heru Haryono/ Okezone)

Guru memiliki peranan penting dalam menciptakan bibit-bibit unggul di masa depan. Tugas guru tak hanya sekadar menyampaikan pelajaran untuk dimengerti para siswanya.

Tapi lebih dari itu, seorang guru juga perlu memiliki empati untuk memaksimalkan potensi dalam diri siswa yang diajarnya. Sebab bagaimanapun, selain di rumah anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah.

Saat ini para guru menghadapi siswa yang merupakan generasi alpha. Para siswa lahir di atas tahun 2010 di mana teknologi sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Dunia digital dan media sudah sangat dekat dengan siswa. Maka dari itu, guru harus terus berinovasi dalam cara mengajar dan meningkatkan kompetensinya.

 Guru di sekolah

"Proses belajar mengajar di sekolah harus disesuaikan dengan generasi alpha. Sekarang ini guru tak lagi bisa menerapkan metode mengajar hanya dengan di depan kelas menjelaskan isi pembelajaran lalu kalau ada siswa yang salah dilempar," ujar psikolog klinis Analisa Widyaningrum saat ditemui Okezone dalam konferensi pers Wardah Inspiring Teacher 2019, Jumat (22/11/2019), di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.

Psikolog yang memiliki fokus pada dunia pendidikan itu mengatakan, sekarang ini guru bisa mengajar dengan metode yang lebih kreatif. Misalnya menayangkan video dari media sosial yang berhubungan dengan materi pembelajaran. Ini menandakan kompetensi empati guru telah meningkat.

"Kompetensi empati guru itu melihat kebutuhan siswa, bukan hanya melihat apa yang perlu diajarkan guru," ucap psikolog yang akrab disapa Ana itu.

Melihat kebutuhan guru untuk meningkatkan kompetensinya dalam banyak hal, maka perlu dilakukan pelatihan dengan menggandeng pakar-pakar pendidikan. Wardah turut berperan dalam memberikan pelatihan pada guru yang berfokus pada pengembangan desain inovasi pengajaran.

 Guru dan murid

Para guru dilatih untuk meningkatkan empati pada kebutuhan siswa. Dengan begitu guru dapat menghasilkan produk inovasi media ajar yang lebih menarik dan bisa diterima siswa.

Dikatakan oleh Ana, peningkatan kompetensi guru dalam hal empati sudah dilakukan oleh sejumlah negara maju. Salah satu contohnya adalah Selandia Baru. Di sana para guru dilatih untuk meningkatkan keterampilan mengapresiasi atau memberikan pertanyaan maupun masukan kepada siswa.

"Pelatihan keterampilan itulah yang masih kurang di Indonesia. Memang sudah ada beberapa sekolah yang melakukannya, tapi gerakannya belum masif dan serentak. Cara mengapresiasi siswa sangat berpengaruh pada karakternya di masa depan," ujar Ana.

Apresiasi membuat siswa dapat mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya secara lebih optimal. Oleh karena itu, guru diharapkan tidak memberikan label kepada siswa seperti siswa nakal, siswa pemalas, siswa rajin, dan lain sebagainya. Sebab semua siswa berharga, bermakna, dan hebat.

"Tinggal bagaimana peran guru memantik kehebatan atau potensi siswa. Semua guru harus memiliki empati dan melihat semua siswa spesial tanpa judgement sehingga potensi bisa disinergikan," pungkas Ana.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini