nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Cinta Kapten Pierre Tendean dan Rukmini Chaimin, LDR dan Berakhir Pilu

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 01 Desember 2019 09:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 01 196 2136501 kisah-cinta-kapten-pierre-tendean-dan-rukmini-chaimin-ldr-dan-berakhir-pilu-q2RJdYSxjT.jpg Kisah cinta LDR tragis (foto: Twittter)

MUNGKIN  tidak banyak yang tahu bahwa di masa hidupnya, Kapten Pierre Tendean ternyata mengalami kisah cinta yang bisa dibilang begitu pilu. Kisah cintanya terbilang LDR bersama sang kekasih hati, Rukmini Chaimin.

Kisah cinta pilu LDR antara Kapten Pierre Tendean dengan Rukmini Chaimin ini, dibagikan ke publik oleh salah seorang netizen bernama Mazzini, di laman akun Twitter pribadinya, “@mazzini_giusepe”.

Mengawali utasannya tentang kisah cinta tragis sang kapten dengan sang pujaan hatinya tersebut, Mazzini langsung menuturkan bahwa hubungan asmara LDR (long-distance relationship) dan beda agama yang dijalani oleh Kapten Pierre Tendean dan Rukmini harus kandas karena peristiwa G30S.

Seperti diceritakan dalam utasan, Kapten Pierre Tendean awalnya bertemu sang pujaan hati, Rukmini pada 1963 pada saat pria kelahiran 1939 ini bertugas sebagai Komandan Peleton Batalyon Tempur 2, Kodam II Bukit Barisan di Medan. Pierre yang sedang tidak dinas, kala itu diajak untuk bertandang ke rumah Bapak Chaimin, salah satu tokoh terpandang di daerah tersebut.

Siapa sangka, di sana ia bertemu Rukmini, putri bapak Chaimin. Disebutkan, Pierre kala itu jatuh hati karena melihat sikap Rukmini yang lemah lembut, pemalu dan tutur katanya yang sopan. Sedangkan, di sisi lain Rukmini pun juga jatuh hati pada Pierre, bukan karena ketampanannya yang digilai-digilai oleh banyak wanita lain. Melainkan karena sikap humoris dan kecerdasan yang dimiliki Pierre.

Singkat cerita, walau sempat ditentang dan terhalang restu orangtua karena beda keyakinan. Ditambah lagi jarak yang memisahkan yang membuat keduanya harus LDR, sebab Pierre kala itu diketahui mendapat panggilan sekolah intelijen untuk ditugaskan ke Operasi Dwikora. Namun cinta yang besar di antara keduanya, membuat Pierre dan Rukmini tetap yakin untuk menjalin kisah cinta walaupun banyak tantangan yang menghadang.

 Pierre Tendean

Setelah Pierre tamat sekolah, perjuangan keduanya belum juga usai loh! Pasalnya, Pierre langsung ditugaskan ke Malaysia untuk memimpin pasukan relawan di Operasi Dwikora.

Melihat sang anak memikul tugas yang berat, Ibunda Pierre, Cornet M.E yang kebetulan berteman baik dengan mertua Jenderal AH. Nasution (Menko Hankam saat itu)dan Mayjen Dendi Kadarsan langsung mengajukan penarikan tugas sang putra tercinta. Permohonan dikabulkan, namun Pierre menjadi rebutan para Jenderal untuk dijadikan ajudan, dan perebutan tersebut dimenangkan oleh Jenderal AH. Nasution

Akhirnya, di tahun 1965 Pierre bertekad untuk mantap hendak menikahi Rukmini. Ia menulis surat kepada keluarganya bertujuan meminta restu untuk menikahi sang pujaan hati. Bahkan, saat tengah bertugas mendampingi Jenderal AH. Nasution di Medan pada 31 Juli 1965, Pierre sempat menemui keluarga Rukmini untuk melamar. Di acara lamaran tersebut, disepakati Pierre dan Rukmini akan menikah pada bulan November 1965.

Demi mengumpulkan biaya pernikahannya, saat itu Pierre yang sudah berpangkat Letnan Satu tersebut rela bekerja sebagai sopir traktor untuk proyek pembangunan Monas demi mendapatkan uang tambahan. Tidak hanya itu, diketahui Pierre pun sudah sempat mencari informasi soal tempat tinggal di kawasan Menteng untuk ia huni bersama Rukmini saat sudah menikah nanti.

Namun takdir berkata lain, di malam terjadi pengepungan rumah Jenderal AH. Nasution pada 30 September 1965, Pierre yang sebetulnya sedang tidak bertugas tiba-tiba berinisiatif menghadapi pasukan Tjakrabirawa. Namun, akibat instruksi yang tidak jelas dan tidak mengenali wajah Jenderal AH.Nasution, pasukan Tjakrabirawa salah tangkap serta langsung membawa Pierre ke Lubang Buaya dan langsung mengeksekusi Pierre.

Rukmini

Kejadian tragis ini membuat rencana Rukmini untuk membangun rumah tangga hanya dalam waktu dua bulan lagi bersama Pierre, kekasih pujaan hati harus kandas. Siapa sangka, acara lamaran pada 31 Juli 1965 menjadi momen terakhir Rukmini bisa bertemu dan melihat Pierre dalam keadaan sehat walafiat.

Di hari perayaan Kesaktian Pancasila tahun 1967, Rukmini datang untuk mengenang sosok Pierre kekasih tercinta. Dipisahkan oleh maut, membuat Rukmini disebutkan membutuhkan waktu cukup lama sekitar lima tahun untuk bisa mengikhlaskan kepergian Kapten Pierre Tendean dan menjalani hidupnya kembali.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini