nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dokter Indonesia Tegas Tolak Peredaran Rokok Elektrik

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Rabu 15 Januari 2020 21:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 15 481 2153407 dokter-indonesia-tegas-tolak-peredaran-rokok-elektrik-SYF0NeoUhR.jpeg Dokter Indonesia tegas tolak peredaran rokok elektrik (Foto : Dimas/Okezone)

Menyusul peredaran vape atau rokok elektrik yang semakin mudah dijangkau oleh anak-anak, sejumlah organisasi medis dan perhimpunan dokter Indonesia telah mengambil keputusan tegas bahwa mereka menolak peredaran rokok elektrik.

Saat ini rokok elektrik terbagi menjadi beberapa jenis dan bentuk seperti vape, jull, hookah, iqos, pods, dan masih banyak lagi. Namun dalam perkembangannya, produk rokok ini justru banyak digunakan oleh anak dan remaja.

Hal tersebut dipicu oleh iklan yang seolah menyatakan rokok elektrik tidak berbahaya seperti rokok konvensional, dengan aroma tertentu dan mengeluarkan asap yang memesona dalam kemasan menarik.

Pada kenyataannya, rokok elektrik memiliki bahaya yang lebih besar karena pada cairannya sering dicampurkan bahan kimia. Campuran inilah yang digadang-gadang dapat menyebabkan asma, merusak paru dan jantung, serta meningkatkan risiko kanker. Bahkan, bila digunakan pada usia lebih muda dapat menghambat perkembangan otak.

Di sisi lain, pemerintah dinilai gagal dalam upaya pengendalian tembakau atau rokok. Terlihat dari data Riskesdas perokok remaja meningkat menjadi 9.1%, target RPJMN 2014-2019 yaitu, 5,4%. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan memburuk melihat berkembangnya penggunaan rokok elektrik yang juga mengandung nikotin.

Rokok Elektrik

Menanggapi persoalan ini, Brigjen (Purn) dr Alexander K. Ginting, SpP, FCCP, Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Pembangunan dan Pembiayaan Kesehatan menegaskan peningkatan jumlah perokok pemula di Indonesia sudah dalam tahap mengkhawatirkan.

"Sudah jelas pemicunya adalah penggunaan rokok elektrik yang masif di kalangan anak muda. Kita berharap angka turun jadi 5,4%, malah naik jadi 10,7% di tahun 2019. Padahal, rokok elektrik dan rokok konvensional yang dibakar atau dipanaskan itu sama-sama berbahaya dan bisa memicu penyakit jantung, kanker, serta paru-paru," kata dr Alexander, dalam temu media di Gedung Adyatma, Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Rabu (15/1/2020)

Pernyataan Alexander pun didukung oleh dr Cut Putri Arianie, MHKes, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI. Dari segi kesehatan, rokok elektrik kata Cut, tidak memiliki manfaat sama sekali.

Maka dari itu, di awal tahun 2020 ini, Kemenkes telah berupaya melakukan advokasi kepada pihak-pihak terkait untuk meminimalisir kasus-kasus kesehatan yang disebabkan rokok konvensional maupun elektrik.

Rokok Elektrik

"Kita selalu memberikan rekomendasi. Kenaikan cukai rokok tembakau kemarin juga rekomendasi Kemenkes, penerapan kawasan tanpa rokok juga rekomendasi dari Kemenkes. Tapi Kemenkes tidak bisa bersuara sendirian, harus dibantu dengan aspek ekonomi oleh mereka (lembaga dan Kementerian lainnya)," ujar Cut.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), DR. dr. Agus Dwi Susanto Sp.P(K). Menurut penjelasannya, rokok konvensional maupun elektrik diklaim dapat meningkatkan risiko kanker dan jantung bila digunakan sejak dini, atau masih dalam masa anak-anak.

Rokok Elektrik

Tak hanya itu, dampak dari rokok elektrik dan konvensional ini juga dapat menyebabkan infeksi peradangan. Sebuah publikasi internasional telah membuktikan bahwa penggunaan rokok elektrik justru meningkatkan risiko penyakit asma.

"Di tempat saya praktik (Rumah Sakit Persahabatan) sekitar 70 persen pengguna rokok elektrik itu sudah adiksi dan ketagihan. Ini membuktikan bahwa kandungan nikotin kedua rokok tersebut sama-sama berbahaya," tutup Agus.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini