nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Vaksin Virus Korona Wuhan Baru Rampung 16 Minggu, Uji Coba April 2020

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Minggu 26 Januari 2020 21:29 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 01 26 481 2158639 vaksin-virus-korona-wuhan-baru-rampung-16-minggu-uji-coba-april-2020-23gd7lq4Ph.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

WABAH virus korona yang menyerang Wuhan dan 11 negara lainnya telah menggemparkan dunia. Hingga saat ini belum ada vaksin maupun perawatan yang efektif untuk menyembuhkan virus korona Wuhan.

Berbagai lembaga kesehatan pun sedang berlomba mengembangkan vaksin virus korona yang baru akan di uji coba pada 16 minggu ke depan.

Minggu ini Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (Cepi) mengumumkan akan menggelontorkan dana sebesar 8,4 juta pounds atau setara Rp149 miliar untuk menjalankan tiga program yang dipimpin oleh perusahaan Inovio Pharmaceuticals Moderna dan University of Queensland.

Cepi yang didanai oleh beberapa negara dan donor filantropis didirikan tiga tahun lalu setelah meuncul epidemic Ebola yang menewaskan 11 ribu orang.

filantropis didirikan tiga tahun lalu setelah meuncul epidemic Ebola yang menewaskan 11 ribu orang.

Mereka berjuang untuk membuat vaksin yang layak untuk melawan virus korona dalam kurun waktu hanya 16 minggu. Namun diprediksi pengujian untuk keamanan dan keefektifan virus ini akan memakan waktu yang lebih lama.

Jika membutuhkan waktu sekira 16 minggu makan diprediksi vaksin virus korona baru akan rampung pada April 2020 dan baru akan di tes sesudahnya.

Namun, salah satu keuntungan bagi para peneliti adalah virus korona baru dengan kode 2019-nCoV masih dalam keluarga yang sama dengan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) yang vaksinnya telah dikembangkan setelah wabah di 2002.

‘Tentu saja informasi itu akan memberi kami informasi awal,” teran Dekan Fakultas Penyakit Menular dan Tropis di London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM), Prof. Brendan Wren, melansir dari The Guardian, Minggu (26/1/2020).

Menurut Prof. Wren teknologi vaksin juga telah meningkat secara signifikan sejak wabah SARS melanda. Vaksin tradisional bekerja dengan mengembangkan versi virus yang dilemahkan dan terlihat cukup mirip sehingga sistem kekebalan tubuh akan mengenali versi nyata di masa depan. Tetapi upaya terbaru untuk membuat vaksin virus korona akan menggunakan pendekatan yang sama sekali berbeda.

“Mereka semua teknologi baru dan memiliki banyak janji untuk dapat melakukan sesuatu dengan cepat,” tutur CEO Cepi, Richard Hatchett.

Tetapi upaya terbaru untuk membuat vaksin virus korona akan menggunakan pendekatan yang sama sekali berbeda.

Saat ini salah satu tim sedang mengerjakan apa yang disebut dengan vaksin DNA. Tujuannya adalah untuk menemukan bentangan DNA spesifik yang mengode resepter pada permukaan virus yang memungkinkan sistem kekebalan tubuh untuk menargetkannya. Secara teori DNA ini disuntikkan ke seseorang dan harus masuk ke dalam selnya.

DNA ini akan mulai menghasilkan protein yang terlihat persis seperti reseptor pada pemukaan virus. Reseptor yang mengambang kecil ini kemudian akan memicu sistem kekebalan tubuh tanpa menyebabkan penyakit apa pun.

Meskipun vaksin untuk melawan virus korona ini berhasil ditemukan dengan cepat, namun para peneliti masih perlu melalui beberapa bulan untuk melakukan pengujian lebih lanjut. Keputusan yang cermat harus dibuat tentang siapa yang harus divaksinasi. Biasanya petugas kesehatan menjadi yang pertama dalam uji coba tersebut.

“Bahkan jika Anda memiliki efek samping yang relative jarang terjadi, Anda harus khawatir tentang hal itu jika Anda memvaksinasi jutaan orang,” terang Ahli Epidemiologi di LSHTM, Prof. Peter Smith.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini