nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berjuang Melawan Penyakit Kronis, Cerita Thomas Dua Tahun Cuci Darah dengan Layanan BPJS Kesehatan

Tiara Putri, Jurnalis · Senin 13 Januari 2020 23:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 13 481 2152483 berjuang-melawan-penyakit-kronis-cerita-thomas-dua-tahun-cuci-darah-dengan-layanan-bpjs-kesehatan-Nc5VDZz6fq.jpg Cerita pasien gunakan layanan BPJS Kesehatan (Foto: Wakonyu )

KOMPLIKASI penyakit kronis dapat berdampak pada kerusakan ginjal. Tak jarang pasien penyakit kronis harus menjalani hemodialisis atau cuci darah karena fungsi ginjalnya sudah rusak. Hal ini yang dirasakan oleh Thomas Tandra Wijaya.

Sepanjang hidupnya hingga usia 63 tahun, Thomas mengaku selalu sehat dan tidak pernah terserang penyakit kronis. Namun tiba-tiba kakinya membengkak dan ia merasakan nyeri di bagian dada. Setelah menjalani pemeriksaan darah, baru diketahui fungsi ginjalnya sudah rusak dan dirinya harus menjalani cuci darah 3 kali seminggu.

“Waktu kaki bengkak itu saya bingung, terus periksa darah, tahunya ginjal sudah ada kerusakan. Sebelumnya saya enggak tahu sakit, perasaan sehat-sehat saja. Sekali periksa darah ternyata ginjalnya sudah bermasalah,” ujar Thomas kala ditemui Okezone saat melakukan cuci darah di suatu klinik kawasan Jakarta Pusat, Senin (13/1/2020).

 Kisah pasien penyakit kronis

Ia menambahkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan dirinya sampai harus menjalani cuci darah. Thomas mengatakan memiliki penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi, serta faktor lainnya yang tidak disebutkan. Ia sudah menjalani cuci darah hampir dua tahun. Pada awalnya Thomas cuci darah hanya dua kali seminggu. Namun empat bulan belakangan intensitasnya bertambah menjadi tiga kali seminggu. Hal ini lantaran ada keluhan yang dirasakannya.

“Waktu masih dua kali (cuci darah) sering sakit, bolak-balik masuk ICU ada 5 kali, jalan sedikit sudah sesak napas. Dari situ dokter akhirnya memutuskan untuk 3 kali dan setelah itu jauh lebih enakkan,” ucap Thomas.

Selama menjalani cuci darah, Thomas menggunakan layanan BPJS Kesehatan. Ia mengaku tidak kuat untuk menanggung biaya seorang diri apabila tidak menjadi peserta BPJS Kesehatan. Sekadar informasi, dirinya menjalani cuci darah di klinik hemodialisis Tipe D yang biaya sekali tindakan hampir Rp750 ribu, belum termasuk obat.

 Ilustrasi cuci darah

“Jujur saya berterima kasih kepada pemerintah karena sudah menyediakan layanan BPJS. Kalau sendiri enggak kuat,” kata Thomas.

Di sisi lain sejak awal Januari 2020, BPJS Kesehatan menerapkan aturan rumah sakit atau klinik yang memberikan layanan cuci darah harus menyediakan sistem finger print atau sidik jari.

Tujuannya memudahkan pasien agar tidak perlu memperpanjang surat rujukan setiap tiga bulan sekali. Thomas merupakan salah satu pasien yang telah merasakan sistem tersebut dan merasa mendapat kemudahan.

 Ilustrasi cuci darah

“Saya setuju dengan sistem tersebut karena enggak usah ke Puskesmas untuk buat rujukan, jadi lebih mudah. Pakai sistem finger print juga enggak ribet, tinggal datang, periksa sidik jari lalu ketemu dokter, dan kemudian nunggu giliran untuk cuci darah selama lima jam,” pungkas Thomas.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini