Dunia Seni Rupa Semakin Digandrungi Milenial, Ini Alasannya

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 17 Desember 2019 23:48 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 17 612 2143186 dunia-seni-rupa-semakin-digandrungi-milenial-ini-alasannya-pE6fnEamuZ.jpg Karya seni Rubi Roesli (Foto: rubiroesli/Instagram)

Sikap dan perilaku masyarakat Indonesia dalam mengapresiasi karya seni dinilai telah mengalami pergeseran. Jika dulu karya seni selalu diidentikkan sebagai produk yang mewah dan ekslusif, paradigma tersebut saat ini ternyata telah berubah total.

Karya seni rupa kini menjadi sebuah produk inklusif yang bisa dinikmati oleh semua kalangan, tak terkecuali generasi milenial. Hal tersebut dijelaskan secara gamblang oleh, Rubi Roesli seorang arsitek yang kini berkecimpung di dunia seni modern.

 Karya seni

"Sekarang ada sebuah istilah kalau seni itu inklusif. Dulu kan hanya orang yang punya duit yang bisa menikmati atau punya lukisan. Sekarang semua orang bisa melakukan dan merasakan. Kesempatan untuk mendapatkan apresiasinya pun lebih terbuka," terang Rubi saat ditemui Okezone, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Rubi mengatakan, masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial mulai menerima seni karena bidang ini dekat dengan experience. Contohnya, sekarang sudah banyak karya-karya seni yang diciptakan dari perpaduan ide kreatif dengan teknologi.

Dari kedua kombinasi tersebut, kemudian menghasilkan pengalaman atau experience baru yang bisa langsung dirasakan oleh para penikmat seni. Salah satunya karya seni yang mengusung konsep tiga dimensi (3D), seperti instalasi seri ke tujuh hasil karya Rubi yang ia beri judul 'Resonansi'.

"Karya saya memang berseri, kebetulan yang sekarang ini judulnya resonansi. Mengingat latar belakang saya sebagai seorang arsitek, saya selalu berbicara tentang ruang. Ruang itu cakupannya luas karena juga didukung oleh beberapa elemen penting seperti cahaya," ungkapnya.

Bahan-bahan yang digunakan Rubi untuk membuat karya ini pun terbilang unik. Ia memadukan benang yang telah diatur sesuai dengan ciri khas problem solving ala arsitek, kemudian dikombinasikan lagi dengan penggunaan projector.

 Arsitek

Dalam hal ini, projector berfungsi memantulkan cahaya ke arah rangkaian benang-benang tersebut, sehingga membuat tampilannya menjadi lebih sempurna dan 'hidup'.

"Penggunaan tali atau benang itu memang ide saya untuk keluar dari kebiasaan-kebiasaan arsitektur, tetapi pemikiran dan problem solvingnya masih sama. Dan karya tiga dimensi seperti ini cukup menarik minat anak-anak muda, karena menyuguhkan pengalaman tersendiri," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rubi juga sempat membocorkan keiikutsertaanyan dalam acara Future of Tomorrow yang akan diselenggarakan di Eighty Nine Eatery and Coffee, Kemang, Jakarta Selatan, pada 20 Desember mendatang.

Pada event tersebut, Rubi rencananya akan mendirikan sebuah instalasi tiga dimensi berukuran besar yang tidak kalah menarik dengan 'Resonansi'.

"Untuk acara nanti, instalasi yang akan saya bangun tingginya sampai 5 meter. Pokoknya sangat menarik. Apalagi dipadukan dengan musik upbeat, sehingga menghasilan nuansa yang baru bagi perkembangan industri seni kita," terang Rubi.

"Harapan saya, semoga ke depannya akan semakin banyak lagi event-event seni untuk mewadahi talenta-talenta seniman Tanah Air. Sehingga akan memunculkan talenta-talenta baru dan juga membuka kesempatan untuk berkolaborasi," tandasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini