nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Semangat Mbah Waginah Berjualan Gudeg Selama 40 Tahun

Sabtu 18 Januari 2020 22:02 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 18 298 2154839 semangat-mbah-waginah-berjualan-gudeg-selama-40-tahun-egKQuEZ3KO.jpg Gudeg yang lezat (Foto: Okezone)

Nenek tua renta itu dengan semangat menerima pesanan seporsi gudeg dari pelanggan. Satu tangannya berpegangan pada bibir meja. Tubuh tuanya agak kepayahan untuk berjalan.

Nenek itu bernama Mbah Waginah, ia mengaku lahir tahun 1924, yang artinya usianya sudah 95 tahun. Sudah lebih dari 40 tahun ia berjualan gudeg.

 berjualan gudeg

Mbah Waginah jualan gudeg (Foto: KR Jogja)

Warung gudegnya berada di pinggiran Jalan Kabupaten Sleman Km 1,1, Sleman Yogyakarta.

Mbah Waginah yang hidup sendiri karena suami sudah meninggal dan anak-anaknya berada di luar kota. Namun hal ini tak menyurutkannya untuk tetap berjualan di masa tuanya.

Almarhum bapak Mbah Waginah dulunya adalah pekerja Romusha di era penjajahan Jepang sedangkan Ibunya meninggal tidak lama setelah merasakan pusing sepulang dari pasar. Hingga saat ini Mbah Waginah telah memiliki 2 orang anak dan 6 orang cucu.

“Saya ini berdiri di sini sudah sejak Jalan Kabupaten itu berwujud batu-batuan dan ditumbuhi rumput-rumputan),” ujar mbah Waginah belum lama ini.

Seperti dilansir dari KR Jogja, Mbah Waginah saat ini hidup sederhana di kediamannya tepatnya di Besole, Sleman. Tak jauh dari tempat ia berjualan.

Ia menceritakan, perjalanan hidupnya mengarungi masa penjajahan Jepang hingga Belanda. Dahulu saat ia masih kecil hingga remaja, ia diajak oleh simbahnya untuk berjualan roti di pasar. Bahkan saat melihat pembantaian tentara Jepang, Mbah Waginah menangis pada saat itu.

Kemudian karena faktor usia yang tidak lagi kuat untuk berjalan jauh, Mbah Waginah memutuskan untuk menjual Gudeg. Terhitung sampai saat ini kurang lebih sudah 40 tahun lamanya beliau berjualan gudeg.

Mbah Waginah mulai berjualan dari jam 06.00 – 10.00 WIB di pinggir Jalan Kabupaten KM 1,5 Yogyakarta. Tempat beliau berjualan bisa ditemui di google maps. Mbah Waginah sendiri mulai menyiapkan Gudeg sedari dini hari hingga menjelang Shubuh.

Berbagai hidangan yang Mbah Waginah sajikan antara lain nasi, bubur, gudeg telur, sambel krecek, dan ayam. Harga yang ditawarkan sangat terjangkau mulai dari Rp 8.000 hingga Rp 13.000 untuk gudeg dan ayam.

"Saya tidak malu untuk berjualan seperti ini, malu untuk apa? Apalagi saya tidak pernah meminta-minta,” kata Mbah Waginah.

Menurut Mbah Waginah, ia memilih menjual gudeg daripada meminta-minta. Setidaknya ia mendapatkan hasil. Sikap hidup dan kerja keras Mbah Waginah ini sudah sepatutnya dicontoh oleh generasi milenial, yakni prinsip hidup kerja keras, tidak suka meminta-minta, dan hidup dengan penuh rasa syukur.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini