nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Saksi Hidup Tsunami Aceh 2004, Diingatkan Taubat Sebelum Diterjang Gelombang

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 26 Desember 2019 20:13 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 12 26 612 2146385 cerita-saksi-hidup-tsunami-aceh-2004-diingatkan-taubat-sebelum-diterjang-gelombang-DGHRAmtdlp.JPG Cerita saksi hidup Tsunami Aceh 2004 (Foto : Sukardi/Okezone)

Bencana tsunami terbesar di abad-21 terjadi 15 tahun lalu. Ya, Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 menelan korban hingga 200 ribu jiwa. Duka tersebut tak akan pernah hilang dan jadi sejarah bagi Bangsa Indonesia.

Tsunami Aceh 15 tahun lalu bukan hanya menghancurkan daratan tapi juga mental. Tapi, Aceh sekarang terus bangkit dan berusaha lebih baik dari sebelumnya. Penduduk di sana pun terus bangkit dan menggapai mimpi mereka.

Duka tsunami 15 tahun lalu tapinya masih terasa sampai sekarang oleh Almuniza Kamal. Ya, pria asli Aceh ini menjadi salah seorang korban selamat dari musibah dahsyat tersebut. Al, sapaan akrabnya, masih mengingat banyak momen mencekam tersebut.

Di peringatan 15 tahun tsunami Aceh yang digelar SOS Children's Villages di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia Jakarta, Kamis (26/12/2019), Al menceritakan ulang bagaimana kejadian itu terjadi. Al membuka kembali buku kepahitan dalam hidupnya yang mungkin sudah ia larutkan bersama dengan kembalinya air pasang ke lautan bebas.

saksi hidup

Di awal cerita, Al menuturkan bahwa sehari sebelum kejadian terjadi, tepatnya pada 25 Desember 2004 malam hari, ia dan adik perempuan berusaha untuk berebut bisa tidur di pangkuan sang ibu. Tapi, karena ia seorang kakak, akhirnya ia mengalah.

Esok harinya, setelah salat Subuh, Al bersih-bersih rumah. Kemudian, dia teringat akan rencana menjenguk sahabatnya. Al yang kala itu berusia 21 tahun, akhirnya pamit dari rumah pergi ke rumah sahabatnya.

Dalam perjalanan menuju rumah sahabat, Al sempatkan mampir ke toko serba ada untuk membeli 2 kg jeruk dan cokelat yang niatnya akan diberikan untuk anak sahabatnya.

Nah, jam menunjukan pukul 8 pagi setelah ia kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah sahabatnya. Di tengah perjalanan, ia merasakan gempa, tepatnya di Simpang Mesra. Motor yang ia kendarai pun mesti menepi.

"Di Aceh, gempa itu sudah kami anggap biasa. Makanya, saat gempa di 26 Desember 2004 pagi, saya nggak mikir akan bagaimana-bagaimana," katanya.

Setelah kembali melanjutkan perjalanan, tiba-tiba Al bertemu dengan seorang kakek berwajah khas pria Aceh naik becak motor. Ia sambil teriak berucap,

"Hai aneuk-aneuk lon

Segera taubat

Hana trep le kiamat, Hana trep le kiamat"

Yang artinya,

"Hai anak-anakku,

Bergegaslah kalian untuk taubat

Tak lama lagi akan kiamat, tak lama lagi akan kiamat"

Pernyataan ini keluar dari mulut kakek bersorban putih dan berpakaian serba putih dengan sangat lantang. Sambil mengendarai becak motor itu, si kakek terus mengucapkan kalimat tersebut.

Anehnya, kata Al, saat dicari lagi, kakek tersebut tidak ada. Entah ke mana perginya, tapi Al yakin betul kalimat itu yang diucapkan si kakek dan sampai sekarang terngiang di otaknya.

"Sayangnya saya lupa bagaimana wajah pasti si kakek, tapi sekilas, ya, seperti pria Aceh kebanyakan, berkulit sawo matang," ungkapnya sedih.

Al yang sadar dengan ucapan si kakek hanya bisa terdiam. Namun, beberapa respons orang yang ia lihat setelah mendengar perkataan si kakek malah seperti tidak memerdulikannya.

Nah, lima menit setelah Al mendengar ucapan si kakek yang sangat kencang, gelombang pasang atau yang biasa disebut orang Aceh dengan nama 'Ibena' datang dan langsung menghanyutkan dataran. Langit Aceh mendadak sangat hitam.

Al pun ikut hanyut terbawa arus. Terpontang-panting tubuhnya di dalam gelombang besar tersebut. Dia pasrah apa pun yang akan terjadi setelah ini. Beberapa waktu kemudian ia menabrak pohon kelapa dan ia berpegangan di pohon tersebut dan berhasil menyelamatkan diri. Ia pun coba memanjat sampai puncak pohon kelapa.

Dari atas pohon, Al melihat daratan itu berubah jadi lautan. Banyak mayat yang mengapung, perabotan rumah dan kayu-kayu bangunan pun ikut hanyut terbawa arus. Di posisi ini, Al kemudian hanya bisa terdiam.

Ya, dia terdiam karena semua memori buruk selama dia hidup muncul kembali. Kenakalan remaja yang pernah ia lakukan muncul di pikiran dan ia hanya ingin selamat dan tetap hidup.

Masih di atas pohon, Al berucap dalam hati sesuatu yang buruk. "Saya berpikir, saya sudah di tempat paling tinggi, saya sudah aman," ucap Al di dalam hatinya.

saksi hidup

Tapi, beberapa detik setelah itu, gelombang kedua datang. Seketika tubuh Al yang sudah mulai tak bertenaga kembali terbawa arus. Ia pasrah tapi berdoa dalam hati.

"Ya Allah, berikan saya umur sedikit lagi biar saya bertaubat. Ya Allah, izinkan saya bertaubat. Ampun ya Allah," ucapnya sambil terombang-ambing.

Kepasrahan Al pada Allah SWT mendatangkan mukjizat. Ya, menurut penuturan Al, tiba-tiba saja dari atas ada yang menariknya dan ia bisa mengambil napas setelah sebelumnya hanyut.

Saat kepalanya sudah ada di atas gelombang, ia melihat ada kasur yang hanyut. Ia langsung berusaha meraih kasur tersebut dan naik ke atasnya.

Tapi, setelah berhasil naik di atas kasur, ia dibuat kaget dengan adanya ular dan kalajengking di atas kasur tersebut. Dua hewan menakutkan itu pun bagi Al sedang ketakutan juga.

"Di momen itu, saya bisa paham bagaimana rasanya ketakutan ditemani dengan hewan buas yang sedang ketakutan juga," katanya.

Saat berada di atas kasur, Al menjelaskan kalau dirinya telanjang bulat. Ia tak tahu bagaimana pakaiannya bisa lepas, tapi ia juga melihat mayat yang mengapung pun tak mengenakan pakaian sama sekali. Jadi, saat tahu dirinya tak berbusana, Al biasa saja.

Perlahan, air surut dan ia pun selamat dari hantaman gelombang tersebut. Tubuhnya terdampar di suatu tempat dan ia berjalan kaki ke suatu perkampungan dengan telanjang bulat. Setelah ada warga yang selamat dan melihat Al yang tak mengenakan pakaian, Al pun diberikan sarung.

"Setelah itu, saya harus mengungsi selama seminggu," pungkasnya.

saksi hidup

Terkait dengan keluarga yang masih tersisa, Al menjelaskan bahwa di dalam keluarganya yang tak ditemukan jenazahnya adalah ibu dan adik perempuannya. Ya, sosok yang sebelum tsunami Aceh terjadi, orang yang diajak berkomunikasi oleh Al.

"Yang selamat itu aku, ayahku, dan adik laki-lakiku. Tapi, ibu dan adik perempuanku tak ditemukan jenazahnya," ungkap Al mengharu biru. (hel) 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini