nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hari Lingkungan Hidup, Ternyata Kerang Hijau Mampu Kurangi Polusi Lho!

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 10 Januari 2020 17:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 10 406 2151479 hari-lingkungan-hidup-ternyata-kerang-hijau-mampu-kurangi-polusi-lho-eHTmArTlty.jpg Ilustrasi. (Flickr)

Memeringati Hari Lingkungan Hidup Nasional, Taman Impian Jaya Ancol yang merupakan kawasan wisata terpadu di Jakarta, memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan hidup yang berkelanjutan. Ada beberapa upaya yang dilakukan, misalnya saja melakukan restorasi kerang hijau dan mengelola sampah.

Teluk Jakarta ini merupakan habitat alami dari berbagai jenis biota laut seperti kerang hijau, kepiting batu, ketang-ketang, angel fish, ubur-ubur, baronang, sembilang, damsel, dan lain sebagainya. Dengan adanya restorasi di Hari Lingkungan Hidup ini, diharapkan dapat meningkatkan kualitas air laut supaya menjadi lebih baik, serta mencegah polusi air di dalam laut.

kerang hijau

Lewat siaran pers Hari Lingkungan Hidup yang diterima Okezone, Jumat (10/1/2020), berdasarkan hasil penelitian dan eksperimen tim konservasi Ancol pada pertengahan 2018, diketahui bahwa satu kilogram kerang hijau mampu menyaring air sebanyak 10 liter per jam. Dalam usaha ini, sebanyak 96 kilogram kerang hijau berhasil direstorasi.

Artinya sebanyak 960 liter air laut mampu disaring secara alami dan dapat menurunkan nitrogen sebanyak 21 miligram per jam. Hingga pada 12 Desember 2019, 2.618 kilogram kerang hijau berhasil ditumbuhkan dan sebanyak 26.180 liter air laut dapat difiltrasi secara alami.

Tercatat ada 392 volunter yang ikut terlibat dalam kegiatan restorasi kerang hijau selama 2019. Volunter tersebut berasal dari berbagai komunitas dari sekolah di Jakarta dan sekitarnya.

Tak hanya restorasi kerang hijau, pengelolaan sampah secara mandiri pun dilakukan. Proses pengolahan sampah ini terdiri dari dua jenis yaitu sampah organik (daun, ranting dan dahan) dan sampah anorganik (plastik, kardus, dsb).

Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos yang selanjutnya akan digunakan untuk pemupukan dan perawatan taman. Sementara untuk sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi, disalurkan menuju bank sampah.

Upaya pengolahan sampah mandiri ini memiliki jumlah rata-rata 320 m kubik per bulan dan 48% merupakan bahan kompos. Sisa pengolahan adalah sampah anorganik dan residu.

mengelola sampah

Kebijakan pelarangan penggunaan kemasanan makanan berbahan styrofoam juga diberlakukan di tempat ini. Karena bahan styrofoam sulit untuk terurai di alam dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Tak hanya styrofoam, kebijakan tersebut juga melarang penggunaan sedotan plastik.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini