nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bukan di Yogyakarta, Kota Ini Tetapkan Angkringan sebagai Ikon

Minggu 26 Januari 2020 19:23 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 26 298 2158608 bukan-di-yogyakarta-kota-ini-tetapkan-angkringan-sebagai-ikon-HSV1XWKMsx.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MUNGKIN bagi Anda yang pernah ke Yogyakarta dan kota-kota sekitarnya pasti pernah mampir ke angkringan. Bukan hanya di daerah Jawa, angkringan memang juga bisa ditemukan bahkan di beberapa tempat di Jakarta.

Ciri khas angkringan, yakni memakai gerobak dan menjual menu-menu makanan sederhana seperti nasi kucing, aneka sate, aneka bacem dan juga wedang atau minuman hangat.

Nah, di Desa Ngerangan, Bayat, Klaten, angkringan ditetapkan sebagai ikon. Pasalnya, sekitar 600 keluarga dari total 1.900 keluarga di desa tersebut menggantungkan nasib dari berjualan angkringan.

Warga desa tersebut merantau ke berbagai wilayah di Indonesia seperti Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Pulau Kalimantan.

Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Pulau Kalimantan.

Guna menegaskan angkringan sebagai ikon Desa Ngerangan, pemerintah berencana membangun Monumen Angkringan.

“Monumen angkringan sekaligus menjadi taman desa kami targetkan selesai dibangun pada Februari mendatang,” terang Kepala Desa (Kades) Ngerangan, Sumarno, seperti dilansir dari Solopos.com.

Kepala Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Klaten, Bambang Sigit Sinugroho, menjelaskan angkringan atau hik selama ini sudah diakui diciptakan oleh warga Klaten. Guna menegaskan hal itu, sejak empat tahun terakhir Pemkab Klaten menggulirkan kegiatan festival angkringan atau hik. Festival itu digulirkan bersamaan peringatan Hari Jadi Klaten.

Bambang Sigit Sinugroho menjelaskan, festival itu awalnya dikelola melalui Disdagkop dan UKM. Kegiatan digulirkan di sepanjang Jl. Pemuda dengan menggelar puluhan hingga ratusan warung angkringan di sepanjang jalan dan warga bisa menikmati hidangan secara gratis.

angkringan di sepanjang jalan dan warga bisa menikmati hidangan secara gratis.

Mulai 2019, festival itu dikelola melalui Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten. “Kali terakhir [pada 2018] jumlah warung hik ada 200 warung. Ini menjadi bentuk dukungan kami dan menunjukkan bahwa hik itu berasal dari Klaten,” jelas Bambang.

Kabid Pariwisata Disparbudpora Klaten, Ety Pusparini, menjelaskan festival angkringan tetap bergulir pada 2019 dan 2020. Bahkan, festival yang kini diberi nama gelar angkringan itu sudah masuk kalender even pariwisata Jawa Tengah. “Dalam berbagai event kami kerap menampilkan angkringan,” jelas Ety Pusparini.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini