Kisah Perjuangan Seorang Ibu Jadi Pemulung Demi Sekolahkan Anak-anaknya

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 03 Januari 2020 22:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 03 196 2148978 kisah-perjuangan-seorang-ibu-jadi-pemulung-demi-sekolahkan-anak-anaknya-YuoKDwMHwA.jpg Perjuangan ibu jadi pemulung (Foto: Sinar Harian)

Hampir setiap ibu akan berjuang keras agar anak-anaknya dapat hidup dengan layak. Begitu juga dengan seorang ibu dari Malaysia bernama Rahimah Dollah.

Sebagai seorang ibu, Rahimah rela bekerja sebagai pemulung demi mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Namun pekerjaan sebagai pemulung sering kali dipandang sebelah mata.

 pemulung

Terlebih pemulung biasanya mengambil sisa dan barang bekas. Namun pekerjaan itu jauh lebih baik dibanding mendapatkan rezeki dengan mencuri maupun melakukan tindak kejahatan. Rahimah pun tidak malu menekuni pekerjaan tersebut asalkan anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

Dilansir dari World of Buzz, Jumat (3/1/2019), perempuan berusia 54 tahun itu telah mengumpulkan barang bekas sejak 2003. Rahimah berjuang keras untuk membesarkan ketiga anaknya.

Meskipun mendapat cemoohan dari banyak orang, ia memilih untuk mengabaikan semua itu dan tetap tekun dalam pekerjaannya.

Alhamdulillah, usaha Rahimah tidak sia-sia. Perempuan asal Rantau Panjang itu berhasil menyekolahkan ketiga anaknya hingga ke jenjang pendidikan perguruan tinggi. Anak-anaknya pun selalu mendapatkan nilai yang sangat baik dalam setiap ujian. Tentu hal itu membuatnya merasa bahagia.

Rahimah menceritakan awal mula dirinya menjadi pemulung. Berdasarkan penuturannya, semua itu dilakukan karena ingin membantu almarhum suaminya menambah penghasilan. Sebab saat itu mendiang suaminya bekerja di desa dan penghasilannya tak cukup untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

“Pada waktu itu, saya sangat ingin membeli susu karena anak-anak lapar. Saya perlu menunggu suami pulang pada malam hari untuk memberikan uang agar bisa membeli susu. Tetapi kadang-kadang, ia tidak punya cukup uang,” kata Rahimah.

Ia menjelaskan, “Saya mulai mengumpulkan sisa-sisa barang seperti botol, kaleng, dan lain-lain di sekitar lingkungan tempat tinggal. Pada waktu itu saya berhasil menjualnya seharga hampir RM50 (Rp169 ribu) dan menggunakan uang tersebut untuk membeli susu serta makanan anak-anak.”

Pukulan berat terjadi pada 2010 ketika suaminya Che Hassan Mohamed yang merupakan pencari nafkah tunggal meninggal karena kanker tiroid. Rahimah terus mengumpulkan sisa makanan seperti botol, kotak, dan barang-barang lainnya untuk membesarkan ketiga anaknya termasuk untuk menyekolahkan mereka.

Ia bekerja keras walau orang-orang memandang rendah pekerjaannya. Bahkan ia harus berjalan sejauh 30 km sambil mendorong gerobak setiap harinya untuk mengumpulkan barang bekas.

Terkadang Rahimah memilih mengendarai sepeda karena sudah tak sekuat sebelumnya untuk mendorong gerobak. Usahanya pun tak sia-sia. Dua anaknya berhasil kuliah di universitas ternama. Putra sulungnya, Zainal Abidin Che Hassan, 25 tahun, mengambil jurusan Mekatronik di Universitas Kuala Lumpur (UniKL).

Sedangkan putri keduanya yakni Siti Zaitun, 18 tahun, sedang mengejar A-Level di Perguruan Tinggi Majlis Amanah Rakyat (Mara), Kuala Nerang.

Sedangkan anak terkecilnya, Zainal Asyraf Che Hassan, 16 tahun, masih belajar di sekolah menengah. Perjuangan Rahimah terbayar sudah sebab anak-anaknya sangat memahami perjuangan ibunya dengan belajar keras dan berprestasi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini