nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mitos dan Pernikahan Dini, Alasan SKM untuk Bayi Marak di Daerah

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 08 Januari 2020 11:39 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 08 298 2150552 mitos-dan-pernikahan-dini-alasan-skm-untuk-bayi-marak-di-daerah-wxI5iZxuAD.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BUKAN rahasia lagi jika susu kental manis atau biasa disebut SKM tidak disarankan sebagai asupan minuman susu bagi bayi dan anak-anak. Pada dasarnya, SKM adalah bahan makanan yang biasa dijadikan sebagai topping makanan.

Bukan minuman susu yang bisa menggantikan fungsi dari susu formula bayi dan anak-anak, karena memang kandungan di dalamnya tidaklah sama.

Tapi nyatanya, di lapangan terutama di pelosok daerah-daerah, masih banyak ibu yang lebih memilih memberikan bayi atau anaknya susu kental manis daripada susu formula untuk anak.

 lebih memilih memberikan bayi atau anaknya susu kental manis daripada susu formula untuk anak.

Seperti dijelaskan oleh dr. Erna Yulia Sofihara, Ketua Bidang Kesehatan Pimpinan Pusat Muslimat NU, hal ini tidak hanya disebabkan oleh faktor ekonomi seperti harga yang jauh lebih murah.

Distribusi produk susu kental manis yang lebih gampang didapatkan juga menjadi alasan lain mereka memilih SKM ketimbang varian produk susu formula anak dan bayi. Namun juga disebabkan oleh adanya mitos-mitos yang telah melekat di kalangan masyarakat daerah tertentu.

“Biasanya soal mitos, di daerah-daerah tertentu itu misalnya anak bayi itu dipahaminya cukup sekian bulan saja diberi ASI (air susu ibu) lalu selesai," jelas dr. Erna saat ditemui di Senayan.

"Ada juga mitos misalnya habis melahirkan itu ada yang langsung dikasih pisang, jadi lebih memilih makanan pendamping ASI. Kepercayaan dengan mitos ini memang jadi kendala,” tambah dia.

siap hingga rendahnya pengetahuan ibu-ibu belia ini, disebutkan oleh dr. Erna sebagai pemicu.

Mirisnya, ternyata faktor pernikahan dini yang memang banyak terjadi di daerah juga jadi alasan yang memicu mengapa banyak ibu lebih memilih memberikan susu kental manis sebagai asupan layaknya minuman susu. Faktor sistem reproduksi yang belum siap hingga rendahnya pengetahuan ibu-ibu belia ini, disebutkan oleh dr. Erna sebagai pemicu.

“Pernikahan dini, di daerah itu ada istilahnya kalau tidak salah kawin tembak. Anak-anak usianya di bawah 15 tahun sudah dikawinin, otomatis secara pengetahuan belum tahu. Ibu-ibu di kota juga kadang baru tahu kalau SKM itu gulanya tinggi. ASI juga belum keluar karena sistem reproduksinya belum matang," paparnya.

"Akhirnya ambil cara gampang, gampang didapatkan di daerah kan SKM selain sulit didapat di daerah susu kayak Lactogen gitu kan mahal. Dikasih SKM dikasih pisang, yang penting anaknya diam ya sudah,” tutup dr. Erna.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini