nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jahatnya Gadget, Bisa Buat Buah Hati Jadi Anak Berkebutuhan Khusus

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 26 November 2019 09:57 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 26 196 2134476 jahatnya-gadget-bisa-buat-buah-hati-jadi-anak-berkebutuhan-khusus-WPysvZIBIF.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KEHADIRAN gadget atau gawai membawa pengaruh positif dan negatif. Gadget memudahkan mobilitas sehari-hari. Tapi di sisi lain, gadget dapat menyebabkan kecanduan.

Pada anak-anak, gadget bisa membuat mereka mengalami gangguan perilaku hingga disebut sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK).

Menurut psikolog anak dan pendidikan, Dianda Azani, M.Psi, sekarang ini banyak anak-anak yang mengalami gangguan perilaku karena gadget. Padahal tadinya mereka adalah anak-anak yang masuk kategori normal. Hal ini dikarenakan gadget mengganggu tahap tumbuh kembang anak.

Hal ini dikarenakan gadget mengganggu tahap tumbuh kembang anak.

"Gadget banyak menyerap atensi karena saat dimainkan, benar-benar fokus hanya pada gadget dan lupa dengan lingkungan sekitar. Padahal di usia tumbuh kembang waktunya anak melatih semua fisik terutama kognitif dan emosionalnya," ujar Dianda saat ditemui Okezone di Jakarta.

Dirinya mengatakan, banyak anak yang sekarang mengalami speech delay dan problem attention. Anak yang tadinya tumbuh kembangnya normal, menjadi seperti mengalami attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) tapi sebenarnya bukan ADHD. Ada juga anak yang terlihat seperti terkena autisme tapi sebenarnya tidak, hanya saja perilakunya bermasalah.

"Mereka tetap disebut anak berkebutuhan khusus karena perilaku mereka tidak seperti anak normal. Kondisi ini baru ditemui sekarang ini dan itu banyak banget," kata Dianda.

Dirinya menjelaskan, di usia 5 tahun otak anak masih terus berkembang. Di tahap ini mereka seharusnya mendapatkan stimulasi-stimulasi yang merangsang sensor kognitif, motorik, dan emosi. Namun ketika anak hanya fokus bermain gadget dan itu menjadi kebiasaan rutin, maka bisa mengubah susunan saraf otak.

"Untuk mengubah dan mengembalikan anak menjadi normal itu butuh bertahun-tahun terapi. Memang gadget jahat banget dan juga mengubah pola budaya pengasuhan," ujar Dianda.

Di tahap ini mereka seharusnya mendapatkan stimulasi-stimulasi yang merangsang sensor kognitif, motorik, dan emosi.

Tak bisa dipungkiri, sekarang banyak orangtua yang sudah memberikan anaknya gadget sejak usia dini. Contoh, untuk mendiamkan anak yang menangis, orangtua memberikan gadget.

Begitu juga saat anaknya tidak mau makan, maka anaknya diberikan gadget.

"Padahal seharusnya orangtua bisa lebih kreatif untuk mengasuh anaknya. Misal anak yang menangis diajak bermain oleh ibu, mereka bisa merasa senang," katanya.

"Atau ketika mau makan diberi tahu beraneka ragam jenis makanan yang dimakannya. Ini dapat membuat anak punya relasi emosi yang sehat dan kemampuan motorik bagus," pungkas Dianda.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini