nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Usia Krisis Seseorang Ternyata Bukan di 25 Tahun Loh

Tiara Putri, Jurnalis · Rabu 15 Januari 2020 18:50 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 15 612 2153336 usia-krisis-seseorang-ternyata-bukan-di-25-tahun-loh-lvIb2aBY48.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BANYAK orang mengira hidup terberatnya ada di usia 25 tahun. Oleh karenanya, ada istilah ‘quarter life crisis’ yang menggambarkan kesulitan ketika memasuki usia 25 tahun.

Mereka pun merasa hidupnya berantakan, karena masalah yang datang bertubi-tubi. Namun, penelitian terbaru mematahkan istilah tersebut.

Profesor dari Dartmouth College, David Blanchflower, mengatakan bahwa seseorang merasa hidupnya paling menyedihkan ketika berada di titik mid-life crisis atau krisis paruh baya. Adapun usia tersebut, yakni ketika mereka menginjak 47 tahun.

Hasilnya kemudian diumumkan dalam National Bureau of Economic Research.

Profesor David melakukan studi terhadap dari 95 negara berkembang, dan 37 negara maju. Dirinya mengumpulkan data-data untuk menentukan hubungan antara kesejahteraan dengan usia. Hasilnya kemudian diumumkan dalam National Bureau of Economic Research.

"Ketidakbahagiaan di usia tertentu bentuknya seperti huruf U. Lintasan kurva berlaku di negara-negara yang upah median tinggi dan tidak dan serta angka harapan hidup lebih lama dan tidak," kata Profesor David seperti yang Okezone kutip dari UNILAD, Rabu (14/1/2020).

Parameter untuk ketidakbahagiaan yang digunakan dalam studi antara lain perasaan putus asa, kecemasan, kesepian, kesedihan, ketegangan, depresi, saraf yang buruk, fobia, panik, dan menjadi sedih.

Adapula parameter lainnya yakni tidur gelisah, kehilangan kepercayaan pada diri sendiri, tidak mampu mengatasi kesulitan, berada di bawah tekanan, merasakan kegagalan, perasaan ditinggalkan, merasa tegang, dan menganggap diri sebagai orang yang tidak berharga.

perasaan ditinggalkan, merasa tegang, dan menganggap diri sebagai orang yang tidak berharga.

Meski begitu, parameter tersebut tidak serta merta menentukan kebahagiaan. Sebab pada akhirnya semua menjadi lebih baik. Menurut penelitian, setiap negara memiliki kurva kebahagiaan yang berbentuk U sepanjang hidup.

"Dengan kata lain, kebahagiaan orang naik dan turun seiring waktu. Di negara maju, seseorang mencapai titik terendahnya pada usia 47,2 tahun. Sedangkan di negara-negara yang masih berkembang, titik terendahnya adalah usia 48,2 tahun," kata Profesor David.

Penelitian ini sangat relevan dengan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan mental yang mulai meningkat. Penelitian ini juga mengakui masyarakat secara keseluruhan memiliki efek pada kesejahteraan. Utamanya dipengaruhi oleh pendidikan, status perkawinan dan status pekerjaan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini