Keterlambatan Vaksin HPV Anak Bisa Sebabkan Kanker Serviks Merajalela

Dewi Kania, Jurnalis · Senin 23 Desember 2019 15:08 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 23 481 2145167 keterlambatan-vaksin-hpv-anak-bisa-sebabkan-kanker-serviks-merajalela-sah7mwaEih.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

TERLAMBATNYA pemberian vaksinasi Human Papilloma Virus (HPV) kepada anak perempuan di wilayah percontohan, membuat banyak dokter mempertanyakan komitmen pemerintah. Seharusnya pada 2019 anak-anak sudah mendapatkan vaksin HPV dosis kedua yang bisa mencegah risiko kanker serviks.

Karena terlambat, sekira 120.000 anak perempuan terancam tidak mendapat vaksinasi HPV lanjutan. Kondisi ini disayangkan Ketua Satuan Tugas Imunisasi Prof Dr Cissy B. Kartasasmita, Msc, PhD, SpA(K).

Prof Cissy menerangkan, lewat penelitian keampuhan vaksin HPV terbukti melawan serangan HPV, sehingga dapat mencegah kanker serviks. Pasalnya, vaksin HPV punya antibodi yang kuat dalam melawan virus saat masuk ke tubuh.

Pasalnya, vaksin HPV punya antibodi yang kuat dalam melawan virus saat masuk ke tubuh.

"Virus ini adalah virus umum yang ditemukan di mana-mana dengan lebih dari 130 tipe dengan keganasan yang berbeda. Adapun tipe HPV yang paling ganas dapat menyebabkan terjadinya kanker serviks," tutur Prof Cissy.

Berdasarkan penelitian, proteksi maksimal bisa didapat melalui pencegahan primer berupa vaksinasi yang bisa mulai dilakukan pada anak berusia 9 tahun. Antibodi melawan virus HPV akan terbentuk lebih maksimal jika vaksinasi diberikan sejak dini.

Adapun teori kerja vaksin, lanjut Prof Cissy, suntikan pertama bekerja untuk menghasilkan sel memori dalam tubuh. Sel memori akan bereaksi ketika diberikan vaksinasi lanjutan sehingga ketika virusnya masuk, tubuh bisa langsung mengeluarkan antibodi untuk melawan.

Vaksin HPV yang diberikan dalam program ini adalah yang dapat melindungi tubuh dari empat tipe HPV (tipe 6, 11, 16, dan 18). Vaksin ini pun telah mendapat sertifikat Halal dari Islamic Food and Nutrition Council of America (IFANCA), yang juga telah diakui oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

"Kalau memang vaksinasi dianggap penting, seharusnya keterlambatan ini tidak terjadi,” ucap Prof Cissy.

Di Indonesia, terdapat proyek percontohan vakinasi HPV, pertama kali dilakukan di Jakarta pada 2016. Lalu pada 2018 pemerintah melanjutkannya menjadi program percontohan vaksinasi dengan menyasar para siswi kelas 5 SD dan sederajat di lima daerah yaitu Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Manado.

lima daerah yaitu Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Manado.

Seharusnya pada November kemarin, vaksinasi HPV dosis kedua dilakukan. Ini sesuai dengan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa vaksinasi HPV untuk anak perempuan berusia 9-13 tahun dilakukan sebanyak dua kali.

“Kita berharapnya keterlambatan ini jangan berlarut-larut. Kalau memang sudah masuk program Kementrian Kesehatan, seharusnya ada pergantian mentri atau dirjen, programnya tetap harus jalan," sambungnya.

 Anggota DPR Fraksi IX drg Putih Sari pun membeberkan penyebab keterlambatan pelaksanaan vaksinasi dosis kedua ini. Salah satunya ditengarai karena adanya perubahan mekanisme pengadaan di Kementerian Kesehatan.

“Kelihatannya ada perubahan kebijakan-kebijakan menteri baru yang memengaruhi pelaksanaan program, tidak hanya vaksin HPV tapi juga pengadaan obat yang kemudian tertunda,” ucap Putih Sari.

karena adanya perubahan mekanisme pengadaan di Kementerian Kesehatan.

Komisi IX tidak memberi batas waktu agar pelaksanaannya bisa segera dilakukan. Tapi Putih Sari menegaskan DPR RI akan terus mengawal proyek percontohan ini. “Kami sudah mengingatkan agar segera terlaksana. Karena kasihan juga anak-anak kalau sampai terlambat nanti jadi tidak efektif dan mubazir," imbuhnya.

Data Globocan 2018 dan 2012 menunjukkan insiden kanker serviks di Indonesia yang terus meningkat. Saat ini Indonesia menjadi negara dengan insiden kanker serviks tertinggi di Asia, bahkan lebih dari 50 persen di antaranya meninggal dunia.

Berbagai studi menunjukkan, vaksinasi HPV yang dilakukan secara nasional efektif menekan terjadinya kanker serviks. Seperti apa yang dilakukan di Amerika Serikat dan Australia misalnya.

Kedua negara ini berhasil menurunkan insiden kanker serviks secara signifikan sampai 75 persen setelah menjalankan program vaksinasi HPV secara nasional sejak 10 tahun belakangan.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini