nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jodoh di Tangan Uang, Gagal Nikah Gara-Gara Camer Minta Rp200 Juta

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 03 Desember 2019 04:15 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 02 612 2137142 jodoh-di-tangan-uang-gagal-nikah-gara-gara-camer-minta-rp200-juta-cspsWt2Gu9.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Perpisahan adalah satu-satunya jalan terbaik bagi Baso dan Besse (bukan nama asli), meski telah berjuang mati-matian menjalani hubungan jarak jauh (LDR) selama kurang lebih tujuh tahun.

Kepada Okezone, Baso secara ekslusif menceritakan awal mula kisah asmaranya dengan Besse yang dimulai sejak duduk di bangku SMA. Memutar kembali kenangan 12 tahun silam, Baso memulai cerita.

Baso mengaku tertarik dengan Besse sejak kelas 2 SMA. Mereka memang menempuh pendidikan SMA di salah satu sekolah favorit di Makassar, Sulawesi Selatan.

"Awalnya satu kelas. Dia orangnya baik banget, tidak sombong, dan rendah hati. Karena sifat rendah hatinya itulah saya jatuh hati. Kemudian mulai PDKT, hingga akhirnya jadian jelang kenaikan kelas 3. Saya tembak di Mal Ratu Indah, sehabis nonton," ungkap Baso saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

, makan di mal, atau sekadar menyesap kopi di coffee shop sembari merancang masa depan.

Seperti remaja pada umumnya, awal pacaran Baso dan Besse lebih sering menghabiskan waktu berdua di bioskop, makan di mal, atau sekadar menyesap kopi di coffee shop sembari merancang masa depan.

Kebetulan, selepas lulus SMA, Baso berencana pindah ke Yogyakarta untuk meneruskan jenjang pendidikan di Universitas Gadjah Mada, meski pada akhirnya ia di terima di Jurusan Komunikasi, UPN Veteran Jogjakarta.

Sebelum hijrah ke Yogjakarta, keduanya sempat membuat sebuah perjanjian. Besse mengizinkan Baso kuliah di Yogyakarta, asalkan ia rutin mengunjunginya di Makassar, paling tidak satu bulan sekali.

"Awal-awal saya penuhi tapi lama kelamaan enggak sanggup juga karena berat di ongkos. Akhirnya hanya bisa terbang ke Makassar 2-3 bulan, atau waktu lagi libur semester saja," ungkap Baso.

Ketahuan selingkuh

Baso tidak memungkiri bahwa menjalani hubungan jarak jauh tantangannya memang sangat berat. Bahkan, pada awal-awal kuliah, ia kedapatan selingkuh dengan perempuan lain hingga memicu pertengkaran hebat yang berujung 'break' selama satu semester.

Tak beberapa lama, kesempatan kedua itu akhirnya datang juga. Besse yang belum bisa move on dari Baso, tiba-tiba datang ke Yogjakarta untuk memperbaiki hubungan dengannya. Mereka pun kembali bersatu.

"Waktu itu dia datang sendirian ke Jogja hanya untuk ketemu saya. Di situ akhirnya kami memutuskan pacaran lagi," beber Baso.

Namun, saat ia dan Besse kembali berpacaran, sifat wanita yang dulu sangat ia puja-puja itu ternyata berubah drastis. Besse menjadi lebih posesif dan banyak mengatur.

dulu sangat ia puja-puja itu ternyata berubah drastis. Besse menjadi lebih posesif dan banyak mengatur.

Hal ini membuat Baso tidak nyaman, tapi ia tidak dapat berbuat banyak. Pasalnya, ia masih merasa bersalah karena telah mengkhianati kepercayaan Besse.

"Gimana ya. Intinya dia berubah setelah saya ketahuan selingkuh. Walaupun dikasih kesempatan kedua dan sudah dimaafkan, tapi kondisinya jadi berbeda. Tidak seperti saat pertama kali kami pacaran," kata Baso.

"Dulu dia tidak posesif, tapi pasca kejadian perselingkuhan itu dia jadi lebih mengekang. Saya harus kabari dia setiap saat. Sebelum dia bangun pagi, saya harus bangun duluan. Bahkan, saat saya lagi hangout dengan teman pun harus laporan. Rada shock, tapi karena sayang saya akhirnya mengalah," timpalnya.

Berat di ongkos

Selain membutuhkan komitmen dan kepercayaan yang kuat, hubungan jarak jauh juga membutuhkan modal yang tidak sedikit. Apalagi Baso sudah berjanji untuk rutin mengunjungi Besse di Makassar.

Meski kemampuan finansial keluarganya terbilang mampu, Baso tidak memungkiri bahwa hubungan jarak jauh itu ujung-ujungnya berat di ongkos. Ia sampai nekat membohongi kedua orangtuanya hingga bermain judi, hanya untuk membiayai perjalanannya ke Makassar.

"Saya sampai main judi buat nambah-nambah modal. Selain tiket pesawat, di sana kan saya juga harus punya bekal uang jajan. Saya juga harus naik travel 10 jam ke Surabaya untuk menekan pengeluaran. Tiket pesawat dari kota ini ke Makassar kan lebih murah," ungkap Baso.

Tidak sampai di situ saja. Ketika Besse sedang berlibur di Jakarta, Bali, atau kota lainnya, Baso wajib menyusulnya.

"Pokoknya harus nyusul dan liburan bareng. Paling sering ke Bali. Kalau enggak diturutin ngambek. Waktu itu sekali liburan bisa sampai Rp5 juta. Makanya saya main judi dan pakai uang SPP," ujar Baso sembari tertawa lepas.

Ada satu hal yang membuat Baso semakin tidak nyaman dengan hubungannya.

Ada satu hal yang membuat Baso semakin tidak nyaman dengan hubungannya. Besse yang lahir dari keluarga bangsawan, cenderung memiliki gaya hidup mewah atau bahasa kekiniannya terlalu hedon.

Alhasil, Baso dituntut untuk mengimbangi gaya hidup Besse dan mengubah penampilannya. Ia harus mengenakan pakaian-pakaian branded, memberikan hadiah spesial di hari ulang tahun Besse, dan nongki-nongki cantik di tempat hits.

"Kalau ulang tahun ada standarnya. Harus bikin acara makan-makan dan surprise party yang mewah. Padahal ongkos berangkat ke Makassar aja sudah mahal, eh harus bayar lagi. Meski patungan, tapi berasa berat juga," jelas Baso.

"Kadonya juga minta yang branded. Terakhir saya beliin tas merek Kate spade seharga Rp3 jutaan lebih lah," tambahnya.

Terhalang uang panai

Memasuki tahun ke-5 pacaran, Baso dan Besse sempat ingin membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. Untungnya, sejak SMA, Baso sudah kenal baik dengan kedua orangtua Besse.

Tapi tak disangka, rencana pernikahan inilah yang membuat Baso semakin yakin untuk mengakhiri hubungan dengan Besse. Hal tersebut tidak terlepas dari sejumlah tuntutan yang diajukan kedua orangtua Besse.

"Di adat Bugis itu ada yang namanya uang panai. Jadi kalau ada yang mau nikah, calon mempelai pria harus memberikan sejumlah uang kepada calon besan. Waktu itu mereka minta Rp200 juta. Biaya ini belum termasuk resepsi pernikahan dan tetek bengek lainnya," tutur Baso.

 Sosok yang selama ini ia anggap baik dan ramah, ternyata masih berorientasi pada materi.

Mendengar pernyataan tersebut, Baso merasa kecewa berat. Sosok yang selama ini ia anggap baik dan ramah, ternyata masih berorientasi pada materi.

Namun, ia tidak bisa menyalahkan hal itu sepenuhnya kepada mereka. Uang panai memang tradisi yang telah dilakukan warga Bugis turun temurun. Apalagi, ayah Besse keturunan bangsawan dengan gelar 'Andi'. Mau tidak mau, tradisi ini harus tetap dijalankan.

Di sisi lain, Baso juga dituntut untuk segera menyelesaikan kuliahnya. "Disuruh cepat lulus, dan cepat kerja karena waktu itu Besse juga sudah lanjut S2. Padahal kan saya telat kuliah gara-gara dia juga. Orang lain SP (semester pendek) saya malah ke Makassar. Sampai saya bohongi orangtua bilang SP padahal ke Makassar," papar Baso.

Memutuskan untuk berpisah

Setelah kurang lebih tujuh tahun menjalin hubungan, pertengahan tahun 2014, Baso dan Besse akhirnya memutuskan berpisah. Keputusan ini mereka ambil untuk kebaikan bersama. Dari pengalaman ini, Baso mendapatkan banyak pelajaran berharga terutama menyangkut kepercayaan.

"LDR itu intinya harus pintar-pintar menjaga kepercayaan. Lebih baik diakhiri kalau sudah tidak saling percaya, daripada menjalani hubungannya tidak nyaman. Saya tidak menyalahkan dia 100%, karena memang saya sendiri yang mengkhianati kepercayaannya," tegasnya.

Dari pengalaman ini, Baso mendapatkan banyak pelajaran berharga terutama menyangkut kepercayaan.

Baso pun berharap tidak akan ada lagi kasus-kasus LDR yang berakhir tragis seperti dirinya. Kuliah terbengkalai, merasa terkekang hingga tidak bisa menyalurkan hobi dan passion karena dilarang.

"Dulu saya sempat ikut UKM kampus karena memang saya suka bidang broadcasting. Tapi disuruh berhenti. Sekarang akhirnya saya harus nerima nasib bekerja sebagai bankir yang notabennya bukan passion saya," tandasnya.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini