Ini Faktor Pemicu Banyak Ular Kobra Nekat Masuki Permukiman Warga

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 17 Desember 2019 18:13 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 17 612 2143058 ini-faktor-pemicu-banyak-ular-kobra-nekat-masuki-pemukiman-warga-UuIku5yRk8.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Fenomena kemunculan ular kobra masuk ke pemukiman warga Depok, Jawa Barat, hingga saat ini masih menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen Indonesia. Pemerintah Kota Depok bahkan telah mengambil sikap akan mengerahkan intelijen daerah untuk mengungkap faktor-faktor yang memicu terjadinya fenomena tersebut.

Santer beredar kabar bahwa, fenomena ini merupakan buntut dari pembangunan yang masif di kawasan Depok, Jawa Barat. Terkait hal ini, Averroes Oktaliza, selaku anggota Perhimpunan Herpetologi Indonesia menjelaskan secara gamblang beberapa faktor yang memicu kemunculan ular kobra di pemukiman warga.

Menurut pria yang akrab disapa Ave itu, fenomena tersebut tidak terlepas dari momentum peralihan cuaca dari musim pancaroba memasuki musim hujan. Pasalnya, di awal musim hujan inilah telur-telur ular kobra mulai menetas dari sarangnya.

 Binatang melata

"Mereka biasanya bertelur sebelum memasuki pancaroba, dan di musim hujan inilah musimnya ular kobra menetas. Jadi banyak ular-ular yang keluar dari sarangnya, bahkan sampai ditemukan di pemukiman warga," terang Ave saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Selasa (17/12/2019).

Ave menambahkan, fenomena ini juga berkaitan erat dengan masifnya tingkat pembangunan di daerah Depok, Jawa Barat. Banyak sekali kluster-kluster atau perumahan baru yang dibangun di kawasan dan pinggiran sungai.

Padahal, sungai merupakan salah satu habitat utama sebagian besar hewan liar termasuk ular. Maraknya pembangunan di daerah ini secara tidak langsung memengaruhi ekosistem mereka.

"Pembangunan di pinggiran sungai itu otomatis mengganggu ekosistem hewan liar. Salah satunya mengurangi populasi garangan jawa yang notabennya merupakan predator alami si ular," tegas Ave.

"Di Depok kan banyak kawasan di pinggiran sungai dibetonisasi dan diturap untuk mencegah longsor dan dijadikan pemukiman. Akibatnya, garangan jadi kesulitan untuk berkembang biak, alhasil populasinya menurun. Kalau sudah demikian, maka populasi ularlah yang akan meningkat karena rantai makanannya terganggu," tambahnya.

Bicara soal maraknya ular kobra memasuki pemukiman warga, Ave tidak memungkiri bahwa ular sejatinya termasuk salah satu jenis hewan liar yang habitatnya dekat dengan manusia. Khususnya ular kobra.

Bukan tanpa alasan, ular kobra disinyalir sebagai satu-satunya jenis ular atau reptil yang paling berani bersinggungan dengan manusia.

"Dibandingkan ular lain, kobra itu punya defensive behavior. Dia kalau ada yang mengancam tidak langsung lari seperti ular lainnya, tapi dia langsung berdiri. Kalau sudah benar-benar terancam dia akan langsung menyemburkan bisa yang 90% di antaranya pasti akan mengenai bagian mata," kata Ave.

Lebih lanjut, Ave menjelaskan, ketika musim hujan tiba, kebanyakan ular akan mencari tempat yang hangat untuk memperlancar sistem metabolisme tubuhnya. Namun mengingat habitatnya kini sudah sangat berkurang, pemukiman wargalah yang menjadi sasaran mereka.

"Ular itu kan hewan berdarah dingin. Maksudnya, mereka membutuhkan tempat yang hangat untuk memperlancar metabolisme setelah menyantap makanan," ungkap Ave.

"Ditambah lagi, di pemumikan warga itu kan banyak mangsa mereka (tikus), sehingga mau tidak mau mereka akan semakin berani memasuki pemukiman warga," tandasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini