Belajar dari Kasus Ade Irawan, Ini Dampak Kehilangan Anak bagi Orangtua

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 17 Januari 2020 21:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 17 481 2154540 belajar-dari-kasus-ade-irawan-ini-dampak-kehilangan-anak-bagi-orangtua-HgT9GW2on9.jpg Ade Irawan. (Foto: Instagram)

TIDAK lama berselang setelah Ria Irawan meninggal, sang ibunda yakni Ade Irawan turut berpulang. Aktris senior itu menghembuskan napas terakhirnya di usia 84 tahun.

Berdasarkan informasi, ia meninggal lantaran penyakit komplikasi, mulai dari paru-paru hingga jantung. Terlepas dari penyakit yang dideritanya, tentu Ade Irawan merasakan duka mendalam saat sang buah hati meninggal.

Hal ini tentunya memberikan dampak psikologis, terlebih kehilangan anak yang meninggal dunia memang menjadi salah satu pemicu stres terbesar dalam hidup seseorang.

The Social Readjustment Rating Scale, dari skala 1-100, kehilangan anak mendapat skor 63.

Dari hasil penelitian Holmes & Rahe (1967) yang bertajuk The Social Readjustment Rating Scale, dari skala 1-100, kehilangan anak mendapat skor 63.

“Kehilangan anak menempati peringkat kelima sebagai sumber stres terberat dalam hidup. Dampak psikologis yang bisa terjadi adalah sedih berkepanjangan karena masih sulit menerima kenyataan,” ujar psikolog klinis dewasa Arrundina Puspita Dewi, M.Psi saat dihubungi Okezone melalui pesan singkat.

Dirinya menjelaskan, teori Kübler-Ross mengungkapkan ada lima fase yang perlu dilewatkan saat seseorang merasa kehilangan. Fase pertama adalah denial atau penolakan. Selanjutnya anger atau marah, bargaining atau berkompromi, depression atau depresi, dan fase terakhir adalah acceptance atau penerimaan.

“Nah, setiap orang beda-beda proses dan durasinya di masing-masing fase. Ada yang memang sampai akhir hayatnya masih di fase denial karena anak meninggal. Contohnya masih berasa anaknya seperti masih ada tapi lagi ke luar kota,” kata Arrundina.

Image result for ade irawan, okezone

Pada tahapan fase kehilangan tersebut, yang terpengaruh bukan hanya kondisi psikis tetapi juga kondisi fisik. Dikatakan Arrundina, kondisi fisik dan psikis tidak bisa dipisahkan. Saat mengalami sakit sekecil apapun, pasti akan berpengaruh ke psikis, begitupun sebaliknya.

“Contoh, lagi ada masalah yang belum terselesaikan dapat membuat badan rasanya panas dingin dan lambat laun bisa jadi demam beneran. Nah, apalagi sedih karena kehilangan anak yang level stres-nya tinggi,” ujar Arrundina.

Kondisi itu akan berpengaruh ke fisik seperti kehilangan semangat hidup, merasa lemas tidak berenergi, dan hilang nafsu makan.

Apabila nafsu makan hilang maka tidak ada asupan gizi yang masuk sehingga semakin memperparah keadaan fisiknya. Jika sebelum mengalami kehilangan seseorang memiliki sakit yang parah, bukan tidak mungkin kondisi fisiknya semakin buruk.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini