nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Salah Tiru Gaya Hidup Orang Luar Negeri, Prevalensi Penyakit Kritis di Masyarakat Bertambah

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 11 Desember 2019 20:18 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 11 481 2140813 salah-tiru-gaya-hidup-orang-luar-negeri-prevalensi-penyakit-kritis-di-masyarakat-bertambah-fhiS94116E.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Prevalensi penyakit kritis di Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Penyakit kritis yang paling banyak dialami oleh masyarakat antara lain penyakit sindrom metabolik seperti jantung, stroke, dan diabetes, serta kanker. Penyakit-penyakit ini bisa dipicu oleh gaya hidup yang tidak sehat.

"Gaya hidup itu sebenarnya salah satu faktor risiko, bukan berarti penyebab. Tapi semakin banyak faktor risikonya, risiko terkena penyakit kritis semakin besar. Ya memang gaya hidup turut memengaruhi," ujar praktisi kesehatan, dr Rizal Alaydrus saat ditemui Okezone dalam acara konferensi media Peluncuran AXA Critical Elite Solution & AXA Health Day, Rabu (11/12/2019) di Jakarta.

Menurut dr Rizal, sekarang ini banyak masyarakat Tanah Air yang gaya hidupnya terpengaruh dengan budaya masyarakat luar. Sayangnya yang kebanyakan ditiru adalah gaya hidup yang tidak sehat. Akibatnya dapat memicu terjadinya penyakit kritis.

 Perempuan makan

"Maaf saja, pengaruh gaya hidup dari luar itu cukup banyak tapi proses skrining atau pencegahan penyakit kritis belum sebaik mereka," kata dr Rizal.

Dirinya menjelaskan, masyarakat di luar negeri sudah menyadari cara mencegah penyakit kritis harus dengan menerapkan gaya hidup sehat. Mereka biasanya akan bangun di pagi hari, lalu pukul 5 atau 6 pagi sudah berada di pusat kebugaran dan berolahraga. Selain itu, mereka lebih mementingkan jalan kaki, naik sepeda, atau naik kendaraan umum.

"Di masyarakat kita malah yang diikuti lifestyle (gaya hidup) yang buruk seperti makan junk food, minum alkohol, merokok, hingga maaf hubungan seksual bebas. Padahal yang harusnya dicontoh adalah good lifestyle habbit-nya," ucap dr Rizal.

Ia menekankan, penyakit kritis menyebabkan multi effect. Tak hanya ke pasien tapi juga keluarganya. Ambil contoh biaya pengobatan pasien kanker yang sangat tinggi.

Biaya yang dikeluarkan oleh pasien umum untuk pengobatan, radioterapi, kemoterapi, dan sebagainya bisa mencapai minimal Rp200 juta. Apabila pasien tidak mampu, biaya pengobatan tentu menjadi beban.

"Contoh dulu di Makassar saya pernah tahu ada pasien yang didiagnosis terkena kanker nasofaring. Lalu dia mengumpulkan semua keluarga dan bertemu dengan dokter. Mereka bertanya soal harapan hidup dan biaya yang harus dikeluarkan," ujar dr Rizal.

Dirinya menambahkan, "dokter mengatakan harapan hidup pasien hanya 9 bulan dan biaya yang dikeluarkan adalah sekian ratus juta. Mendengar pernyataan dokter, akhirnya pasien memilih pulang dan tidak melanjutkan pengobatan."

Beban finansial untuk mengobati penyakit kritis akan berdampak ke keluarga. Apabila tidak ada biaya untuk mengobati penyakit pasien, maka penanganannya terlambat. Di sisi lain, pasien tentu tidak mau keluarganya kesulitan membiayai pengobatannya.

"Hal ini bisa memengaruhi kondisi psikis pasien karena merasa buat apa pembiayaan penyakit malah membuat keluarganya kesulitan atau jatuh miskin. Tentunya pengaruh psikis ini juga dapat memperburuk kondisi pasien," pungkas dr Rizal.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini