nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wabah Antraks di Gunung Kidul, Ini Kebiasaan Masyarakat yang Harus Dihilangkan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Selasa 21 Januari 2020 07:13 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 21 481 2155835 wabah-antraks-di-gunung-kidul-ini-kebiasaan-masyarakat-yang-harus-dihilangkan-MTDuLgUzuR.jpg Ilustrasi (Foto : Dok.Okezone)

Wabah antraks kembali menyerang Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Setidaknya 12 warga dilaporkan terserang antraks, hingga memaksa pemerintah menetapkan kasus ini sebagai Kasus Luar Biasa (KLB).

Kejadian tersebut pertama dikenali pada tanggal 27 Desember 2019, kemudian kejadian pada orang tanggal 28 Desember 2019. Pada tahun 2019 minggu ke 52 Kementerian Kesehatan mendapat laporan terdapat 21 orang dengan tanda klinis baik gejala maupun tanda positif antraks.

Lantas, apa yang membuat wabah antraks kembali menyerang Kabupaten Gunung Kidul? Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Anung Sugihantono, M.Kes, menjelaskan ada beberapa faktor yang memicu terjadinya wabah antraks di kawasan ini.

Salah satunya adalah kebiasaan buruk warga setempat yang nekat mengonsumsi daging hewan ternak sakit. Alih-alih menguburkan hewan ternak yang sakit, warga justru menyembelih dan membagikan dagingnya kepada para tetangga.

Sapi

"Kemarin saya dapat laporan, hewan ternak yang sakit justru segera dipotong, lalu dibagikan ke masyarakat, atau di konsumsi sendiri. Kebetulan, kejadian antraks di Gunung Kidul itu juga berbarengan dengan acara khitanan," ungkap Anung Sugianto, dalam temu media di Gedung Adhyatma, Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, Senin 20 Januari 2020.

Tak hanya itu, warga juga sering menggunakan kotoran atau bagian dalam tubuh hewan ternak yang sakit, untuk dijadikan pupuk kandang. Hal ini diketahui melalui sample spora antraks yang ditemukan di atas permukaaan tanah di sekitaran kandang ternak.

"Kotoran dan jeroannya itu ditumpuk begitu saja di belakang rumah atau si dekat kandang. Ini tidak tepat karena justru dapat menyebarkan antraks," ungkap Anung.

"Di tambah lagi, Gunung Kidul ternyata belum ada rumah pemotongan hewan, tetapi masih dilakukan tingkat masyarakat. Jadi memang masih ada kebiasaan masyarakat yang harus dikoreksi," tambahnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini