nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengulik Program Khusus Berhenti Merokok di Rumah Sakit

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 15 Januari 2020 19:19 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 15 481 2153329 mengulik-program-khusus-berhenti-merokok-di-rumah-sakit-8iT0qL2dzk.jpg Ilustrasi (Foto : Helpguide)

Bagi sebagian orang, menghentikan kebiasaan merokok memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan niat dan komitmen yang kuat untuk mewujudkan hal tersebut.

Pasalnya, tak sedikit orang yang mengeluh sakit kepala hingga sesak napas saat mencoba untuk berhenti merokok. Alhasil, kebanyakan di antara mereka mencari cara alternatif untuk mengurangi kebiasaan itu. Salah satunya dengan beralih ke produk rokok elektronik yang dinilai jauh lebih aman dibanding rokok konvensional.

Namun menurut Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), rokok elektronik maupun konvensional sama-sama berbahaya dan dapat menimbulkan dampak jangka panjang, termasuk meningkatkan risiko kanker paru dan penyakit jantung.

Dokter Agus

Apalagi bila digunakan secara bersamaan. Risikonya digadang-gadang bisa meningkat 2-3 kali lipat akibat kandungan nikotin yang terdapat di kedua produk rokok tersebut.

"Risiko jangka pendek akan lebih cepat datang, begitu pun dengan risiko jangka panjang juga lebih cepat datang," ujar Dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), saat ditemui di Gedung Adyatma, Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Rabu (15/1/2020).

Lantas, bagaimana cara terbaik untuk mengurangi konsumsi dan menghilangkan kebiasaan merokok? Dr. Agus menegaskan bahwa satu-satunya cara terampuh adalah dengan mengikuti rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Untuk mengurangi konsumsi rokok tentunya gunakan cara yang sudah direkomendasikan oleh WHO seperti program konseling, psikoterapi itu yang tanpa obat, atau bisa juga datang ke puskesmas dan bisa ke rumah sakit. Di sana dokter paru akan memberi pelatihan dan terapi tambahan, serta memberikan obat berhenti merokok yang telah diuji," jelasnya.

Lebih lanjut, Agus menerangkan, program berhenti merokok ini biasanya akan berjalan selama kurang lebih tiga bulan. Namun untuk meningkatkan persentase keberhasjlannya, harus dilakukan secara rutin dan mengonsumsi obat pendukung.

Obat ini diklaim hanya bisa diedarkan oleh dokter spesial yang telah memiliki sertifikat pelatihan berhenti merokok. Di Indonesia sendiri, sekarang jumlah sudah mencapai lebih dari 100 dokter yang bisa memberikan program tersebut.

Hipnoterapi

Beberapa fasilitas tambahan juga bisa diberikan demi menyukseskan program berhenti merokok ini, seperti hipnoterapi hingga akupuntur.

"Obatnya berbentuk tablet seperti obat fariniklin dan nikotin replacement terapi (nrt). Obat ini harus diminum setiap hari selama kurang lebih 1-3 bulan masa program. Biayanya cukup terjangkau kok. Untuk konsultasi tergantung rumah sakit yang didatangi, tapi kalau untuk obatnya berkisar Rp200 ribu-Rp300 ribu," tegas Agus.

Bila program berjalan sukses, Agus mengatakan bahwa pasien akan merasakan sejumlah manfaat kesehatan. Kondisi paru akan kembali normal bila dilakukan sedini mungkin. Di samping itu, risiko penyakit berbahaya seperti kanker pun akan menurun.

Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa program ini bisa gagal di tengah jalan. Pasalnya ada empat faktor penentu yang harus diperhatikan bagi pasien yang ingin berhenti merokok.

Berhenti Merokok

"Ada empat faktor untuk berhenti merokok yaitu adiksi, putus nikotin, perilaku dan lingkungan. Perilaku dan lingkungan yang sulit karena obat tidak bisa menjangkau dua faktor itu, jadi harus dibantu keluarga," tegas Agus.

"Intinya kalau mau berhenti merokok datanglah ke dokter spesialis paru, jangan beralih ke rokok elektronik," tandasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini