nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Asal-Usul Tas Kulit Buaya Keluaran Rumah Mode Dunia

Pradita Ananda, Jurnalis · Senin 30 Desember 2019 13:32 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 12 30 194 2147383 asal-usul-tas-kulit-buaya-keluaran-rumah-mode-dunia-szll3eKy9e.jpg Asal-usul tas kulit buaya keluaran rumah mode dunia (Foto : SCMP)

Sebagian dari kita mungkin tidak terlalu familiar dengan sosok William Belo, pemilik perusahaan Wilcon Depot yang bisa dibilang mendominasi Filipina. Namun siapa sangka, ternyata William adalah sosok penting di balik tas-tas kulit buaya keluaran rumah mode mewah dunia.

Sebab William adalah salah satu sosok pemasok kulit buaya ke rumah mode kenamaan dunia, contohnya LVMH, Louis Vuitton. Sebelum menjadi pemasok kulit buaya untuk dijadikan sebagai tas kulit keluaran Louis Vuitton.

Awalnya, William memang sudah merupakan enterpreneur sukses. Sampai suatu ketika pada 1989 silam, ia memutuskan untuk menggeluti perternakan ayam-telur sebagai kegiatannya di akhir pekan.

Sampai akhirnya di pertengan tahun 1990-an, ia harus mencari solusi untuk menangani ayam-ayam yang tidak lagi bisa bertelur. Sebelum menjadikan buaya sebagai solusi, awalnya William sempat terpikir untuk menjadikan ayam-ayam yang sudah tua dan tidak bisa lagi bertelur itu sebagai makanan macan.

Tapi setelah mengetahui bahwa ada satu peternakan konservasi buaya di provinsi Palawan ingin menjual sebagian dari persediaannya. Akhirnya William memutuskan untuk membeli sekira 1200 ekor buaya dalam kurun waktu tiga tahun. Rencana William yang awalnya hanya ingin mempunyai peternakan kecil yang menghasilkan telur, untuk dikonsumsi pribadi jadi berkembang besar.

“Rencana saya adalah hanya memiliki peternakan dengan sejumlah kecil hewan dan telur segar untuk konsumsi pribadi hingga akhirnya berkembang mengarah ke yang lain. Kami membawa buaya untuk diberi makan, menggunakan ayam yang tidak kami butuhkan,” ujar William.

Buaya

Sekarang, di peternakan buaya miliknya William telah memiliki sekitra 23.000 ekor buaya. Kulit ribuan ekor buaya ini digunakan untuk dipasok ke rumah-rumah mode ternama dunia, salah satunya LVMH, Louis Vuitton. Dalam satu tahun, William bisa menjual sekira 2ribu hingga 3ribu kulit buaya, dimulai dari harga USD200 sekira Rp2,7juta sampai USD250 atau kurang lebih Rp3,4 juta per ekor.

Selain menjadi tas kulit, daging buaya dapat diolah menjadi berbagai produk makanan, salah satunya sosis Hongaria dan hidangan lokal populer yang disebut sisig. Produk makanan dengan daging buaya dari peternakan buaya milik William ini sendiri, dijual dengan nama merek Dundee.

Sekarang, William memiliki dua peternakan buaya. Pertama yang seluas 10hektar dipakai untuk pembibitan. Sedangkan yang satunya lagi, dengan luas sekitar 70hektar dipakai pemusnahan dan pengelolaan limbah hewan.

Buaya

Menjadi pemasok kulit buaya untuk rumah mode dunia, di sisi lain William mengaku bahwa sebetulnya industri yang ia geluti ini susah untuk dijadikan lebih besar lagi karena berbagai faktor. Mulai dari soal izin hingga perkawinan sedarah antar buaya.

“Sulit untuk mengubah ini menjadi skala industri yang lebih besar karena makanan bisa sangat mahal dan ada masalah perkawinan sedarah yang mempengaruhi kualitas kulit. Selain itu, tidak diizinkan membawa buaya dari negara lain untuk memperbaiki perkawinan sedarah dan ada beberapa yang tersisa di alam liar,” pungkas William.

Buaya

Meskipun demikian, usaha yang dijalankan William ini disebutkan tetap berjalan dengan baik dengan adanya dorongan infrastruktur yang digiatkan oleh pemerintah Filipina. Demikian seperti dilansir Southchinamorningpost, Senin (30/12/2019).

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini