nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menguak Fenomena Kacamata ION untuk Sembuhkan Minus, Ternyata Ini Faktanya

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Minggu 24 November 2019 17:21 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 11 24 481 2133843 menguak-fenomena-kacamata-ion-untuk-sembukan-minus-ternyata-ini-faktanya-wdIWGpmMzG.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

ADA banyak sekali mitos yang beredar di tengah masyarakat Indonesia bahwa penyakit mata seperti silinder, minus, glaukoma, hingga katarak bisa disembuhkan dengan sejumlah pengobatan alternatif. Salah satunya penggunaan kacamata ION.

Kacamata ION digadang-gadang dapat menyembuhkan berbagai penyakit mata, karena diklaim memperlancar peredaran darah sehingga oksigenasi ke jaringan menjadi lebih baik. Benarkah klaim tersebut?

Terkait hal ini, dr. Ferdiriva Hamzah, Sp.M, dari JEC Eye Hospitals Menteng mengomentari lewat kanal YouTube pribadinya.

 JEC Eye Hospitals Menteng mengomentari lewat kanal YouTube pribadinya.

"Apakah benar kacamata ION bisa menyembuhkan penyakit mata seperti, minus, silinder, mempertahankan minus, silinder, diabetic retinopathy, dan glaukoma?," tutur dr. Ferdiriva Hamzah pada awal video.

Ia kemudian menjelaskan secara singkat tentang fungsi kacamata tersebut yang dipercaya mengandung ion atau atom bermuatan negatif dan positif pada framenya.

Kandungan ion inilah yang diklaim dapat melancarkan darah sehingga proses penghantaran oksigen ke jaringan menjadi lebih baik, apalagi bila dikenakan secara rutin selama 8 jam per hari.

Namun pada kenyataannya, hal ini belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Ilmu kedokteran, kata dr. Riva, harus didasarkan bukti-bukti ilmiah, dan harus dari penelitian-penelitian yang kuat. Bukan dari testimonial karena itu sama saja dengan testimonial.

dr. Riva kemudian memberikan sejumlah analagi tentang beberapa penyakit mata yang paling umum diidap para pasien.

"Mata minus itu akibat sumbu bola mata yang memanjang. Ibaratnya mata orang normal itu kayak bola pimpong. Sementara orang minus bola matanya lonjong ke belakang kayak buah kiwi. Itu adalah kelainan anatomis," tegas dr. Riva.

sejumlah analagi tentang beberapa penyakit mata yang paling umum diidap para pasien.

"Jadi bagaimana kacamata yang mengandung ion bisa membuat bola mata yang sudah lonjong kembal normal? Sama sekali tidak masuk akal," timpalnya.

Begitu pula dengan mata silinder. Gangguan mata ini disebabkan oleh korne atau lapisan terdepan mata 'peang' atau cembungnya tidak sempurna. Alhasil sinar yang masuk terbias dan tidak jatuh ke retina. Pertanyaan yang sama kembali dilontarkan dr. Riva. Bagaimana kacamata memperbaiki hal tersebut?

Ia menambahkan bahwa faktor genetik menjadi salah satu penyebab mara minus dan silinder. Mata minus biasanya juga disebabkan aktivitas melihat suatu objek terlalu dekar. Biasanya mata minus selalu merundung anak-anak, karena di atas usia 18 tahun kondisi mata sudah cenderung stabil.

"Penjelasan ini juga berlaku untuk penyakit-penyakit mata lain yang pengobatannya tidak gampang, seperti penyakit pada retina, glaukoma, katarak, dan sebagainya," kata dr. Riva.

Sebagai dokter spesialis mata, dr. Riva merasa memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan informasi yang sahih, dan meluruskan kekeliruan di tengah masyarakat Indonesia. Bukan tanpa alasan, beberapa kali ia mendapatkan pasien dengan kondisi mata yang sudah parah akibat penggunaan kacamata ion nano.

 pasien dengan kondisi mata yang sudah parah akibat penggunaan kacamata ion nano.

"Misalnya saja ada pasien yang matanya ada gangguan di retinanya, lalu mereka menggunakan kacamata ini karena mendengar testimoni dari sana sini. Dia akhirnya berharap banyak dari kacamata ini, dan akhirnya dia tidak kontrol-kontrol mata," ujar pria yang baru saja meluncurkan novel kedokteran bertajuk 'begu ganjang'.

"Bayangkan pula kalau keadaan mata dia semakin buruk. Terus waktu datang ke dokter sudah susah untuk dilakukan tindakan atau pengobatan. Maka dari itu ini harus diluruskan. Harga kacamatanya juga tidak murah, bisa sampai Rp700 ribu - Rp1 juta. Kan kasian yang sudah beli tapi tidak mendapatkan hasil," tambahnya.

Hampir sama seperti gelang power balance

Boomingnya kacamata ion diibaratkan dr. Riva seperti kasus gelang power balance. Gelang ini diklaim dapat meningkatkan keseimbangan dan menciptakan energi.

Padahal, setelah gelang power balance booming di berbagai negara, sang kreator justru melayangkan surat permintaan maaf, dan mengakui bahwa produk buatannya itu hanya sekadar scam atau penipuan semata.

Kendati demikian, dr. Riva tidak melarang bila masih ada orang percaya dengan khasiat kacamata ion ini. Namun perlu diketahui, Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) sejatinya telah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa produk tersebut tidak dianjurkan penggunaannya.

Masyarakat juga diimbau agar lebih jeli dan kritis terhadap beberapa klaim terapi penyakit, khususnya untuk kelainan mata. "Jika mempunyai penyakit mata serius, jangan lupa kontrol ke dokter mata. Jangan berharap banyak sampai ada penelitian yang sahih," ungkap dr. Riva saat dihubungi Okezone via sambungan telefon.

Ia kembali menegaskan, penyakit mata permanen hanya bisa disembuhkan dengan operasi lasik atau tanam lensa. Untuk penyakit mata temporari atau tingkat minusnya masih rendah, bisa menggunakan kontak lens Ortho-K.

"Lensa ini bisa pakai malam hari di bawa tidur. Efeknya, setelah bangun tidur, bisa lihat lagi, tapi nanti akn kumat lagi. Lensa ini bisa digunakan untuk minus yang rendah antara 0.25 - 2.75," jelasnya.

"Intinya lebih jeli dan kritis. Karena banyak juga dokter-dokter yang menjual produk kacamata ini. Bahkan gara-gara membuat vlog tentang kacamata ion, saya sampai dimaki-maki. Ada yang bilang saya dokter dajjal," tukas dr. Riva sembari tertawa lepas.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini