nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Terlalu Fokus Kejar Kebahagiaan Bisa Picu Depresi, Banyak Bersyukur Guys!

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 08 Januari 2020 08:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 08 481 2150489 terlalu-fokus-kejar-kebahagiaan-bisa-picu-depresi-banyak-bersyukur-guys-NKRhsGuUel.jpg Ilustrasi (Foto : Helpguide)

Fakta mengejutkan berhasil ditemukan oleh peneliti dari University of Reading, Inggris. Menurut hasil penelitian mereka, seseorang yang fokus mengejar kebahagiaan justru memiliki risiko terkena serangan depresi yang lebih tinggi.

Penelitian ini didasari oleh hasil survey tentang tingkat kesejahteraan emosional yang dirasakan oleh 450 orang responden. Peneliti menemukan bahwa mereka yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebahagiaan ternyata kurang mampu mengendalikan perasaan, dan menikmati pengalaman positif yang akhirnya dapat memicu depresi.

Menilai kebahagiaan juga disinyalir dapat membuat orang menjadi terlalu waspada tentang peristiwa di dalam hidup mereka. Para peneliti tidak memungkiri bahwa kebahagiaan adalah elemen terpenting dalam kehidupan dan berfungsi untuk menciptakan kesejahteraan yang dianggap sebagai tujuan hidup manusia.

Perilaku menilai emosi atau perasaan positif ini memang telah lama dikaitkan dengan kepuasaan hidup seseorang. Namun di sisi lain, perilaku ini juga kerap dihubungkan dengan rasa kesepian, gangguan bipolar, serta memiliki lingkaran sosial yang cenderung lemah.

Depresi

Di Amerika Serikat, mengejar kebahagiaan telah dikaitkan dengan kondisi kehidupan seseorang dengan tingkat kesejahteraan yang buruk. Untuk mendalami persoalan ini, para peneliti telah meminta 151 siswa dari sebuah universitas di Inggris untuk mengisi kuesioner tentang kebahagiaan.

Para peserta ini akan ditanya apakah mereka setuju dengan pertanyaan seperti, “Saya ingin lebih bahagia daripada kehidupan saya sebelumnya,” , “Saya berhasil mengendalikan emosi dan mengubah pola pikir tentang situasi yang saya hadapi saat ini, dan “Saya sangat sedih dan tidak senang, serta tidak dapat menahannya lagi,”.

Hasilnya menunjukkan bahwa menghargai atau menilai kebahagiaan secara signifikan berkaitan erat dengan gejala depresi. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi hal tersebut. Perilaku ini dianggap dapat mengalihkan perhatian seseorang dari tugas-tugas atau beban hidup yang ada di hadapan mereka.

Alih-alih fokus mencari solusi, perilaku menilai kebahagiaan justru dapat mencegah Anda untuk mencapai tujuan hidup, bahkan memicu depresi.

“Kami mengamati ketidakmampuan peserta untuk memusatkan perhatian sambil merasakan serangkaian emosi adalah faktor utama dalam penelitian ini bahwa mereka tidak bisa menikmati pengalaman positif,” kata penulis studi Dr Julia Vogt.

Berjuang untuk kebahagiaan juga dapat menyebabkan seseorang menghindari situasi atau permasalahan yang sangat pelik, namun dapat mendatangkan sejumlah manfaat jangka panjang. Misalnya, tidak belajar untuk ujian karena terlalu stres, padahal masalah tersebut hanya berlangsung pada momen tersebut.

Depresi

Dalam percobaan kedua, para peneliti kembali melakukan survey kepada sejumlah mahasiswa di Inggris. Kali ini mereka mencatat kewarganegaraan mereka. Dari 299 peserta, hampir tiga perempat (73.2%) adalah orang Inggris.

Mereka disajikan kuesioner yang sama seperti sebelumnya, serta beberapa pernyataan tambahan seperti, “Saya merasakan sukacita ketika saya memikirkan hal-hal baik di masa yang akan datang,” dan “Saya senang melihat kembali momen-momen bahagia di masa lalu,”.

Hasilnya pun sama. Menghargai atau menilai kebahagiaan lagi-lagi berkaitan erat dengan gejala depresi. Peserta asal Inggris bahkan diklaim lebih berisiko dibandingkan peserta non-Inggris atau berkewarganegaraan ganda.

“Ini mendukung asumsi bahwa hubungan antara menghargai kebahagiaan dan kesejahteraan juga berkaitan dengan budaya suatu negara,” catat para peneliti.

Budaya Barat mungkin menghargai ‘emosi positif yang membangkitkan gairah dan semangat yang tinggi’. Namun ketika hal tersebut tidak terpenuhi, justru bisa memicu depresi, tambah mereka.

Tak hanya itu, budaya barat juga lebih menekankan pada pencapaian pribadi yang pada akhirnya mengarah pada berkurangnya koneksi sosial, atau cenderung individualis.

“Hubungan antara menghargai kebahagiaan dan gejala depresi terlihat jauh lebih signifikan pada peserta Inggris dariapda mereka yang berasal dari kebangsaan lain atau berkewarganegaraan ganda,” kata Dr Vogt.

Depresi

“Kami belum meneliti lebih jauh perbedaan-perbedaan itu, tetapi tampaknya ada perbedaan yang signifikan antara budaya barat berbahasa Inggris, dengan budaya lain ketika merujuk pada kebiasaan mereka dalam menilai kebahagiaan dan membentuk pengalaman serta suasana hati,” tandasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini