nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hari Disabilitas Sedunia 2019, Ini Tantangan bagi Penyandang Disabilitas Tanah Air

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 04 Desember 2019 09:49 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 12 04 612 2137719 hari-disabilitas-sedunia-2019-ini-tantangan-bagi-penyandang-disabilitas-tanah-air-8X3XWlfOH8.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

Setiap tanggal 3 Desember selalu diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional. Tujuannya adalah memberikan dukungan dan perhatian terhadap perlindungan serta pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas. Tak bisa dipungkiri hingga saat ini masih banyak yang memandang sebelah mata penyandang disabilitas.

Salah satu contohnya adalah ketersediaan lapangan pekerjaan. Kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk mandiri secara ekonomi belum begitu banyak. Mereka masih kesulitan untuk memasuki dunia kerja karena beberapa faktor.

 Perempuan duduk di kursi roda

Mulai dari kurangnya materi komunikasi non-verbal untuk penyandang disabilitas sensorik rungu, kurangnya akses mobilitas yang memadai di banyak fasilitas umum dan transportasi publik, serta terbatasnya kesempatan kerja yang inklusif.

Di kursi pemerintahan sebenarnya sudah ada peraturan untuk mempekerjakan penyandang disabilitas. Hanya saja memang belum begitu signifikan. Masih perlu sosialisasi khususnya ke pemerintah daerah.

"Sebenarnya aturannya itu sudah jelas, namun hanya di pemerintah pusat, di pemerintah daerah belum jalan. Kami sering dianggap suka memohon, kami tidak mau begitu karena sudah ada undang-undang dan pp nya. Kami juga punya kemampuan yang luar biasa," ujar perwakilan dari Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Dadan Kurniawan.

Ditemui Okezone dalam temu media pemaparan #MendobrakSunyi dan layanan GrabGerak, Selasa (3/12/2019), Dadan menyebutkan jika penyandang disabilitas memiliki keahlian yang tak kalah dengan orang lain. Tidak semua penyandang disabilitas selalu meminta pertolongan karena mereka yakin dengan kemampuannya.

"Selagi masih bisa, pasti kami kerjakan. Contoh para penyandang disabilitas tunanetra punya insting yang sangat kuat, lalu tuna daksa yang hanya punya satu tangan bisa memakai dan mencopot jam tangan dengan satu tangan. Kami punya kejujuran," ujar Dadan.

Dirinya juga tak memungkiri bila masih banyak penyandang disabilitas yang membutuhkan pelatihan agar bisa bekerja sesuai kemampuannya. Khususnya bagi penyandang disabilitas di daerah yang belum terjangkau.

"Jadi kami harus tampil di depan teman-teman daerah, mendata siapa yang memerlukan pelatihan. Bikin sesuai dengan minat mereka," kata Dadan. Dirinya juga berharap bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah untuk memberikan pelatihan karena keterbatasan anggaran.

Sementara itu, berbicara soal fasilitas publik untuk penyandang disabilitas, Dadan mengaku turut senang lantaran sudah semakin terakomodasi. Contohnya di Jakarta sudah ada trotoar yang dilengkapi dengan penunjuk bagi tuna netra. Lalu fasilitas umum lain seperti toilet dan tempat parkir.

"Tapi tentu kami berharap tidak hanya di Jakarta saja. Bagaimana caranya di daerah juga harus ikut melengkapi fasilitas karena pasti banyak yang kurang. Kami juga minta kepada teman-teman di daerah untuk melaporkan apabila ada hal-hal yang kurang solidaritas kepada penyandang disabilitas, nantinya akan sinergitas," pungkas Dadan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini