Punya Kelainan Mata Langka, Adinda Nekat Terjun ke Dunia Fashion

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 14 Januari 2020 14:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 14 612 2152710 punya-kelainan-mata-langka-adinda-nekat-terjun-ke-dunia-fashion-DpRycChHbS.jpg Adinda Tri Wardhani. (Foto: Instagram)

BODY positivity terus digaungkan di seluruh dunia. Standar kecantikan tidak berlaku lagi, karena setiap perempuan berhak atas cantiknya. Itu juga yang diamini Adinda Tri Wardhani, penderita kelainan mata langka.

Adinda Tri Wardhani tahu betul bahwa dirinya berbeda dengan saudari kembarnya sejak lahir. Meskipun jadi penderita kelainan mata langka, kondisi tersebut tidak membuatnya minder, bahkan merendahkan dirinya sendiri.

Ia yakin, Tuhan memberikan kelebihan yang jauh lebih besar daripada kekurangannya itu. Dinda tak patah semangat walau jadi penderita kelainan mata langka.

Terlahir sebagai bayi prematur, mengharuskan Dinda, sapaan akrabnya, untuk bertahan hidup di dalam inkubator selama dua bulan. Hal ini harus jalani karena pertumbuhan tubuhnya belum sempurna.

"Aku lahir di usia kehamilan 28 minggu dengan berat sekira 1,9 kg. Tubuh aku saat lahir banyak organ yang belum sempurna," katanya kepada Okezone melalui sambungan telepon.

Dinda melanjutkan, di usia 2 bulan, indikasi adanya masalah di area mata sudah terlihat, namun minim sekali. Meski akhirnya diketahui bahwa mata kanannya tidak tumbuh sempurna atau yang dalam dunia medis disebut dengan nama microphthalmia.

Adinda

"Mata kanan aku berhenti tumbuh di usia aku dua minggu setelah dilahirkan," katanya.

Tanda yang bisa dilihat adalah area mata kanannya kebiruan. Kondisi ini yang membuat dokter menyatakan bahwa Dinda tidak akan memiliki mata layaknya orang normal.

Dijelaskan Dinda, kondisi itu bisa terjadi karena pengaruh perputaran oksigen murni yang ada di dalam inkubator. Kondisi tersebut memengaruhi pertumbuhan matanya.

Setelah tahu bahwa ada masalah pada mata kanannya, orangtua Dinda tidak menyikapinya dengan sedih berlarut-larut. Dinda menerangkan, kedua orangtuanya lebih bersikap tegar dengan mencari tahu apa tindakan terbaik, yang harus mereka lakukan selanjutnya.

adinda

Dinda menerangkan, orangtuanya pergi ke Jakarta Eye Center dan bertemu dengan Spesialis Mata Prof dr Istiantoro Sukardi, SpM, untuk mencari tahu apa tindakan selanjutnya yang harus dilakukan.

"Prof Istiantoro bilang kalau mata aku tidak bisa diapa-apain saat itu. Sekarang yang bisa dilakukan adalah menguatkan mata kirinya saja," kata Dinda yang lahir pada 29 Januari 1985.

Selain itu, sikap orangtua dia pun lebih ke arah tidak menganggap Dinda dan kembarannya sama. Jadi, ibunya berprinsip bahwa anak kembarnya itu hanya dua perempuan yang lahir bersamaan. Dengan begini, kekurangan yang ada pun tidak dilihat berbeda.

Setelah beberapa waktu setelah bertemu dengan Prof Istiantoro, Dinda diajak untuk bertemu dengan Ahli Mata Protesa dr Bondan Hariono, SpM Kala itu Dinda masih berusia setahun, sehingga sangat tidak memungkin untuk dirinya menjalani pemasangan protesa atau mata palsu. Menurut Bondan, cerita Dinda, mereka yang sudah bisa menggunakan protesa itu adalah anak berusia lima tahun.

Meski didiagnosa mengidap penyakit mata, sejak kecil Dinda sudah dibuat aktif oleh orangtuanya. Ia pernah bertemu dengan Sandiah atau yang lebih dikenal dengan Bu Kasur dan di pertemuannya itu, Dinda diajarkan makna perbedaan dan menghargai orang lain.

"Jadi, waktu itu aku sekelas dengan anak yang tidak punya tangan. Setelah duduk bareng, yang ada aku dan si anak itu nangis bareng," ucap Dinda. Setelah itu Dinda mengaku makin sadar bahwa dirinya tidak sendiri.

Setelah itu, ia bergabung dalam klub Nakula Sadewa, yang merupakan klub asuhan Kak Seto. Klub ini menjadi ruang untuk dirinya menyadari bahwa menjadi anak kembar itu bukan sesuatu yang aneh. Proses penerimaan perbedaan pun mulai dibentuk di sini.

"Kak Seto mengajarkan bahwa anak kembar itu dua individu yang berbeda, jadi jangan disama-samain," terangnya.

Dari pelajaran itu, orangtua Dinda yang awalnya memanggil Dinda dan kembarannya dengan panggilan mbak dan adik, kemudian berubah menjadi memanggil nama. Sejak saat ini, Dinda mulai terbangun kepercayaan dirinya.

adinda

Masih tergabung dalam klub Nakula Sadewa, Dinda pun dimasukkan ke taman kanak-kanak TK Mutiara Indonesia yang juga milik Kak Seto. Singkat cerita, di akhir tahun TK, saat itu usianya Dinda 5 tahun, momen pasang protesa pun tiba. Setelah pasang protesa, yang namanya tatapan aneh itu mulai berkurang.

Ibunya pun semakin mengeksplor kemampuan yang ada di dalam dirinya. Dinda yang sebelumnya sudah pernah les tari Bali di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan guru bernama Bapak Made, semakin percaya diri dengan banyak tampil di depan orang-orang.

"Aku sudah menari sejak belum pasang protesa. Kepercayaan diri aku sudah terbentuk sejak itu dan setelah pasang protesa, aku makin percaya diri," ungkap Dinda.

"Awalnya aku mengira, bagaimana bisa aku nari Bali yang membutuhkan konsentrasi tinggi dan permainan mata. Tapi, ibuku punya tujuan sendiri ke tubuh aku yaitu agar otot mataku kuat. Namun, di sisi lain, ya, biar anaknya sering tampil di depan umum," tambahnya.

Adinda dan Keluarga

Di sisi lain, saat menggunakan mata palsu, Dinda mesti dihadapkan pada beberapa tindakan medis. Sebut saja operasi granuloma yang ia jalani pada 2004, 2012 dan 2014. Operasi ini dimaksudkan untuk membuang beberapa tumor kecil yang ada di area mata.

Hingga akhirnya pada 2017, Dinda menjalani cangkok mata kelopak bawah. Tindakan ini memerlukan jaringan tubuh dan tim medis menggunakan jaringan area pipi dan perutnya. Setelah itu, pada 2019, Dinda menjalani operasi kembali tapi kali ini operasi cangkok jaringan kelopak mata atas.

"Sejalannya usia, organ tubuh pun akan berubah dan aku sadar bagian mataku pun harus mendapatkan perlakuan khusus. Sehingga tindakan-tindakan itu memang sudah seharusnya dijalani dan saya lalui dengan bahagia," ucapnya dengan intonasi bahagia.

Masa sekolah dasar, menengah pertama, hingga menengah atas dilalui Dinda dengan santai dan tidak terlalu rumit. Orangtuanya pun memisahkan Dinda dan kembarannya agar dia bisa mandiri dan berkembang sendiri-sendiri.

"Saat sekolah, aku aktif banget. Salah satunya aku tergabung di Indonesia Youth Orchestra, saat itu main biola. Bahkan, aku juga tergabung di klub cheerleader. Aku baru sadar, aku dari kecil memang doyan tampil banget, senang aja gitu," ungkapnya lantas tertawa kecil.

Jiwa energik Dinda tidak berhenti di bangku sekolah. Saat menentukan mau kuliah di mana, ia memutuskan untuk sekolah fashion di luar negeri. Dia sadar bahwa dunia fashion dan lifestyle itu bisa dibilang 'pemuja' kesempurnaan, tapi dia tak ragu untuk mengejar mimpinya. Benar, meski dengan mata kanan palsu.

Adinda dan Keluarga

Dinda ingat betul ucapan ibunya bahwa dunia fashion itu sangat luas sekali. Setelah mendengar itu, Dinda pun memutuskan untuk mengikuti internship di tiga bidang berbeda, yaitu konveksi, majalah fashion, dan ritel fast fashion di Malaysia.

Dari ilmunya di tiga bidang tersebut membuat dirinya yakin bahwa ia memang suka dunia fashion dan menjadikan bidang tersebut sebagai passionnya.

Passion tersebut ia tafsirkan dengan bekerja di salah satu majalah fashion terbesar di Indonesia. Majalah tersebut juga dianggap Dinda sebagai wadah tempatnya semakin membentuk karakter dirinya. Majalah itu yang membentuk ia sekarang.

"Aneh tapi nyata, tidak banyak rekan di kantor yang begitu menyadari bahwa aku berbeda di area mata, sampai di tahun ke-6. Jadi ada momen aku harus pergi dinas dengan chief editor aku, nah perjalanan dinas itu bertepatan dengan jadwal operasi, jadi mau gak mau harus bilang, dan minta izin untuk tidak ikut dinas," paparnya.

Adinda dan Keluarga

Hal itu yang membuat dirinya semakin yakin bahwa dengan bekal pengalaman dan kemampuan, itu akan menutupi kekurangan fisik yang ada di diri Anda. Ketika pengalaman dan kemampuan diri yang ditonjolkan, orang lain tidak akan melihat kekurangan tersebut.

"Ini sama dengan pandangan hidup aku bahwasannya jangan pernah mengedepankan apa kekurangan Anda, tapi tonjolkan kemampuan dan keahlian yang Anda punya. Itu yang akan membuat Anda terlihat istimewa di depan orang lain," katanya.

Sebagai orang yang memiliki perbedaan, jangan pernah playing victim atau merasa harus dikasihani. Ingatlah bahwa hidup Anda adalah milik Anda.

Dinda juga menegaskan agar setiap orang untuk bisa mandiri dan jangan mengandalkan orang lain. Meski berbeda, setiap orang jangan pernah berhenti untuk belajar dan cari keahlian baru.

Sekali lagi, ingat bahwa orang lain tidak melihat apa yang kurang dalam diri. Tapi akhirnya bakal terkesima dengan apa yang menjadi kekuatan diri Anda.

Cerita mengenai orangtua, Dinda merasa beruntung memiliki keluarga yang tidak menyikapi masalah dengan sedih berlebihan. Dengan sikap yang demikian, Dinda mengaku dirinya bisa membangun diri dengan baik.

Ia menjadi pribadi yang tegar dan berani menggadapi dunia. Menyikapi masalah bukan dengan menghindari atau menangisinya saja, tetapi menghadapinya.

Selain orangtua, orang yang berperan penting dalam hidup Dinda adalah anak dan suaminya. Ada suatu cerita yang menarik bagi Dinda dan ini yang menyadarinya bahwa dirinya itu luar biasa.

"Jadi, suatu ketika anak aku cerita ada teman di kelasnya yang bertanya mata ibunya yang terlihat berbeda. Respons yang diberikan anakku kepada temannya cukup dewasa. Dia bilang ke temannya, ibu aku memang berbeda tapi bisa melihat seperti orang lain. Mama aku tidak malu atau minder," cerita Dinda mengingat kejadian tersebut.

Adinda dan Keluarga

Sikap sang anak bisa begitu karena Dinda memang memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya ke anak-anaknya. Jadi, anak-anaknya dikenalkan dengan dunia medis, tempat ibunya menjalani beberapa perawatan matanya. Ini berhasil dan malah membuat anaknya menyadari yang namanya perbedaan. Sementara itu, suaminya pun punya peran cukup kuat di hidup Dinda.

"Aku dan suami sudah saling kenal 20 tahun lamanya. Pernah suatu ketika aku tanya suami, kok mau nikah denganku? Dia jawab, aku nggak lihat kamu kenapa-kenapa. Kekurangan itu bukan sesuatu yang harus dipikirin, yang ada itu kelebihan apa yang harus kita kembangin," papar Dinda.

Adinda Tri Wardhani hingga kini masih menekuni profesinya sebagai jurnalis gaya hidup sejak 2005 dan kini menjabat sebagai managing editor lifestyle di suatu media digital perempuan.

Ia juga terus mengembangkan diri dengan merintis brand fashion 'Kala Studio' bersama kedua rekannya. "Memiliki kekurangan fisik membuat aku tidak berhenti untuk terus berkarya di dunia gaya hidup," tutup Dinda.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini