Kisah Tak Terlupakan tentang Penyelamatan Mereka yang Terjebak Banjir

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Sabtu 04 Januari 2020 20:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 04 612 2149307 kisah-tak-terlupakan-tentang-penyelamatan-mereka-yang-terjebak-banjir-jEi0DGjrOf.jpg Ilustrasi. Foto: Istimewa

BANJIR yang menerjang kawasan Tangerang pada awal 2020 menyisakan pengalaman yang tak akan terlupakan bagi salah satu korban, yakni Hendy Yudhistira warga Perumahan Wisma Tajur, Pondok Kacang, Tangerang. Bagaimana tidak, bantuan tak kunjung datang ketika ia dan keluarganya serta sejumlah tetangga terjebak dan kelaparan di lantai dua hunian.

Kepada Okezone, Hendy mengatakan kala itu Rabu 1 Januari 2020, air sudah setinggi sekira 2,5 meter. Lalu karena regu penolong tak kunjung datang, ia nekat menerjang banjir untuk meminta bantuan.

Hendy melapor kepada petugas, namun sepertinya perahu karet yang dimiliki Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Tim SAR sedang sibuk mengevakuasi warga lain.

Bahkan ketika diminta pertolongan untuk mengirim makanan, petugas tidak sempat karena evakuasi di tempat berbeda sedang berlangsung. “Jadi perahu itu hanya menjemput orang-orang yang ada di luar kompleks," ucap Hendy.

Terjebak Banjir. Foto: Istimewa 

Dalam kondisi seperti itu ia mencoba berfikir cepat. Ia tak punya waktu untuk menunggu karena di rumah-rumah permukimannya terdapat ibu hamil, anak kecil, dan orang sakit yang sedang kelaparan dan menunggu bantuan. "Ada anak-anak dan ibu hamil yang terjebak banjir,” ucap Hendy.

Selanjutnya Hendy terus ke sana-sini mencari informasi bantuan, dan akhirnya diketahui ada tetangga yang menghubungi keluarga di luar kompleks. Keluarga tetangga tersebut memiliki dua perahu yang merupakan fasilitas dari kantornya.

Terjebak Banjir. Foto: Istimewa 

Hendy pun mengajak para pemuda dari kompleksnya untuk melakukan peminjaman, kemudian menjalankan evakuasi korban banjir secara mandiri. Ia mengatakan satu perahu digunakan untuk evakuasi, sementara perahu satu lagi yang lebih kecil untuk membawa logistik atau makanan.

“Perahu kecil tersebut membawa logistik makanan, akhirnya kami baru bisa makan sekira pukul 22.00 WIB, itu pun dikirim secara mandiri dari kantor anaknya kerabat. Ibu hamil baru kemudian dievakuasi bersama anak kecil dan orang sakit juga,” tutur Hendy.

Dalam proses perjuangannya melakukan evakuasi, ternyata tidak semua warga ikut ke perahu. Sebagian memilih bertahan di lantai dua rumah masing-masing dengan alasan menjaga barang-barang dari maling.

Alhasil Hendy dan para pemuda lainnya kembali menerjang banjir untuk membeli persediaan logistik bagi warga yang tetap tinggal tersebut.

“Fokusnya beli makanan berat seperti nasi warteg sama air minum yang dibanyakin. Untuk pembagian logistik secara mandiri dilakukan pada 2 Januari 2020 mulai dari pagi hari dan baru berakhir sekira pukul 16.00 WIB. Hingga per 2 Januari 2020 debit air banjir masih setinggi dada orang dewasa,” tuturnya.

Lebih lanjut Hendy menjelaskan, warga dan dirinya khawatir kemalingan karena pada masa bencana banjir tahun-tahun sebelumnya, banyak rumah yang kemalingan. Perumahannya dirasa potensial disasar begundal karena mayoritas penghuninya sudah sepuh, usia 50-60 tahunan.

“Jadi kompleks ini juga sudah cukup tua dan saya sendiri tinggal di sini sudah 30 tahunan dan rata-rata orangnya sudah sepuh. Mereka tidak mau meninggalkan rumah karena banjir di tahun sebelumnya banyak maling yang masuk lewat seberang sungai,” tuturnya.

Dalam upayanya melakukan evakuasi mandiri, Hendy mengalami sedikit kecelakaan kecil. Kakinya mengalami luka sobek karena terkena benda tajam. Meski demikian ia mengaku senang karena bisa menolong memberikan logistik kepada sekira 15 anggota keluarga.

“Di rumah ini ada sekira empat remaja dan kita gantian untuk bolak balik. Kita keliling dan memberikan logistik sekira 15 rumah. Kaki saya terluka pada saat mengambil logistik setelah menginjak sesuatu, mungkin beling karena kami enggak pakai alas kaki, semuanya nyeker,” tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini