Lebih Dari 600 Ribu Orang Idap HIV, Sebagian Besar dari Kalangan Homoseksual

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 27 November 2019 20:19 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 27 481 2135216 lebih-dari-600-ribu-orang-idap-hiv-sebagian-besar-dari-kalangan-homoseksual-WGTkdICYB6.jpg Ilustrasi (Foto: Huffpost)

Penyakit HIV masih mengancam masyarakat Indonesia hingga sekarang. Ada lebih dari 600.000 orang terduga mengidap HIV yang dapat mengancam nyawa.

Bahkan perkembangan HIV selama lima tahun terakhir dianggap stabil. Adapun jumlah kumulatif kasus HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2019 sebanyak 349.882 atau 60,7 persen, dari estimasi ODHA tahun 2016 sebanyak 640.443 orang.

Sementara itu, kasus AIDS yang dilaporkan dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2019 sebanyak 117.064 orang. Sehingga kasusnya relatif stabil setiap tahunnya.

 Tes

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Anung Sugihantono, menuturkan, ada beberapa kelompok faktor risiko orang yang mengidap HIV. Dari mulai kalangan ibu rumah tangga, homoseksual, hingga kaum heteroseksual.

"Sebagian besar dari kelompok umur 25-49 tahun sebesar 71,1 persen. Faktor risiko dari kasus HIV yang dilaporkan 18 persen merupakan homoseksual dan 17 persen heteroseksual," ungkap Anung di Gedung Kemenkes RI, Rabu (27/11/2019).

Sayangnya, sambung Anung, tidak semua ODHA mendapatkan layanan akses obat ARV secara rutin. Hanya 33 persen ODHA yang sudah mendapatkan obat ARV dari faskes atau sekira 115.750 orang.

Dari sinilah cara penemuan ODHA harus lebih ditingkatkan lagi. Seharusnya mereka sudah dapat akses obat ARV sejak stadium awal penyakitnya.

Bukan itu saja, masalah pelik yang dihadapi ODHA di kalangan masyarakat. Misalnya saja ODHA masih sering mendapatkan stigma buruk bagi banyak orang di lingkungan sekitar.

Anung menyayangkan Hal ini karena bisa menurunkan semangat ODHA agar bisa sembuh. Karenanya, dia mengajak seluruh masyarakat untuk tahu pencegahan HIV, dari kalangan manapun.

"Paling penting kita harus tahu bagaimana langkah menurunkan faktor risiko HIV dan mekanisme penularannya. Dari situ kita tidak boleh melakukan stigmasasi dan berlaku untuk penyakit apapun," pungkasnya Anung.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini