nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Banyak Muncul Keraton Halu, Psikolog Sebut Ada Ambisi Jadi PNS

Selasa 21 Januari 2020 21:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 21 612 2156296 banyak-muncul-keraton-halu-psikolog-sebut-ada-ambisi-jadi-pns-AxQY5nZvRJ.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

KEMUNCULAN Keraton Agung Sejagat memang menggegerkan masyarakat. Bukan karena adanya keraton baru, tapi juga lantaran keraton tersebut ternyata pengumpulan dana ilegal yang merugikan banyak orang.

Ada dua pimpinan, yakni Toto Santoso (42) dan Fanni Aminadia (41) yang mengaku sebagai raja dan ratu keraton tersebut. Kini keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka karena telah membuat onar dan penipuan.

Meskipun terdengar seperti mengada-ngada, tapi ternyata ada dari anggotanya yang rela menyetor hingga Rp150 juta loh! Lantas, apa sih yang melatarbelakangi orang-orang sehingga mereka percaya?

keraton agung

Guru besar Psikologi UGM, Prof Koentjoro menjelaskan, para pembuat keraton tersebut secara psikologis disebut sebagai waham kebesaran. Menurutnya, pemimpin tersebut biasa disebut Koentjoro dan mampu menerapkan psikologi massa dan mempengaruhi banyak orang untuk percaya.

“Paham kebesaran ini dari segi pemimpin-pemimpinnya, mereka punya kemampuan luar biasa untuk meyakinkan sehingga siapa yang mendengarkan itu akan sangat yakin. Mereka bisa meyakinkan apa yang tidak ada menjadi ada, impian itu bisa menjadi kenyataan," ungkap Koentjoro seperti dilansir dari krjogja.com.

Menurutnya, para pemimpin itu bisa meyakinkan sedemikian rupa dengan cita-citanya, memanfaatkan simbol-simbol tertentu sehingga membentuk sebuah situasi hipotesa. "Itulah psikologi massa, sehingga orang akan dengan mudah percaya dengan apa yang dikemukakan,” jelas dia.

Buktinya, lanjut dia, adalah Sunda Empire yang tak rasional namun bisa menarik banyak peminat. "Tapi ketika dilakukan dalam situasi bersama-sama massa, maka menjadi dipercaya. Massa di kalangan bawah menjadi percaya kok simbol-simbol yang dibawa seakan-akan bener,” katanya.

keraton agung

Dia pun tidak sepenuhnya percaya bahwa kemiskinan yang membuat banyak orang tertarik ikut dalam keraton atau kerajaan buatan. Meski demikian, dia menyebut para pemimpin kerajaan tersebut mengalami kondisi post power syndrome.

“Banyak di antara mereka orang-orang tua dulu memiliki jabatan tertentu tak begitu tinggi, begitu pensiun di rumah tidak ada lagi yang bisa diperintah. Lalu mereka mencari eksistensi di luar," kata dia.

"Kedua, mungkin juga kurang belaian kasih sayang. Lalu ketiga mungkin keinginan representatif PNS, banyak yang ingin jadi PNS dengan lambang seperti Keraton. Lha sekarang ada keraton beneran lha mantep jadinya, bukan masalah ekonomi,” tambah dia.

Koentjoro menilai kerajaan atau keraton semacam ini akan terus muncul ke depan dengan bentuk yang berbeda di Indonesia.

“Masih akan terus ada ke depan, dulu kan juga banyak itu ada Lia Eden dan sebagainya. Ini akan terus ada apakah itu dikaitkan dengan Tuhan, dengan perjanjian yang kita tidak tahu, dengan sabda palon atau dengan ratu adil,” pungkas dia.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini