nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Imlek, Ribuan Angpao Dibagikan di Tempat Ini

Ade Putra, Jurnalis · Sabtu 25 Januari 2020 10:07 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 25 406 2158122 imlek-ribuan-angpao-dibagikan-di-tempat-ini-YUO9HGuGud.jpg Ribuan Angpao Dibagikan di Singkawang (Foto: Ade Putra)

ANGPAO (Hanzi) adalah amplop merah yang biasanya berisikan sejumlah uang sebagai hadiah menyambut tahun baru Imlek. Warna merah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa.

Warna merah juga menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa nasib baik bagi penerima angpao.

Bagi Bagi Angpao Imlek

Seperti Jumat (24/1/2020) malam tadi, ribuan warga Tionghoa memadati kawasan Yayasan Fab Zhu Kung di Jalan Natuna, Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Mereka rela mengantre di sana, karena ada bagi-bagi angpao. Tapi khusus untuk anak-anak yang usianya di bawah 10 tahun. Pantas, semua warga yang hadir terlihat membawa anak-anaknya.

Imlek meriah dengan angpao

Di lokasi ini, pengurus Yayasan Fab Zhu Kung menyediakan 1.400 angpao. Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie yang memimpin pembagian angpao tersebut. "Ini (bagi-bagu angpao, red) sudah merupakan tradisi turun temurun bagi masyarakat Tionghoa dalam merayakan hari raya Imlek," ujar Tjhai Chui Mie usai membagikan angpao.

Sesuai tradisi, kata Tjhai Chui Mie, pembagian angpao ini biasanya dari orang yang tua ke yang muda. "Seperti dari orangtua kepada anaknya. Dari abang atau kakak yang sudah nikah atau sudah bekerja kepada anak-anak. Atau dari atasan untuk bawahan," jelasnya.

Seperti di Yayasan Fab Zhu Kung. Kata Tjhai Chui Mie, ada sekitar 1.400 angpao yang dibagikan ke anak-anak yang usianya di bawah 10 tahun. Berebut? Sudah pasti. Pantauan Okezone, tampak warga berdesakkan memasuki vihara Yayasan Fab Zhu Kung, lokasi pembagian angpao. Terutama anak-anak. Panitia pun terpaksa memberikan pengamanan dengan cara pagar betis.

"Pada intinya, ini kita lakukan sebagai bentuk berbagi kasih kepada masyarakat yang merayakan Imlek," tuturnya.

Angpao Imlek di Singkawang

Istilah angpao dalam kamus berbahasa Mandarin didefinisikan sebagai uang yang dibungkus dalam kemasan merah. Namun, makna angpao sebenarnya bukan hanya sekedar perayaan tahun baru Imlek semata. Karena angpao melambangkan kegembiraan dan semangat yang akan membawa nasib baik. Sehingga angpao juga ada di dalam beberapa perhelatan penting atau perayaan lainnya. Seperti pesta pernikahan, hari ulang tahun, syukuran naik rumah baru dan lain-lain yang bersifat suka cita.

Juga termasuk memberi bonus kepada pemain barongsai, beramal kepada guru religius atau tempat ibadah, hadiah atau uang bonus yang diberikan kepada pembeli oleh penjual karena telah membeli produknya dan lainnya.

Angpao berisi uang

Pada pesta pernikahan, pasangan yang menikah biasanya diberi angpao oleh anggota keluarga yang lebih tua dan para undangan. Masyarakat yang masih teguh memegang budaya tradisional juga menggunakan angpou untuk membayar guru dan dokter. 

Warna merah angpao melambangkan ungkapan semoga beruntung dan mengusir energi negatif. Oleh sebab itu, angpao tidak diberikan sebagai ungkapan berbelasungkawa karena akan dianggap si pemberi bersukacita atas musibah yang terjadi di keluarga tersebut.

Angpao pada tahun baru Imlek sendiri mempunyai istilah khusus yaitu “Ya Sui". Artinya hadiah yang diberikan untuk anak-anak berkaitan dengan pertambahan umur/pergantian tahun. Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan dan makanan. Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dengan membiarkan anak-anak memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli.

Tradisi memberikan uang sebagai hadiah Ya Sui ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam satu literatur mengenai Ya Sui Qian dituliskan bahwa anak-anak menggunakan uang untuk membeli petasan dan manisan. Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.

Dalam momentum perayaan Imlek 2571 ini, Tjhai Chui Mie juga berpesan kepada anak-anak generasi penerus pemimpin masa depan agar bisa belajar bagaimana hidup bertoleransi, bertetangga dan bersosialisasi. Apapun agama dan sukunya.

"Kita sudah mendapatkan predikat Kota Tertoleran. Kita ingin menumbuh kembangkan pada anak-anak kita semua ini untuk bisa berbaur dengan etnis apapuu, agama apapun. Sehingga sudah besar nanti mempunyai sikap yang sama. Karena kita Indonesia, NKRI harga mati," tegas Tjhai Chui Mie.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini