nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

17,1% Kasus AIDS Indonesia Dialami Anak Muda, Didi Kempot Ikut Sosialisasikan Kesehatan Reproduksi

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 03 Desember 2019 09:23 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 03 481 2137230 17-1-kasus-aids-indonesia-dialami-anak-muda-didi-kempot-ikut-sosialisasikan-kesehatan-reproduksi-vuSnmvHAr8.jpg Ilustrasi (Foto: Huffpost)

Setiap tanggal 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Momen ini pertama kali dicetuskan pada 1988, dan digagas oleh James W. Bunn dan Thomas Netter yang bekerja di bagian informasi Global Programme World Health Organization (WHO).

James percaya, dengan adanya Hari AIDS Sedunia, lambat laun akan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berjuang melawan virus penyebab AIDS, yaitu HIV, sekaligus memberikan dukungan penuh kepada pengidap AIDS, serta mengenang para korban penyakit tersebut.

Namun dalam perkembangannya, mayoritas masyarakat Indonesia masih menganggap remeh atau bahkan tidak peduli terhadap isu kesehatan reproduksi. Tak sedikit pula yang menganggap bahwa topik-topik kesehatan yang menyinggung soal reproduksi dan alat kelamin, masih dianggap tabu untuk dibicarakan.

 Pita

Padahal, informasi mengenai kesehatan reproduksi merupakan hak setiap individu yang harus diperhatikan. Informasi yang tepat juga dapat menanggulangi berbagai risiko seperti kehamilan usia dini, pencegahan berbagai infeksi menular seksual, hingga HIV-AIDS.

Di Indonesia sendiri, kasus perkawinan anak menyentuh angka 37,91% tertinggi kedua di ASEAN. Selain itu, menurut data Riskesdas 2018, setidaknya 33,5% perempuan usia 15-19 tahun hamil di usia muda.

Fakta menarik lainnya, prevalensi HIV di Indonesia saat ini diperkirakan sebanyak 640 ribu jiwa, namun hanya 340 ribu jiwa yang terlapor. Tidak hanya itu, 17.1% kasus HIV di Indonesia yang tercatat selama April hingga Juni 2019, merupakan anak muda berusia 15-24 tahun.

Di sisi lain, ibu rumah tangga saat ini menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap infeksi HIV. Apalagi, angka kematian ibu melahirkan di Indonesia terbilang masih tinggi yaitu 305 per 100 ribu kelahiran.

Melihat fenomena tersebut, DKT Indonesia menggelar konser #BeraniDekat Bersama Didi Kempot dan Guyon Waton di Yogyakarta, sebagai salah satu bentuk edukasi yang dikemas dengan hiburan musikal. Konser ini juga digelar bertepatan dengan peringatan Hari AIDS Sedunia.

Menurut penuturan Ade Maharani, selaku Head of Marketing DKT Indonesia, konser ini merupakan bentuk tanggung jawab pihaknya untuk konsisten mengedukasi kalangan anak muda Indonesia.

"Didi Kempot dan Guyon Waton merupakan musisi lokal yang sangat digemari anak muda saat ini. Oleh karena itu, dengan adanya konser ini kami berharap merangkul anak muda Indonesia untuk bersama-sama sadar dan turut menjaga kesehatan reproduksinya," tutur Ade Maharani, di Stadion Mandala Krida, Yogyakarta.

 Pria menyanyi

Hal senada juga diungkapkan oleh sang maestro campursari, Didi Kempot. Ia mengatakan konser kali ini bukan sekadar hiburan semata, tetapi juga memiliki unsur edukasi kesehatan dan mengajarkan masyarakat untuk tidak lagi mendiskriminasi para pejuang HIV atau ODHA.

"Dengan adanya konser ini, saya berharap sobat Ambyar dapat turut menerapkan gaya hidup sehat untuk meningkatkan kualitas hidup," kata Didi Kempot.

Dalam kesempatan yang sama, DKT Indonesia juga memberikan apresiasi kepada kedua figur inspiratif lokal, yaitu Bidan Ajeng Sulistyaningrum dan juga Puger Mulyono yang berdedikasi bagi kesehatan masyarakat di sekitarnya.

Bidan Ajeng memperjuangkan kesehatan ibu dan anak melalui edukasi KB bagi masyarakat di lereng Merapi. Bidan Ajeng tak kenal lelah melayani masyarakat desa di sekitar Merapi yang terisolir karena ingin melihat anak-anak lereng Merapi tumbuh sehat dan mengurangi angka kematian ibu dan anak di wilayahnya.

Ia rela berjalan kaki di sepanjang pedukuhan Girpasang, Tegal Mulyo, Klaten untuk melayani pasiennya. Padahal, jarak yang ditempuh merupakan daerah bebatuan dan anak tangga yang panjang.

 Pria dan anak-anak

(Foto: BBC Indonesia)

Sementara itu, Puger Mulyono merupakan warga Surakarta yang memiliki profesi sebagai tukang parkir. Ia menyisihkan pendapatannya dan juga mendirikan Yayasan Lentera untuk merawat Anak dengan HIV-AIDS (ADHA).

Di saat orang lain memiliki stigma terhadap anak-anak tersebut, ia rela mengabdikan diri tanpa pamrih untuk anak-anak itu dan hingga membiayai pendidikannya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini