nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gara-Gara 600 Ribu Dokter Ilegal, Ribuan Anak Positif HIV AIDS

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 05 Desember 2019 11:50 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 05 481 2138233 gara-gara-600-ribu-dokter-ilegal-ribuan-anak-positif-hiv-aids-UTsi3rANOh.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PENULARAN HIV AIDS kebanyakan disebabkan oleh seringnya berganti-ganti pasangan saat berhubungan badan. Tidak heran, jika lebih banyak orang dewasa yang terkena HIV AIds ketimbang anak-anak.

Tapi, di sebuah kota kecil di Pakistan seorang anak positif terkena HIV. Awalnya, dokter yang menangani anak ini curiga dengan kondisinya, dia pun melakukan tes HIV.

Selang delapan hari pasca-tes HIV dilakukan, diketahui seribu orang terdiagnosa HIV positif. Hal ini mengungkap tabir bahwa di kota kecil Pakistan tersebut, terjadi epidemik HIV positif yang menimpa anak-anak terbesar di Asia sepanjang sejarah.

Dalam penjelasannya pada BBC, Dokter Muzaffar Ghangro menerangkan bahwa kebanyakan anak-anak di sana terjangkit HIV di usia belum genap 12 tahun. Fakta mengagetkan lainnya ialah tak ditemukan sejarah penyakit HIV di keluarga pasien.

Lokasi wabah terbesar ada di Ratodero. Dr Ghangro sendiri dituduh sebagai penyebar virus HIV tersebut.

Lokasi wabah terbesar ada di Ratodero. Dr Ghangro sendiri dituduh sebagai penyebar virus HIV tersebut. Ia diduga dengan sengaja menyebarkan infeksi HIV pada anak-anak, dan karena tuduhan itu ia dipenjara dengan tuduhan pembunuhan.

Namun, pada BBC, dr Ghangro dengan tegas menampik tuduhan tersebut. "Saya tidak bersalah," tegasnya. Ia melanjutkan, pemerintah hanya menjadikan dirinya kambing hitam pada kasus HIV ini.

Seminggu setelah dr Ghangro ditahan, pemerintah setempat bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tuduhan terhadap dr Ghangro menjadi kelalaian kriminal.

"Saya adalah dokter yang cukup terkenal di kota ini. Saya sudah praktik sejak 10 tahun lalu. Tak pernah ada yang mengeluh ketika saya menggunakan jarum suntuk secara berulang. Praktik yang saya jalani sangat populer, makanya ada pihak yang cemburu dan melayangkan tuduhan tersebut," kata dr Ghangro yang dinayatakan bebas dengan jaminan.

Beberapa kilometer dari lokasi praktik dr Ghangro, tepatnya di desa Subhana Khan, diketahui terdapat 32 anak dengan HIV positif. Kondisi anak-anak di desa ini sangat mengkhawtirkan, mereka bertubuh kurus dan kurang gizi. Bahkan, beberapa pasien terlihat menangis tak henti-henti.

"Saya minta anak saya ditimbang dan diberi vitamin. Tapi, dokter hanya bisa memberi resep. Saya mesti membeli sendiri obat yang diresepkan. Hraganya mahal, saya tak mampu beli," kata seorang ibu dari anak HIV positif.

Perlu Anda ketahui, di Pakistan pun obat HIV diberikan secara gratis oleh pemerintah, namun karena penyakit ini menyerang organ tubuh lain, maka penyakit lain yang ada di tubuh si anak mesti tetap diobati dan ini menjadi masalah.

penyakit lain yang ada di tubuh si anak mesti tetap diobati dan ini menjadi masalah.

Ya, orangtua pasien HIV positif tak memiliki kecukupan dana untuk membeli obat dari penyakit yang muncul akibat HIV. Alhasil, banyak orangtua yang merasa malu dan trauma karena anak mereka mengidap penyakit HIV.

"Masalah begitu berat. Anak saya diasingkan dari lingkungan masyarakat. Mereka tak mau ngobrol, bersalaman, atau sekadar mengunjungi rumah saya. Alasannya. mereka takut tertular," terang si ibu.

Tidak hanya masyarakat, pihak sekolah pun menyarankan agar anak dengan HIV positif tidak terlihat ada di sekitar sekolah. Sekali lagi, dengan alasan takut menularkan penyakit HIV ke anak lain.

Pemerintah mengeluarkan pernyataan bahwa HIV menjadi wabah yang mesti diwaspadai seiring dengan fakta pasien yang terus bertambah. Di sisi lain, seorang dokter bernama Fatima Mir memberikan pernyataan mengenai kondisi kota tersebut.

"Masyarakat di sana panik massal. Diagnosa HIV diartikan dengan kematian, mereka merasa anak-anak ini akan mati hanya dalam waktu beberapa hari," ungkapnya.

 Kasus penyakit itu meningkat hampir dua kali lipat sejak 2010, menjadi 160.000 kasus.

Fakta menjelaskan, Pakistan merupakan salah satu dari 11 negara dengan pasien HIV terbanyak di dunia. Data ini dikeluarkan PBB pada Juli 2019. Nahas, kurang dari separuh pasien tak menyadari penyakit yang mereka derita. Kasus penyakit itu meningkat hampir dua kali lipat sejak 2010, menjadi 160.000 kasus.

Pakistan diketahui memiliki tingkat injeksi per kapita tertinggi di dunia dan 95 persen di antaranya tidak dibutuhkan. Hal ini dianggap menjadi salah satu faktor risiko penyebaran HIV di negara tersebut.

Seperti yang diterangkan Menteri Kesehatan Pakistan Azra Pechuho, injeksi tersebut merupakan faktor penyebab tertinggi bagi penyebaran penyakit yang menular lewat darah seperti Hepatitis C dan HIV/AIDS. "Kami akan mengatasi masalah ini secara efektif," janji Menteri Pechuho.

Diketahui sekira 600.000 dokter tak bersertifikasi melakukan praktik ilegal di seluruh Pakistan. Jadi, banyak rumah sakit dokter menjalankan praktik secara tidak etis. Mereka abai pada kesejahteraan pasien.

"Mereka memberi injeksi, bahkan ketika tidak dibutuhkan. Ini untuk pemecahan instan. Lebih banyak injeksi, lebih besar risiko penyebab infeksi. Fakta penggunaan jarum suntuk berulang pun menjadi kekhawatiran terbesar," tambahnya.

Tidak beraninya pasien HIV positif melakukan tes lebih lanjut menjadi hal yang memperburuk kondisi. Masyarakat yang tidak suportif pun menjadi alasan mereka menutupi status kesehatannya itu.

Tidak beraninya pasien HIV positif melakukan tes lebih lanjut menjadi hal yang memperburuk kondisi.

Namun, dr Mir berharap bahwa kasus HIV positif anak di Ratodero bisa menjadi pengingat sekaligus upaya kesadaran masyarakat akan bahaya HIV.

"Diam atau menyembunyikan status HIV tidak akan menghilangkan penyakit itu sendiri. Malah, dengan tidak memberitahu akan membuat penyakit ini semakin mewabah dan lebih kuat," tegasnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini