nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Batik Gedangsari di Gunungkidul

Sabtu 18 Januari 2020 21:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 18 194 2154827 mengenal-batik-gedangsari-di-gunungkidul-90BWUQUblL.jpg Ilustrasi batik (Foto: Okezone)

Batik merupakan kain khas nusantara. Batik disukai oleh banyak orang baik tua maupun muda.

Salah seorang perajin batik, Sukamti, 40 tahun, menunjuk tanaman yang ia sebut dengan nama pohon jolawe di belakang rumahnya. Tingginya masih belum ada satu meter. Aslinya, pohon ini akan tumbuh menjulang tinggi. Bahkan, kata orang-orang di desanya, pohon ini tergolong 'angker'.

 batik

(Batik Gedangsari, Foto: KR Jogja)

Namun, bagi Sukamti, tanaman ini justru bermanfaat karena bisa menjadi bahan untuk batik warna alam yang ia buat. Sukamti tidak hanya menunjukan pohon yang disebut angker itu saja, tangannya lincah menunjuk pohon nangka yang menjulang tinggi.

"Sengaja saya biarkan rimbun dan tinggi, saya butuh kulitnya untuk dapat warna kuning," kata Sukamti di rumahnya, Dusun Trembono, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul beberapa waktu lalu.

Bukan hanya pohon nangka yang ia tunjuk, ada pohon mahoni yang terkelupas kulitnya di sana-sini karena ia ambil untuk bahan warna alam. Juga tanaman indigofera.

"Sebenarnya banyak tanaman-tanaman disini yang jadi bahan, ada pace, ubi jalar, jati, daun mangga dan lainnya," kata Sukamti yang hobi memadu padankan berbagai jenis tanaman untuk menghasilkan warna tertentu.

Awalnya Gedangsari Hanya Dikenal Sebagai Sentra Perajin Batik

Batik khas Gedangsari di masa lalu memang tidak begitu dikenal. Sebab di Gedangsari dikenalnya sebagai sentra perajin batik saja.

Meraka tidak menjual batik buatan mereka sendiri, sebagian besar menjadi buruh batik di Bayat, Kabupaten Klaten. Namun mulai muncul pembatik-pembatik yang mendirikan usaha terutama pascagempa, saat Pemda DIY gencar melakukan pelatihan-pelatihan membatik.

Bersama suaminya, Sihono (46) dan putrinya, Nada Liliyani (22), Sukamti juga tergolong belum lama menekuni usaha batik di Gedangsari. Baru tahun 2011 ia serius menekuni batik, khususnya warna alam dengan mendirikan usaha Nada Collection.

"Kalau membatiknya saya sudah bisa sejak kelas 2 SD, tapi, disini kan rata-rata hanya jadi buruh batik di Bayat Klaten. Sejak nenek moyang, Gedangsari memang terkenal dengan pembatik, tapi sebagai buruh, bukan yang punya usaha," jelas Sukamti

Diakuinya, ia mulai merintis usaha batik setelah anaknya, Nada bersekolah di SMK jurusan batik. Dari situ, ia yang semula berjualan sayur beralih fokus pada usaha batik.

Kini setiap hari ia memiliki pekerja tetap sekitar 10 orang, sedangkan pembatik lain yang mengerjakan di rumah bisa melibatkan hingga 30 orang. Harga batik tulisnya beragam. Ada yang seharga puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

Semua tergantung ukuran, bahan, dan motif batik yang dikerjakan. Batik-batik itu ia jual dengan cara offline maupun online.

Sukamti, saat ini fokus membuat batik warna alam. Salah satu kelebihn batik warna alam adalah limbahnya yang ramah lingkungan. "Kalau batik warna alam, limbahnya malah bisa untuk pupuk tanaman di kebun," kata Sukamti.

Meski baru di tahun 2011 menekuni usaha batik, Sukamti mengakui kaget dengan pencapaiannya. "Hasilnya saya tidak bisa membayangkan seperti ini, memang banyak lika-liku yang saya lewati sebagai UKM. Termasuk soal modal. Dengan dikenalnya Gedangsari sebagai sentra batik warna alam, itu sangat membantu kami," kata Sukamti.

Seperti dilansir dari KR Jogja, Sukamti mengakui salah satu yang mendorong Gedangsari saat ini berkembang batik warna alamnya adalah kekompakan perajin-perajin batiknya. Meski terbagi dalam kelompok-kelompok pembatik, namun semua saling membantu.

Misalnya jika ada pemilik usaha yang kesulitan dengan banyaknya pesanan, dialihkan ke perajin lain. Begitu juga dalam hal pemasaran, tidak jarang, pengusaha batik ikut menjualkan produk perajin lain.

Untuk mencapai pada posisi ini, Sukamti sangat berterimakasih dengan Pemda DIY yang terus melakukan pendampingan melalui pelatihan maupun ajakan berpameran. Pun begitu peran swasta yang membranding daerah Gedangsari sehingga dikenal sebagai sentra batik warna alam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini