nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Suka Duka Cherry Menjadi Pramugari di Maskapai Internasional

Tiara Putri, Jurnalis · Selasa 17 Desember 2019 16:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 17 612 2142948 suka-duka-cherry-menjadi-pramugari-di-maskapai-internasional-7dY1rP5Nl2.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Setiap pekerjaan tentu memiliki pengalaman suka dan duka. Begitu juga dengan profesi pramugari yang ditekuni oleh Cherry (bukan nama sebenarnya). Menjadi pramugari maskapai internasional selama kurang lebih 5 tahun, sudah banyak pengalaman yang didapatkan olehnya.

Kepada Okezone, Cherry mengungkapkan beberapa pengalaman yang didapatkan selama menjadi pramugari. Mulai dari mendapatkan berbagai macam benefit dari perusahaan tempat bekerja hingga kesempatan keliling dunia tanpa mengeluarkan biaya.

"Sukanya bisa jalan-jalan ke banyak negara, bisa lihat kayak apa sih di Afrika, di Amerika, dan lainnya. Selain itu, Alhamdulillah banyak benefit yang aku terima, mulai dari fasilitas tempat tinggal, transport, asuransi kesehatan, serta akomodasi di tempat kami tinggal seperti biaya listrik dan air enggak perlu bayar," ujar Cherry saat diwawancara melalui pesan singkat belum lama ini.

 Infografis

Berbicara soal pendapatan, perempuan berusia 28 tahun itu mengakui bila gaji yang diterimanya sebagai pramugari maskapai internasional lebih tinggi dibandingkan dengan pramugari maskapai lokal.

"Aku sih enggak tahu kisaran gaji pramugari maskapai lokal. Tapi menurut teman yang pernah kerja di maskapai lokal bedanya kurang lebih bisa 2-3 kali lipat di atasnya. Selain itu, di maskapai tempat aku kerja dapat gaji pokok ditambah uang jam terbang dan uang makan kalau lagi terbang dengan layover," kata Cherry.

Dijelaskan olehnya, setiap bulan gaji pramugari yang diterimanya bisa beda-beda, tergantung dengan jam terbangnya dan waktu layover. Dalam sebulan, Cherry bisa terbang 80-100 jam. Namun bila jadwal penerbangan sedang padat, dirinya bertugas lebih dari 100 jam.

Selanjutnya tentang kesempatan mengunjungi berbagai negara, Cherry mendapatkan keistimewaan karena dirinya tidak perlu mengurus visa. Tapi kesempatan itu didapatkan apabila ia memang bertugas dalam rute penerbangan tertentu. Sedangkan bila ingin jalan-jalan sendiri, dirinya tetap harus memiliki visa.

"Biasanya kalau overrating flight enggak perlu visa. Kami dikasih kertas gitu sama perusahaan, di situ tertulis nama pilot, pramugara dan pramugari, serta awak kabin yang bertugas. Kertas itu semacam visa," kata Cherry.

 Di pesawat

Apabila waktu layover lumayan lama, perempuan yang pernah kuliah di jurusan komunikasi itu akan memanfaatkannya untuk berjalan-jalan di negara yang ia singgahi.

"Tergantung dari layovernya, ada yang cuma 12 jam. Tapi ada juga yang lumayan lama sampai 3 hari," ujar Cherry.

Di sisi lain, pengalaman paling berkesan menurut Cherry adalah saat penumpang mengapresiasi pelayanan yang diberikan olehnya. Baginya itu lebih berharga dibanding semua keuntungan yang didapatkan menjadi pramugari.

Sementara itu, Cherry juga mengungkapkan pengalaman duka yang didapatkannya selama menjadi pramugari.

"Dukanya sih pasti kangen rumah, apalagi kalau lagi sakit. Terus di awal waktu baru sampai, melewati masa-masa training, masa-masa awal terbang itu rasanya berat banget karena enggak bisa kumpul sama keluarga. Beruntung teman-teman Indonesia yang ada di sini saling support," kata Cherry.

Mendapat dukungan dari teman-teman sejawat membuatnya serasa memiliki keluarga baru. Terlebih Cherry bertemu bukan hanya teman dari Tanah Air saja. Bekerja sebagai pramugari maskapai internasional membuatnya bertemu dengan banyak teman yang berbeda kewarganegaraan.

"Senang sih bisa kerja sama orang dari mana-mana, beda kewarganegaraan. Memang awal-awal lebih banyak diam dan observatif. Tapi sekarang sih udah mulai terbiasa," pungkas Cherry.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini