Anak Sering Diuap Pakai Nebulizer saat Batuk dan Pilek, Waspadai Risiko Buruknya

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 19 Desember 2019 08:58 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 19 481 2143692 anak-sering-diuap-pakai-nebulizer-saat-batuk-dan-pilek-waspadai-risiko-buruknya-eIABM6XEDE.jpg Ilustrasi (Foto : Verywell)

Saat anak terserang batuk dan pilek yang parah, para Moms langsung mengandalkan nebulizer. Banyak yang percaya dengan sugesti, kalau si kecil menghirup uap obat dari nebulizer, bakal cepat sembuh dari sakitnya.

Batuk adalah suatu respon normal pada anak. Sama halnya saat bersin dan produksi lendir berlebihan. Ternyata Moms, penggunaan nebulizer itu tidak boleh sembarangan dan terlalu sering lho. Bukannya sembuh dari batuk dan pilek, yang ada malah terkena efek sampingnya.

Spesialis Anak dr Eugenia Pertami, SpA menegaskan, tidak semua batuk dan pilek harus diuap. Indikasi yang diperbolehkan uap itu pada kasus serangan asma.

anak batuk

"Ketika asma terjadi penyempitan saluran napas, gunanya dari obat uap (inhalasi) fungsinya melebarkan saluran napas," ucap Dokter Tami dijumpai di Acara Peluncuran Mommy Time Essential Oil di kawasan Gunawarman, Jakarta Selatan, Rabu 18 Desember 2019.

Kalau tidak terjadi serangan asma, biasanya dokter memberikan nasal spray. Nah, saat terjadi serangan asma barulah dokter menyarankan untuk memakai nebulizer.

Dia menambahkan, kalau anak mengalami batuk tanpa ada penyempitan saluran napas, biasa tidak perlu diuap. Karena ada efek sampingnya yang bisa dialami si kecil saat diuap.

Meskipun mampu melegakan saluran napas, di sisi lain saat anak diuap, organ tubuh lainnya bisa mengganggu. Misalnya terjadi kontraksi pembuluh darah, gangguan organ jantung, hingga tekanan mata bertambah.

anak batuk

"Karena pembuluh darah kontraksi atau menyempit, jadi gampang deg-degan gelisah, juga tekanan bola mata meningkat," ungkapnya.

Rupanya, sambung Dokter Tami, efek samping tersebut bisa muncul karena kandungan obat yang dipakai ke dalam nebulizer. Misalnya adalah obat salbutamol, merupakan golongan beta agonis fungsinya untuk melebarkan pembuluh darah yang sedang bengkak.

Ada juga obat dengan kandungan ipratitoprium bromida, masuk golongan obat-obatan antikolinergik. Obat tersebut diklaim dapat meningkatkan denyut jantung, tensi dan sakit kepala.

Selain mengandalkan nebulizer, tutur Dokter Tami, penanganan batuk yang tepat yakni menggunakan obat lain, seperti yang mengandung mukolitik. Fungsinya yakni untuk mengencerkan dahak yang susah dikeluarkan.

nebulizer

"Kalau batuk biasanya ada partikel asing di saluran napas. Jadi tidak semata-mata lendir ada banyak, lalu langsung uap," beber Dokter Tami.

Atau kalau mau lebih simpel lagi, Anda bisa memakai obat cuci hidung. Isinya berupa larutan hipertonik, yang dapat bersihkan saluran pernapasan atas.

"Sediannya ada yang tetes dan semprot. Selain mengencerkan lendir, obat ini dapat juga menbersihkan lendir dan lebih aman," pungkasnya.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini