nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Pasien Diabetes, Jalani Pengobatan Alternatif Lalu Kembali ke Dokter

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 07 Desember 2019 12:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 07 481 2139055 kisah-pasien-diabetes-jalani-pengobatan-alternatif-lalu-kembali-ke-dokter-c8UmUCKWKD.jpg Ilustrasi. Foto: Istimewa

BEBERAPA orang memilih pengobatan alternatif untuk memperoleh kesembuhan, sebab dinilai lebih aman dan bisa memberikan dampak yang lebih baik karena obatnya terbuat dari aneka bahan herbal atau tumbuhan alami.

Salah satu yang memilih menjalani pengobatan alternatif adalah Robert (nama samaran), penderita diabetes. Sebelumnya ia ditangani oleh dokter di rumah sakit.

Robert telah mengidap diabetes sejak 1998, tepatnya setelah pensiun dari pekerjaanya sebagai seorang karyawan swasta. Ia awalnya tidak menyadari bahwa dirinya mengidap diabetes, sampai kemudian Robert merasa ada hal yang aneh pada tubuhnya ketika hampir pingsan saat beraktivitas.

Ilustrasi. Foto: Shutterstock 

Setelah memeriksakan diri ke rumah sakit, diketahui kadar gula darah Robert mencapai 400. Angka tersebut termasuk sangat tinggi dan bisa menyebabkan kolaps. Setelah tahu positif menderita diabetes, ia pun langsung berkonsultasi ke dokter yang memberikan resep obat untuk menjaga gula darahnya.

Ilustrasi. Foto: Istimewa 

Lebih dari sembilan tahun lamanya Robert terus mengonsumsi obat-obatan dari dokter, hingga akhirnya ia merasa khawatir obat kimia tersebut dapat merusak ginjalnya. Oleh karena itu ia berusaha mencari pengobatan alternatif untuk menyembuhkan diabetesnya. Robert pergi mengunjungi shinshe di daerah Kali Mati, Pademangan, Jakarta Utara.

Setelah menemui shinshe, kaki Robert pun diperiksa menggunakan alat tradisional yang berasal dari Negeri Tirai Bambu. Shinshe memintanya untuk menjelaskan kondisi tubuh yang kerap ia rasakan selama mengalami diabetes.

Usai berkonsultasi, Robert mendapat pijatan sederhana pada bagian tangannya untuk memperlancar aliran darah dalam tubuhnya.

"Waktu itu shinshe mengeluarkan alat seperti kayu gitu, bentuknya tumpul lalu ditekankan ke kaki. Abis itu tangan saya juga seperti dipijat dengan teknik akupresur untuk memperlancar peredaran darah,” ujarnya kepada Okezone, Jumat (6/12/2019).

Usai berkonsultasi mengenai semua keluhannya, sang shinshe mengeluarkan jamu racikan yang terdiri dari beberapa tumbuhan kering. Selain itu ada juga beberapa jenis rempah-rempah yang telah dibungkus sesuai dengan takaran yang diperlukan setiap harinya. Sebagian besar herbal dari shinse tersebut merupakan jamu godok yang rasanya sangat pahit.

“Saya lupa-lupa ingat waktu itu isinya apa saja, yang jelas ada sambiloto kering (tumbuhan yang rasanya sangat pahit), tanaman kering lainnya yang bentuknya mirip dengan serutan kayu, aneka rempah-rempah, dan kismis kering. Semuanya digodok dalam panci dan diminum dua kali sehari pagi dan malam sebelum makan,” ucap Robert.

Setelah menjalani pengobatan alternatif selama 1,5 tahun lamanya, Robert merasakan tubuhnya telah mengalami perubahan, badannya lebih bugar. Sayang keterbatasan ekonomi membuat Robert menghentikan pengobatannya alternatifnya dan memutuskan untuk kembali menuju jalan medis sesuai dengan petunjuk dokter.

“Saya berhenti menjalani pengobatan alternatif karena biayanya cukup mahal. Pada 2007, sekali konsultasi dan diberi ramuan dari shinshe untuk masa pakai dua minggu bisa habis Rp300 ribuan. Memang badan jadi lebih bugar, tapi proses penurunan kadar gula darahnya lebih lambat dibandingkan obat kimia. Jadi saya pilih berobat kembali ke dokter,” tambahnya.

Hingga saat ini Robert masih menjalani pengobatan diabetes dan pengecekan rutin sesuai dengan anjuran dokter. Terlebih saat ini penyakit diabetes sudah masuk dalam tanggungan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

“Saat ini kan ada BPJS, jadi daripada repot mending periksa saja di rumah sakit dekat rumah. Enggak perlu biaya tambahan dan pelayanannya juga baik,” tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini