nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Akbar Dampingi Anak Penyandang Kanker Hingga Berpulang

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 13 Januari 2020 01:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 12 481 2152073 cerita-akbar-dampingi-anak-penyandang-kanker-hingga-berpulang-pPMeqTszCI.jpg Ilustrasi (Foto : Verywell)

Sejak awal tahun 2000 Akbar sudah mengikuti panggilan jiwanya untuk menjadi seorang relawan. Dirinya menjadi pendamping untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan caregiver untuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Kemudian pada 2016 ia bergabung dengan Pita Kuning untuk menjadi kakak pendamping anak-anak penyandang kanker.

Selama menjadi kakak pendamping anak penyandang kanker, Akbar memiliki kewajiban untuk berkunjung ke rumah adik dampingannya, menemani bermain, mendengarkan curhatan, menguatkan mental adik dampingan dan keluarga, serta menemani di rumah sakit jika adik dampingannya dirawat. Bahkan tak jarang ia menemani detik-detik adik dampingan berpulang hingga menyiapkan mobil jenazah dan proses pemakaman. Tentunya banyak pengalaman suka dan duka yang telah dialaminya.

"Mulai dari dimuntahin saat selesai kemo sampai harus menunggu selama 2 jam di kamar jenazah. Tapi bagi saya, kendala yang saya hadapi selama pendampingan dengan anak kanker saya anggap sebagai tantangan. Saya banyak belajar dari mereka tentang pentingnya selalu berprasangka baik kepada Tuhan atas setiap cobaan dalam hidup," ujar Akbar kepada Okezone saat dihubungi melalui pesan singkat.

Kanker Anak

Hingga saat ini, Akbar sudah sembilan kali mendampingi anak-anak penyandang kanker. Sekadar informasi, sebagai kakak pendamping dirinya bertugas melakukan kunjungan sebanyak 12 kali untuk setiap anak dampingannya. Namun ia selalu mendampingi hingga adik dampingannya berpulang.

Tak mudah bagi Akbar menghadapi kenyataannya saat adik-adik dampingannya berpulang. Di awal dirinya sempat merasa kaget. Terlebih pada anak penyandang kanker, ada kalanya mereka sehat-sehat saja tapi tiba-tiba drop dan tidak tertolong walaupun rutin melakukan pengobatan.

"Tapi dengan berjalannya waktu saya mulai bisa mengenali polanya. Kanker anak sangat tidak bisa diprediksi, bisa saja hari ini sehat dan besoknya sudah drop atau sebaliknya. Intinya harus siap kapan saja adik dampingan berpulang," ujar Akbar.

Dirinya juga merasa bersyukur yayasan tempatnya bernaung memiliki program sesi kedukaan. Melalui program tersebut, para kakak pendamping yang adik dampingannya berpulang akan dikumpulkan dan dipertemukan dengan psikiater untuk membantu menangani masalah mental. Dengan begitu, mereka bisa lebih mudah menerima kepergian adik dampingannya.

Setiap adik dampingannya selalu berkesan bagi Akbar. Namun ada satu adik yang sangat ia kenang. Saat adik tersebut berpulang, butuh waktu setahun bagi dirinya untuk pulih.

Yayasan Pita Kuning

Akbar bercerita awalnya adik berusia 15 tahun itu sulit untuk didekati karena sangat tertutup dan kurang kooperatif. Adik tersebut mengidap kanker kelenjar getah bening stadium 4 yang menyebabkan sebaran penyakitnya sudah sampai ke cairan otak dan ada riwayat kejang beberapa kali. Saat pertama kalinya mengunjungi adik tersebut, memang ada jarak dan batasan namun berhasil diatasi.

Namun hal itu tak menyurutkan langkah Akbar untuk mendampingi anak tersebut. Bila kakak pendamping lainnya hanya sanggup melakukan 2 kali kunjungan dan langsung meminta pergantian, lain cerita dengan dirinya. Ia bisa melakukan 10 kali kunjungan dari yang seharusnya 12 kunjungan di Rumah Sakit Kanker Dharmais.

"Pada minggu-minggu terakhir sebelum berpulang, ia sudah 3 kali kejang dan tidak sadarkan diri, bahkan namanya sudah masuk dalam daftar anak dan keluarga yang akan dikunjungi psikolog. Dua hari sebelum koma atau tepatnya lima hari sebelum meninggal, Almarhum sempat bilang sudah enggak kuat dan bertanya apakah saya marah kalau dia menyerah," ujar Akbar.

Mendengar pertanyaan itu, ia seakan dihadapkan oleh situasi yang menyulitkan. Lidahnya kelu untuk memberikan jawaban. Dalam suasana hening, Akbar tersadar untuk memberikan jawaban.

"Saya jawab, 'Kalau abang sudah enggak kuat boleh kok,'. Saat itu langsung saya peluk almarhum, karena saya tahu ini tak akan lama dan sorenya hanya melakukan hal-hal yang membuat ia bahagia. Lusanya almarhum kembali kejang dan koma, tiga hari kemudian Almarhum wafat," kata Akbar.

Kanker Anak

Kenangan akan sosok adik tersebut tak pernah terlupakan oleh Akbar. Dirinya sampai memerlukan bantuan psikolog agar pulih. Meski begitu, kejadian tersebut tak menyurutkan niatnya untuk menjadi kakak pendamping. Baginya, relawan di layanan paliatif sangat berharga karena berada di titik terendah seseorang saat kehilangan harapan, ditinggal orang-orang yang dikasihi, dan perlu diyakinkan bahwa dirinya tidak sendiri.

"Kita tak harus pintar dengan jutaan kata motivasi, karena mereka hanya perlu pundak untuk bersandar, tangan untuk digenggam, selembar tisu untuk menghapus air mata mereka, telinga yang siap mendengar segala keluh kesah dan ketakutan mereka, bukan nasihat, bukan pula komentar, melainkan didengarkan. Bersedia untuk belajar mengerti dari sudut pandang orang lain dan mendengarkan kisahnya," pungkas Akbar.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini