Menjajal Cupcakes Buatan Anak Penyandang Disabilitas

Dewi Kania, Jurnalis · Rabu 04 Desember 2019 18:36 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 04 298 2137958 menjajal-cupcakes-buatan-anak-penyandang-disabilitas-GUjDVlYBX8.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

DI balik keterbatasannya menjadi seorang disabilitas, penyandang down syndrome ternyata punya banyak bakat terpendam. Salah satunya yakni jago bikin aneka kue yang sangat lezat dan dihias sangat cantik.

Pastinya untuk membuat penyandang down syndrome jago baking, butuh peran khusus dari para orangtua, coach, serta banyak pihak yang ada di sekitarnya. Latihan baking pun tak cukup sekali atau dua kali saja dilakukan supaya mereka dapat menjadi baker yang mahir.

Oxone punya program melatih penyandang disabilitas dari Center Of Hope Ikatan Sindroma Down Indonesia untuk berlatih baking dan cooking. Terdapat 24 kali pertemuan selama satu tahun. Saat mengikuti kelas, anak-anak maupun dewasa banyak yang antusias memperhatikan hal apapun yang disampaikan.

Perwakilan Oxone Yennie Kusuma mengatakan, meskipun hidupnya penuh keterbatasan, penyandang down syndrome ini membutuhkan banyak pengetahuan. Bukan sekedar tahu bahan baku, tapi juga harus bisa mengolahnya.

Bukan sekedar tahu bahan baku, tapi juga harus bisa mengolahnya.

"Makanya Oxone support mereka dari Februari 2019. Kami berikan pelatihan masak atau baking sebulan dua kali, selama satu tahun. Anak-anak ini butuh pengetahuan makanan yang gluten free dan tahu gizinya," kata Yennie di Center Of Hope Ikatan Sindroma Down Indonesia kawasan Sunter, Jakarta Utara, Rabu (4/12/2019).

Bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional 2019, Oxone juga mengajak anak-anak disabilitas untuk mengikuti fun baking. Bersama Chef Beatrix, anak-anak diajak untuk membuat cupcake wortel yang harus dihias cantik.

Untuk melatih rasa percaya dirinya, anak-anak disabilitas ini juga harus ikut kompetisi menghias cupcakes. Hasilnya menakjubkan, banyak cupcake yang dihias cantik, rapi dan terdapat detail berdasarkan kreativitasnya.

Hasil dari pelatihan baking ini, menurut Yennie, ternyata bisa membuat para penyandang disabilitas mendapat pesanan kue dari orang lain. Selain jago baking, mereka juga harus melatih kemandirian.

"Mereka bukan anak-anak lagi, mereka harus bisa produksi sesuatu yang mereka mampu. Kami ajarkan bikin sendiri kuenya dan dijual. Sehingga mereka bukan sekedar fun baking, tapi juga membuat mereka independen," ucapnya.

Sebagai bentuk kepeduliannya, Oxone juga mendukung langsung latihan baking atau cooking. Khususnya dari segi penyediaan semua peralatan yang dibutuhkan oleh para penyandang disabilitas saat mendapatkan pesanan kue atau masakan dari orang lain.

Sebagai bentuk kepeduliannya, Oxone juga mendukung langsung latihan baking atau cooking.

Agar mereka dilirik oleh orang di luar sana, maka kesiapan untuk terjun di dapur harus matang. Mereka harus tahu segala peralatan dapur yang dibutuhkan, lalu menguasai tekniknya.

"Kita terus ajarkan rutin agar mereka menjadi orang yang mahir. Kuncinya menguasai tekniknya lebih dulu, baru dilirik orang lain untuk mendapatkan pesanan," imbuh Yennie.

Mendapatkan dukungan yang besar dari Oxone, Pendiri Center of Hope ISDI Aryanti R Yacub juga ikut senang. Dia mengakui kalau anak didiknya mendapatkan kepedulian dari orang lain, berkat kemahirannya di dunia baking dan cooking

Yanti menuturkan, penyandang disabilitas dari Center of Hope ISDI kerap mendapatkan orderan rutin dari pelanggan setiap bulan. Pesanan terbanyak yakni aneka jenis kue kering dengan kemasan yang kecil.

 Anak-anak ini sudah mahir, khususnya buat yang sangat berbakat untuk baking

"Bikin kue kering enggak gampang ya, mereka harus terampil dan teliti. Anak-anak ini sudah mahir, khususnya buat yang sangat berbakat untuk baking," ucap Yanti.

Yanti menambahkan, hasil dari penjualannya 100 persen dikembalikan kepada para penyandang disabilitas, yang sudah membuat pesanan kue. Sehingga, mereka jadi punya usaha kecilan-kecilan, karena bakatnya yang terpendam.

"Apresiasi dari orang lain sangat penting untuk menambah rasa percaya diri mereka. Jangan anggap mereka tidak bisa apa-apa, menjadi duri dalam hidup kita. Mereka sebenarnya terampil dan mau belajar," tutup Yanti.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini