nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengetahuan Ibu Indonesia Soal Laktasi Ternyata Masih Rendah

Pradita Ananda, Jurnalis · Jum'at 20 Desember 2019 17:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 12 20 481 2144352 pengetahuan-ibu-indonesia-soal-laktasi-ternyata-masih-rendah-8QDnm5uYgW.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Peringatan Hari Ibu di Indonesia setiap tanggal 22 Desember siap disambut hanya dalam waktu dua hari lagi.

Terkait dengan perayaan Hari Ibu di Indonesia yang cukup kuat gaungnya, namun tahukah Anda bahwa kenyataannya tingkat pengetahuan dasar, tepatnya pengetahuan soal laktasi ibu di Indonesia masih rendah?

Rendahnya pengetahuan ibu-ibu di Indonesia soal laktasi ini, mengacu pada fakta setelah lebih 15 tahun cakupan ASI eksklusif nasional dan perilaku laktasi ibu Indonesia, terutama ibu pekerja, tidak menunjukkan perbaikan signifikan.

 Ibu dan anak

Dalam penelitian terbaru berjudul Breastfeeding Knowledge, Attitude, and Practice among White-Collar and Blue-Collar Workers in Indonesia yang dipublikasikan di jurnal internasional JKMS 2019 menunjukkan bahwa sebagian besar ibu pekerja di Indonesia masih memiliki pengetahuan dan perilaku yang kurang baik terhadap menyusui.

Menurut peneliti Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK dari ILUNI Kedokteran Kerja FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), menyatakan kalangan ibu pekerja yang dimaksud oleh hasil penelitian di atas, sebagian besar adalah para ibu yang bekerja sebagai buruh.

“Lebih dari 70 persen ibu Indonesia yang merupakan pekerja buruh dan sedang masa menyusui, sama sekali tidak mengerti bahwa menyusui merupakan perilaku sehat yang bisa bermanfaat bagi tumbuh kembang bayi dan juga kesehatan ibu itu sendiri,” ungkap dr. Ray yang ditemui, Jumat (20/12/2019) dalam acara ‘Media Briefing Kualitas Pengetahuan dan Perilaku Laktasi Ibu’ di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Tapi jangan salah, meski secara persentase rendahnya tingkat pengetahuan ini disumbang besar oleh kaum ibu yang bekerja sebagai buruh. Ibu-ibu yang bekerja sebagai pegawai kantoran pun, sebagian besar diungkapkan dr. Ray juga belum memahami hak tentang laktasi yang dimiliki oleh seorang perempuan pekerja yang sudah menjadi ibu.

 Ibu dan anak

“Bahkan hampir 50 persen ibu Indonesia menyusui yang bekerja di kantoran juga belum tahu bahwa peraturan pemerintah bisa melindungi mereka untuk bisa bebas menyusui atau memompa ASI di kantor tanpa harus takut mendapat sanksi,” imbuh dr. Ray.

Dalam kesempatan yang sama, dokter yang juga merupakan pendiri dan ketua dari Health Collaborative Center ini memaparkan kenyataan menyedihkan tentang pengetahuan laktasi ibu-ibu Indonesia.

Pasalnya, temuan dan kondisi terkait rendahnya pengetahuan ibu tentang laktasi ini masih mirip dengan temuan-temuan pada penelitian mengenai laktasi sejak lebih dari satu dekade lalu.

Artinya tidak ada peningkatan pengetahuan dan kualitas perilaku laktasi di kalangan ibu-ibu di Indonesia, terutama ibu pekerja. Padahal dari segi perkembangan teknologi informasi dan digital di Indonesia terlihat semakin banyak yang vokal soal isu menyusui dan laktasi.

Tetapi kenyataannya, masih kurang efektif meningkatkan pengetahuan laktasi para ibu di Indonesia, sehingga tidak mengherankan perilaku menyusui juga tidak secara signifikan membaik.

“Tidak ada peningkatan ini bisa terlihat dari status cakupan ASI eksklusif di Indonesia yang juga tidak meningkat secara signifikan. Hasil Riskesdas 2003 hingga 2018 prevalens ASI eksklusif nasional itu hanya berkisar antara 32persen hingga 38 persen, jadi dalam 15 tahun cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih jalan di tempat, di situ-situ saja. Sangat jauh dari target nasional kita yaitu di titik 80persen,” tegas dr. Ray.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini