Tak Hanya Mewarnai, Meluruskan Rambut Tingkatkan Risiko Kanker Payudara

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 05 Desember 2019 18:02 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 05 481 2138392 tak-hanya-mewarnai-meluruskan-rambut-tingkatkan-risiko-kanker-payudara-AS9o85MFdu.jpg Ilustrasi (Foto : Independent)

Mewarnai rambut telah lama dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Kini penelitian terbaru semakin menguatkan temuan tersebut. Bahkan tak cuma mewarnai, meluruskan rambut dengan bahan kimia juga memiliki risiko yang sama.

Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Cancer mengatakan, perempuan yang secara teratur menggunakan pewarna rambut permanen dapat meningkatkan risiko kanker payudara hingga 60 persen. Temuan ini didasarkan pada catatan medis lebih dari 45 ribu perempuan. Peneliti menemukan korelasi positif antara pewarnaan rambut permanen dengan kanker payudara, terutama di kalangan perempuan berkulit hitam.

Penelitian ini dilakukan atas dasar pola dan tren. Sayangnya dalam laporan tidak ada data yang mengonfirmasi penyebab langsung pewarnaan rambut dengan kanker. Peneliti hanya mengatakan ada kemungkin kandungan karsinogen di dalam pewarna rambut.

"Hasilnya tidak mengejutkan saya. Banyak yang khawatir jika bahan kimia terutama pewarna rambut permanen dan pelurus rambut berpotensi menyebabkan kanker," ujar Otis W. Brawley selaku ahli onkologi medis dan ahli epidemiologi di Hopkins-Kimmel Cancer Center seperti yang Okezone kutip dari Newsweek, Kamis (5/12/2019).

mewarnai

Dalam penelitian dikatakan, perempuan yang secara teratur mewarnai rambut meningkatkan risiko terkena kanker payudara sebesar 9 persen. Namun, untuk wanita kulit hitam, risiko secara signifikan lebih tinggi yaitu 45 persen. Peningkatan risiko jauh lebih tinggi lagi, hingga 60 persen, pada perempuan kulit hitam yang mewarnai rambut sekali atau lebih dalam kurun waktu 5-8 minggu.

Sedangkan untuk perempuan kulit putih, peningkatan risiko kanker payudara karena mewarnai rambut sebanyak 7 persen untuk penggunaan reguler dan 8 persen untuk penggunaan berat. Di sisi lain, tampak perbedaan peningkatan risiko berdasarkan jenis pewarna rambut yang digunakan.

Pewarna rambut gelap dikaitkan dengan peningkatan risiko sebanyak 51 persen pada perempuan kulit hitam dan 8 persen pada perempuan kulit putih. Sementara pewarna rambut terang meningkatkan risiko kanker payudara sebanyak 46 persen pada perempuan kulit hitam dan 12 persen pada perempuan kulit putih. Belum ada variasi rasial yang jelas, tetapi para peneliti menduga hal ini berkaitan dengan cara penggunaan dan pemasaran.

Lurusin Rambut

Penulis penelitian merujuk penelitian sebelumnya yang menunjukkan pewarna yang dibuat untuk perempuan kulit hitam dapat memiliki tingkat bahan kimia pengganggu endokrin yang lebih tinggi .

"Perempuan kulit hitam sudah terbukti peningkatan risiko kanker payudara yang jelas. Saya yakin penelitian ini memberi kami cukup bukti untuk menyerukan uji coba prospektif untuk secara khusus melihat faktor penyebab lain. Saya juga akan memperingatkan pasien tentang adanya kemungkinan hubungan antara pewarna rambut dengan kanker, meskipun diperlukan lebih banyak penelitian," ujar Stephanie Bernik, MD selaku Kepala Bedah Payudara di Mount Sinai West di New York.

Selain pewarna rambut, hasil penelitian juga menemukan korelasi yang signifikan antara risiko kanker payudara dengan pelurus rambut kimia. Peningkatan risikonya sebesar 30 persen pada perempuan yang menggunakan pelurus rambut kimia setiap 5-8 minggu atau lebih. Tapi temuan ini masih memerlukan dukungan dari penelitian lain.

Kepala Cabang Epidemiologi NIEHS, Dale Sandler, Ph.D., yang terlibat dalam penelitian ini.menunjukkan sejumlah bahan kimia karsinogenik lainnya yang secara teratur dapat terpapar. Hal ini membuat Brawley menyarankan perempuan menggunakan pewarna rambut dan pelurus rambut kimia dengan sangat hati-hati.

Lurusin Rambut

"Saya juga menegaskan kombinasi dari obesitas, mengonsumsi terlalu banyak kalori, dan kurangnya aktivitas fisik memiliki risiko relatif lebih tinggi untuk kanker payudara pada perempuan kulit hitam dan putih," pungkas Brawley yang juga mantan Kepala Staf Medis dan Ilmiah dari American Cancer Society.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini