Kaleidoskop 2019, Teror Cacar Monyet

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 18 Desember 2019 10:39 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 18 481 2143296 kaleidoskop-2019-teror-cacar-monyet-nbX1uzpKYu.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PADA pertengahan tahun lalu, dunia digegerkan dengan wabah monkeypox atau biasa disebut dengan cacar monyet yang teridentifikasi di negara tetangga, Singapura. Kehadiran penyakit yang dianggap sudah punah ini memang membuat heboh apalagi Indonesia, sebagai negara tetangga.

Pemerintah pun turun tangan untuk mencegah cacar monyet agar masuk ke tanah air. Lantas, bagaimana perjalanan cacar monyet yang sempat menggemparkan masyarakat pada 2019, berikut ulasannya.

Kasus cacar monyet ini pertama kali teridentifikasi di Singapura. Pasiennya pun seorang perempuan asal Nigeria, berusia 38 tahun. Tentunya, penemuan ini menggegerkan beberapa daerah tetangga Singapura, mengingat cacar monyet merupakan penyakit yang kerap menimpa negara di benua Afrika.

atau mengonsumsi daging binatang yang sudah terkontaminasi.

Perempuan yang tidak diketahui namanya itu diduga telah memakan daging yang mengandung virus cacar monyet, sebelum berada di Singapura.

Cacar monyet disebabkan akibat virus yang ditularkan melalui binatang (zoonosis). Biasanya terjadi karena kontak dengan monyet, tikus gambia dan tupai, atau mengonsumsi daging binatang yang sudah terkontaminasi.

Sementara penularannya dapat terjadi melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, atau lesi pada kulit atau mukosa dari binatang yang tertular virus.

Sampai di Singapura pada April 2019, dia pun segera dirawat di bangsal isolasi National Center for Infectious Diseases (NCID) setelah diketahui mengidap cacar monyet.

Selain wanita tersebut, otoritas Singapura juga memerika kerabat yang berada di sekitar perempuan tersebut. Bahkan, mereka juga harus menjalani masa karantina, meskipun tidak memiliki gejala cacar monyet.

Kejadian cacar monyet di Singapura ini pun membuat Pemerintah Indonesia langsung mengambil sikap, meskipun Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) menyatakan penyakit ini belum sampai di Indonesia.

terjadi kejadian luar biasa (KLB) pada manusia pertama kali di Republik Demokratik Kongo.

Pasalnya, cacar monyet pernah menjadi Kasus Luar Biasa (KLB) di beberapa wilayah. Pada 1970, terjadi kejadian luar biasa (KLB) pada manusia pertama kali di Republik Demokratik Kongo.

Pada 2003, kasus ini dilaporkan muncul di Amerika Serikat akibat riwayat kontak manusia dengan binatang peliharaan prairie dog, yang terinfeksi oleh tikus Afrika yang masuk ke Amerika. Sementara itu pada 2017 penyakit ini pernah menjadi KLB di Nigeria.

Ciri umum seseorang mengalami gejala cacar monyet adalah demam tinggi yang mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit. Masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala), cacar monyet biasanya 6-16 hari, tetapi dapat berkisar dari 5-21 hari.

Gejala lain yang timbul dari cacar monyet adalah demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas.

Selain itu, penderita cacar monyet juga akan mengalami ruam pada kulit muncul pada wajah, kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya.

penderita cacar monyet juga akan mengalami ruam pada kulit muncul pada wajah,

Ruam ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar (makulopapula), lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras. Biasanya diperlukan waktu hingga tiga minggu sampai ruam tersebut menghilang.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. Anung Sugihantono, MKes mengatakan tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia bagi para penderita yang terinfeksi cacar monyet.

Namun, pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul. Penderita cacar monyet bisa sembuh dengan sendirinya dengan gejala yang berlangsung selama 14-21 hari.

Dokter Anung meminta Dinas Kesehatan, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), rumah sakit, dan Puskesmas untuk mewaspadai penyakit tersebut. Dokter Anung menyebut Batam memiliki potensi yang paling tinggi terkena wabah cacar monyet, karena letaknya yang berdekatan dengan Singapura.

Ia mengimbau dinkes dan UPT Kemenkes di sana (KKP, RS, Puskesmas) untuk waspada. Terutama KKP yang menjadi pintu keluar masuk warga negara Singapura.

Terutama KKP yang menjadi pintu keluar masuk warga negara Singapura.

KKP pun diminta untuk menyebarluaskan informasi bahaya cacar monyet kepada masyarakat. Caranya yakni melakukan pengawasan yang lebih intensif kepada kru dan pelaku perjalanan dari Singapura, negara-negara Afrika Barat, dan Afrika Tengah.

Senada dengan dr. Anung, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti meminta manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), dan seluruh Puskesmas di Ibu Kota untuk memberi edukasi atau pendidikan pencegahan kepada warga, agar tak terjangkit penyakit tersebut. Langkah itu merupakan solusi terbaik untuk mencegah datangnya virus cacar monyet.

Untungnya, hingga saat ini kasus cacar monyet belum menyerang satu pun wilayah di Tanah Air. Dekan Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor (FKH IPB), Srihadi Agungpriyono menyebut penyakit ini memang belum menyerang hewan, sehingga dikategorikan eksotik.

Meski demikian, ia berharap otoritas veteriner, sebagai pengawas hewan membuat kebijakan tentang tindakan-tindakan preventif terkait masuknya hewan-hewan, terutama rodensia dan 'exotic pet' dari negara endemik cacar monyet.

Selain itu komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) terhadap masyarakat harus segera disusun dalam rangka meredam keresahan dan kekhawatiran masyarakat tentang penyakit ini.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini