nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kenangan Manis Shinta Dewi, Istri Nugie saat Jadi Pramugari Maskapai Asing

Suherni, Jurnalis · Minggu 15 Desember 2019 19:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 15 612 2142186 kenangan-manis-shinta-dewi-istri-nugie-saat-jadi-pramugari-maskapai-asing-1PetH8fLtN.jpg Shinta Dewi curhat jadi pramugari. (Foto: Instagram)

MENJADI seorang pramugari itu banyak suka dan dukanya. Istri Nugie, Shinta Dewi berbagi pengalaman seru saat dia bekerja menjadi pramugari.

Shinta Dewi merupakan mantan pramugari Singapore Airlines. Dia pun bercerita bagaimana prosesnya mendaftar menjadi pramugari serta pengalamannya saat terbang.

Shinta bergabung di Singapore Airlines dari tahun 1996. Dia harus melewati proses penyaringan yang panjang, khususnya lebih banyak di interview.

 shinta dewi curhat jadi pramugari

"Jadi aku melalui beberapa kali interview mulai dari keramaian banyaknya yang interview sekitar empat orang interview. Kemudian tersisa sekitar dua orang dan yang terakhir satu orang dan kita dites berenang," kata Shinta.

Dalam tes tersebut, sambungnya, semua calon pramugari dilihat apakah bisa berenang atau tidak. Namun tahapan ini, menurut Shinta tidaklah berpengaruh terhadap nilai.

Di sisi lain, Shinta juga harus melewati tahap pengecekan adanya tato di tubuh masing-masing calon pramugari. Jangankan tato di kulit, calon pramugari yang ketahuan pakai tato alis saja tidak lolos.

Setelah lulus, kemudian baru masuk ke langkah yang berikutnya, namanya medical check up. Sama halnya dengan orang yang sedang melakukan medical chek up saja, karena memang Shinta bakal menjadi tenaga kerja asing yang tinggal di Singapura.

“Setelah aku selesai tes wawancara dan medical check up apakah ada tato atau tidak, bisa berenang atau tidak, dan cara berjalan kita, percaya diri atau tidak. Kemudian aku menunggu hasil tersebut," katanya.

Shinta ingat betul karena pada waktu proses menunggu hasil tes, pada 9 Mei 1996 bertepatan dengan wafatnya almarhum ibu tiri Soeharto. Dia pun berangkat ke Singapura pada Agustus 1996.

Dia menuturkan, pengalaman semua pramugari itu pasti sama. Mulai dari melayani penumpang dari segi kesulitan dan kemudahan. Shinta sendiri berbagi pengalaman yang menyenangkan.

"Sudah pasti kita bisa ada kesempatan selama bekerja kita bisa keluar negeri. Karena saya bukan kerja domestik, jadi pengalaman saya mungkin sama seperti pramugari-pramugari di seluruh dunia,” kata dia

shinta dewi curhat jadi pramugari

Tak menutup kemungkinan, Shinta juga pernah mengalami hal buruk selama menjadi pramugari. Shinta pernah mengalami dua kali keadaan yang mencekam, tetapi bukan dalam keadaan sedang melaksanakan tugas di dalam pesawat.

"Jadi dulu kan ada kasus penembakan di airport Los Angeles, waktu itu saya berada di situ. Pada saat berada di counter airlines, suara tembakan sangat kencang," bebernya.

Kemudian, semua orang langsung dievakuasi sampai akhirnya kita dilarikan ke pesawat. Pramugari harus tetap bekerja profesional. Dia harus menunggu penumpang, karena pada saat itu pesawat tidak boleh ada aktivitas. (dwk)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini