nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Stigma Jahat Masyarakat Terhadap Penderita AIDS, Bagaimana Mencegahnya?

Dewi Kania, Jurnalis · Minggu 01 Desember 2019 22:41 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 01 481 2136677 stigma-jahat-masyarakat-terhadap-penderita-aids-bagaimana-mencegahnya-O2iwkkjQ9o.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PARA penderita HIV/AIDS tak luput dari stigma masyarakat hingga kini. Masalah ini jadi hal yang krusial yang seharusnya sudah tidak ada lagi.

Berbagai stigma terhadap ODHA pun bukan cuma muncul di kalangan masyarakat awam. Para tenaga medis pun terkadang masih melakukan, sehingga dapat menyakiti hati para ODHA.

Beberapa stigma yang dihadapi masyarakat pun bakal diulas Okezone selengkapnya. Berikut rangkumannya yang bisa Anda simak, ditulis Okezone.

ODHA dianggap pembawa sial

Di kalangan masyarakat atau keluarga pribadinya, ODHA kerap dinilai menjadi orang yang membawa sial. Akibatnya, ODHA pun tidak mendapatkan perlakuan selayaknya orang sehat.

Malahan banyak ODHA yang tak mau berobat di faskes karena stigma tersebut. Sebaiknya, kalau Anda menemukan ODHA di mana saja, jangan anggap mereka pembawa sial ya!

Sering dikucilkan

Mirisnya lagi, kehadiran ODHA sering tak diterima langsung di masyarakat. Pun di kalangan keluarganya, ODHA sering dikucilkan. Misalnya, saat ada tahu ada ODHA, tidak boleh menggunakan peralatan makan yang sama di rumah. Atau seseorang juga enggan bersentuhan dengan ODHA karena takut tertular HIV. Padahal, HIV hanya menular lewat darah atau ketika berhubungan intim dengan ODHA.

Padahal, HIV hanya menular lewat darah atau ketika berhubungan intim dengan ODHA.

Mendapat cyber bullying

Sebagian ODHA pernah mengalami cyber bullying di media sosial. Baik itu di kalangan teman-teman atau orang lain yang tak dikenali. Masyarakat bahkan menganggap HIV dapat menular lewat media sosial.

Sungguh hal ini sangat menyakiti hati para ODHA, karena faktanya HIV tidak menular lewat cara apapun, kecuali lewat darah, bercinta dengan ODHA atau ibu dengan HIV yang tengah mengandung janin.

Diskrimisasi di lingkungan pekerjaan

Di dunia kerja, diskrimisasi terhadap ODHA masih saja terjadi. Karena banyaknya mitos beredar, seperti HIV menular lewat sentuhan, menggunakan toilet bersama hingga peralatan makan bersama masih dipercaya oleh masyarakat.

Maka ketika tahu ada seorang pekerja terkena HIV di suatu lingkungan pekerjaan, langsung kena sanksi bahkan langsung diberhentikan. Duh, jahat ya!

HIV tidak dapat diobati

Muncul pula stigma HIV yang dianggap sebagai penyakit mematikan. Karena HIV dinilai tidak ada obatnya. Salah besar, pemerintah telah menyediakan obat antiretroviral (ARV) secara gratis di faskes. Pasien harus minum obat jangan sampai putus. HIV bukan penyakit pembunuh, tapi sangat mudah disembuhkan.

Organisasi profesi sebut masyarakat butuh edukasi

Dari sekian banyak stigma yang beredar di masyarakat terkait HIV, masyarakat membutuhkan edukasi yang tepat. Dari mulai kalangan remaja, mahasiswa, serta masyarakat awam yang harus tahu seluk-beluk penyakit HIV.

Ketua Umum Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia, dr Hanny Nilasari, SpKK menuturkan, stigma terhadap ODHA masih menjadi masalah bersama. Sudah banyak penelitian serta edukasi kepada masyarakat agar tidak lagi ada diskrimisasi untuk ODHA.

"Kami dari organisasi profesi sudah mulai bentuk penelitian. Kita lakukan edukasi kesehatan reproduksi. Kita sosialisasikan lewat edukasi, kepada guru, orangtua, mahasiswa, anak-anak," kata Dokter Hanny di Gedung Kemenkes RI, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Daripada menstigma, menurut Dokter Hanny, semua kalangan harus paham dengan pentingnya kesehatan reproduksi. Kalau perlu, lakukan skrining HIV dan jauhi faktor risikonya.

Kalau perlu, lakukan skrining HIV dan jauhi faktor risikonya.

Banyak faktor risiko HIV yang mesti dihindari di kehidupan sehari-hari. Misalnya tidak berganti pasangan saat bercinta, bercinta dengan sesama jenis kelamin, memakai kondom saat berhubungan intim, hingga tidak menggunakan jarum suntik yang bekas.

"Kepada semua kalangan harus tahu faktor risiko HIV. Apakah Anda berisiko karena pernah melakukannya? Maka setiap tahun setiap orang diminta untuk melakukan skrining. Kalau sehat artinya baik, kalau sakit ya diobati," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini