nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hari Disabilitas Internasional: Tunarungu Tak Menghalangi Ivan untuk Produktif Dalam Berkarier

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 03 Desember 2019 21:30 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 03 196 2137589 hari-disabilitas-internasional-tunarungu-tak-menghalangi-ivan-untuk-produktif-dalam-berkarier-2h8Jx1yb17.jpg Ivan Octa Putra. penyandang tunarungu (Foto: Instagram/@vanop467)

MEMILIKI keterbatasan fisik tidak lantas membuat Ivan Octa Putra menyerah pada kehidupan. Sebagai penyandang disabilitas yakni tunarungu , ia berhasil membuktikan diri bisa menjalani aktivitas layaknya orang-orang yang fisiknya sempurna. Sehari-hari dirinya bekerja sebagai driver taksi online dan freelance photographer.

Ditemui Okezone dalam suatu acara, Selasa (5/12/2019), Ivan mengungkapkan jika ia bukan penyandang disabilitas sejak lahir. Berdasarkan cerita sang ibunda, pada awalnya pria asal Riau itu normal seperti bayi pada umumnya. Namun pada usia sekira 2 atau 3 bulan dirinya diajak naik pesawat oleh orangtuanya.

Ivan Octa Putra

Saat naik pesawat, terjadi peristiwa yang kurang mengenakkan. Ivan kecil menangis sangat kencang kala mendengar suara deru mesin pesawat yang memekakkan telinga. Tak hanya itu, peristiwa tersebut mengakibatkan kerusakan gendang telinga yang membuatnya tuli.

Meski begitu, anak kedua dari 5 bersaudara tersebut tetap tumbuh seperti anak pada umumnya. Terlebih saudara-saudaranya tidak ada yang menyandang Tunarungu . Memang sewaktu sekolah, dari TK hingga SMP, Ivan bersekolah di sekolah luar biasa. Tapi ketika SMK, ia bersekolah di sekolah umum. Bahkan sekarang ia hidup seoranh diri di Kota Kembang.

Tak berhenti sampai di situ, keahliannya di bidang fotografi membuat Ivan memilih menjadi freelancer fotografer. Hampir setahun belakangan, ia juga menjadi driver taksi online sambil berkuliah jurusan Desain Komunikasi Visual di salah satu universitas di Bandung. Ada alasan tersendiri dirinya melakukan kegiatan tersebut.

"Saya awalnya membutuhkan pekerjaan jadi freelance fotografer, pemasukannya lumayan. Tapi kalau freelance itu 'kan cuma nunggu pesanan datang. Sedangkan saya ingin meningkatkan taraf hidup juga, jadi daftar sebagai driver taksi online," ucap Ivan dibantu oleh juru bahasa isyarat di Jakarta.

Freelance fotografer

Pria berusia 29 tahun itu mengungkapkan pada awalnya ia sempat merasa khawatir ketika menjadi driver taksi online. Ivan takut mengalami kesulitan berkomunikasi denhan penumpang karena keterbatasannya. Beruntung ada pelatihan dan kartu informasi tentang kondisinya sehingga mempermudah saat mengantar penumpang.

"Pernah dulu awal-awal saat dapat telepon dari penumpang yang order saya reject. Soalnya 'kan saya tidak bisa jawab, biasanya setelah itu saya kirim pesan bilang kalau saya tuli. Sekarang sih lebih mudah dengan adanya kartu dan akses, jadi nyaman juga," ucap Ivan.

Tak jarang penumpang yang mengetahui kondisinya berusaha berkomunikasi dalam bahasa isyarat. Terlebih di mobil yang dikendarai oleh Ivan ada petunjuk cara komunikasi dengan driver tuli. Bahkan ia pernah membenarkan bahasa isyarat penumpang ketika mencoba berkomunikasi.

"Pernah ada yang mengucapkan terima kasih tapi posisi tangannya tidak tepat. Seharusnya di bawah dagu tapi malah di bibir, jadi saya coba betulkan. Itu lucu tapi senang," ucap Ivan.

 Ilustrasi driver

Tapi memang tak semua penumpang memperlakukannya dengan baik. Ivan pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan. Mulai dari mendapat penumpang yang berperawakan menyeramkan, salah pemahaman dalam berkomunikasi, hingga diolok-olok.

"Kebetulan saya pakai alat bantu dengar jadi sedikit suara bisa masuk. Waktu itu dengar ada penumpang di belakang duduk mengolok-olok, tapi saya tetap jaga etika. Pernah juga waktu ada order pas tahu saya tuli tiba-tiba cancel. Tapi itu dulu, sekarang sih kesadaran mulai ada," pungkas Ivan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini