nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perjuangan Anak Berusia 3 Tahun Lawan Kanker Demi Bisa Makan Waffle

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 13 Januari 2020 14:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 13 612 2152294 perjuangan-anak-berusia-3-tahun-lawan-kanker-demi-bisa-makan-waffle-1To8wa8IQ9.jpg Ilustrasi (Foto : Smart Parenting)

Apa yang dialami keluarga ini bisa menjadi pelajaran untuk semua orangtua bahwa ketika anak demam tinggi hingga 37,78 derajat celsius, harus segera diperiksa dokter. Sebab, bisa saja itu adalah tanda bahwa di dalam tubuh si anak sedang tumbuh sel kanker.

Ya, begitulah yang dialami Teresa. Ia awalnya tak menganggap serius suhu tubuh tinggi anaknya, Mia, yang berusia satu tahun. Asumsinya mutlak; Semua balita mengalaminya. Padahal, itu adalah awal dari masalah kanker serius dalam tubuh Mia.

Sikap abai tersebut membuatnya sedih bukan kepalang. Sebab, setelah dirinya pulang bekerja sekira pukul 8 malam, kondisi kesehatan Mia tak membaik.

Teresa dan suaminya, Mike, panik bukan main. Akhirnya ia langsung membawa Mia ke dokter anak, tapi tidak membuahkan hasil. Tangis pecah tak terbendung, Teresa akhirnya membuat janji dengan dokter spesialis di Children's Hospital of Philadelphia (CHOP).

Kanker Anak

Bukan hanya satu dokter spesial yang dikontek Teresa, tapi tiga sekaligus; ahli reumatologi, ahli hematologi, dan ahli onkologi. Pemeriksaan dilakukan seluruhnya, tapi lagi lagi hasilnya nihil. Bahkan, suhu tubuh Mia terus memburuk sampai di 39 derajat selsius. Kejadian ini terjadi pada November 2014.

Teresa dan Mike pun bingung harus bagaimana sekarang. Saat kebingungan itu merasuki pikiran mereka, tubuh Mia memberi tanda. Ya, gejala baru muncul seperti timbul bintik-bintik kecil di kulit Mia, tanda itu bundar dan berwarna coklat keunguan yang dikenal sebagai Petechiae.

Setelah tanda itu muncul, dokter anak yang mengurusi Mia membawa bocah berusia satu tahun tersebut ke UGD dan hasil pemeriksaan menunjukan bahwa di dalam tubuh Mia berkembang sel kanker. Jadi, demam berminggu-minggu yang dialami Mia adalah reaksi tubuhnya melawan sel kanker tersebut.

Perjalanan Mia melawan kanker

Di usia satu tahun setengah, Mia harus menerima fakta bahwa dirinya mengidap kanker yang disebut dengan nama leukimia limfoblastik akut sel-T. Penyakit itu diketahui setelah biopsi dilakukan.

Dijelaskan Teresa pada laman CHOP.edu, Mia harus menjalani kemoterapi selama satu bulan lamanya. Setelah itu, Mia diperbolehkan melakukan rawat jalan.

Tapi sayang, keputusan itu malah membuatnya kembali bermasalah. Ya, tubuh Mia mengalami infeksi bakteri E.Coli dan karena itu gadis kecil itu harus menjalani perawatan medis kembali di rumah sakit selama empat minggu.

"Setiap kali Mia masuk rumah sakit, tubuhnya semakin melemah dan dia akan kehilangan satu per satu kemampuan dasar tubuhnya dan karena itu, dia harus belajar kembali," tutur Teresa.

Anak Sakit

Setelah melewati pengobatan dan kemoterapi, Mia pun dinyatakan sudah bebas dari perawatan medis. Tapi, tepat pada Hari Ibu di 2016, kanker di tumbuhnya aktif kembali. Tangis Teresa pecah, ia tak kuasa menerima cobaan yang begitu berat pada anaknya tersebut.

Di pengobatan kali ini, Mia harus menjalani transplantasi sel induk (SCT). Kemoterapi dan radiasi rutin dilakukan Mia untuk mempersiapkan prosedur berjalan dengan baik. Karena sistem kekebalan tubuh Mia lemah, ia tak diizinkan melakukan kontak langsung dengan banyak orang.

Di momen ini, cerita Teresa, Mia sudah cukup umur untuk memahami situasi yang sedang dia alami. Mia banyak menangis dan selalu minta pulang. Dia terisolasi dari kehidupan.

"Meski ada terapi bermain dan terapi seni di kamarnya, Mia tetap saja merasa sedih. Ia tidak bisa menikmati hidupnya selayaknya anak-anak seusia dia. Mia pun lebih sering bertemu orang dewasa, termasuk kami orangtuanya, pun perawat yang mengurusnya," keluh Teresa.

Transplantasi sukses dilakukan

Kanker yang ada di tubuh Mia begitu keras kepala, tapi Mia berhasil mengalahkannya. Ya, transplantasi berhasil dilakukan karena Mia yang begitu kuat melawan penyakit yang ada di tubuhnya.

Saat menajalni SCT pada Agustus 2016, usia Mia adalah tiga tahun. Teresa menjelaskan, ada permintaan khusus Mia sebelum dirinya melakukan transplantasi. "Dia ingin sekali makan wafel dan pulang ke rumah," ungkap Teresa mengingat permintaan Mia.

Sayang seribu sayang, permintaan tersebut tak bisa dikabulkan Teresa. Mia tak bisa mendapatkan dua keinginan sederhananya di saat-saat kritis. Teresa menangis jika mengingat momen mengharukan tersebut. Ia merasa kecil sekali karena tak bisa mengabulkan permintaan sepele tersebut.

Setelah SCT berhasil dilakukan, Teresa dan keluarganya memutuskan untuk memulai hidup baru dengan menetap di New Egypt, New Jersey.

Kehidupan pasca transplantasi

Sekarang Mia dinyatakan bebas dari semua perawatan dan memdekati tiga tahun bebas kanker. Ya, sampai akhir 2019 pun Mia dinyatakan sembuh total dari kanker.

Kanker Anak

Teresa mengaku bangga sekaligus berbahagia dengan perjuangan anaknya melawan penderitaan yang menimpanya. "Mia sekarang adalah anak yang baru dan lebih baik. Saat ia diajak pergi ke pesta, Mia akan sangat bahagia karena itu adalah hal yang tak pernah dia alami sebelumnya," ungkap Teresa.

Mia kini berusia 6 tahun. Dia adalah gadis kuat yang pernah menghabiskan usianya di atas kasur rumah sakit dengan segala macam pengobatan. Mia diketahui mendapatkan izin musiman untuk pergi ke taman hiburan di dekat rumah mereka.

"Ketika aku bertambah besar, aku akan pergi menikmati semua wahana besar yang ada di depan mata. Aku suka berpetualang," ucap Mia bahagia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini