Ternyata Banjir Dapat Pengaruhi Kesehatan Mental, Kok Bisa?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 02 Januari 2020 19:24 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 02 481 2148641 ternyata-banjir-dapat-pengaruhi-kesehatan-mental-kok-bisa-xlt3lXTBYH.JPG Banjir Jakarta (Foto: Okezone)

Bencana banjir yang tengah menimpa warga Jabodetabek perlu disikapi serius. Bukan hanya soal penataan kota dan sungai, tetapi juga masalah kesehatan.

Ya, masalah kesehatan yang dialami korban banjir harus menjadi prioritas sekarang. Penyakit seperti liptospirosis, diare, hingga demam tinggi adalah masalah yang banyak dialami korban banjir.

Selain itu, banjir juga ternyata memengaruhi kesehatan mental. Hal ini dijelaskan Praktisi Emotional Healing Adjie Santosoputro bahwa bukan hanya banjir sejujurnya, tetapi bencana alam lainnya. Nah, apa saja masalah kesehatan mental yang bisa muncul pada korban banjir?

Banjir Jakarta

Adjie menjelaskan, masalah kesehatan mental ini bisa dalam bentuk yang beragam. Dia mencontohkan banjir yang ternyata menggangu zona nyaman yang sudah terbentuk selama ini, termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pokok seperti makan, air, rumah, atau pakaian. "Kondisi itu ternyata dapat memunculkan rasa panik," tulisnya dalam Twitter pribadinya.

Kemudian, untuk menjaga keselamatan nyawa, pemerintah akan meminta semua korban banjir mematikan arus listrik. Di sisi lain, manusia sekarang sudah sangat tergantung dengan listrik, jadi saat banjir mereka akan merasa kehilangan.

Terlebih pada malam hari, sambung Adjie, korban banjir akan semakin memunculkan rasa kesepian, terisolasi, atau juga keterasingan.

Lebih lanjut, World Health Organization (WHO) memberi pernyataan bahwa banjir menyebabkan berbagai masalah kesehatan fisik. Sebut saja demam tifus, kolera, leptospirosis, sampai hepatitis A. "Karena adanya potensi ini, memunculkan rasa cemas yang berlebihan pada korban," terangnya.

Selain menyebabkan panik dan cemas, banjir juga dapat memengaruhi meningkatnya perasaan takut atau insecure. Hal ini diterangkan Adjie karena banjir membuat korban meninggalkan rumah yang mereka anggap aman.

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk membantu memulihkan kondisi mental bagi korban kebanjiran? Adjie menerangkan, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan mental adalah dengan menghangatkan kembali hubungan antar manusia. Karena manusia adalah makhluk sosial, cara tersebut dianggap bisa mengurai masalah.

Selain menghangatkan kembali hubungan dengan manusia, Adjie juga menyarankan perlu upaya internal pengelolaan emosi dan ketenangan batin supaya kondisi korban tidak semakin buruk. 

"Kehadiran dan keterhubungan secara nyata antar manusia punya daya begitu kuat untuk menjaga kewarasan kita apalagi dalam situasi yang kian sulit seperti sekarang. Berniat untuk merawat kesehatan mental? Berlatihlah untuk perbaiki kehadiran dan keterhubungan nyata dengan orang sekitar," paparnya.

Kemudian, bagaimana jika Anda ingin memperbaiki kehadiran dengan orang sekitar yang mungkin sebelumnya renggang? "Perbaikan ini bisa dengan saat ngobrol, jangan tatap ponsel. Dengerin dengan sepenuh hati. Selain itu, perbaiki keterhubungan juga dengan mengurangi marah, kurangi benci dan tambah cinta kasih," kata Adjie.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini