Begini Kesederhanaan Warga Tionghoa di Australia Rayakan Imlek

Senin 27 Januari 2020 20:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 27 196 2159103 begini-kesederhanaan-warga-tionghoa-di-australia-rayakan-imlek-4pMjjqvkOe.jpg Perayaan Imlek (Foto: ABC News)

Tahun Baru Imlek tak menjadi hari libur nasional di Australia. Namun rupanya warga keturunan Tionghoa yang merupakan WNI tetap merayakannya Imlek meski jauh dari keluarga besar.

Dalam menyambut Tahun Baru Imlek, mereka tetap mencoba melakukan ritual-ritual dan mempertahankan tradisi keluarga.

 makanan Imlek

Seperti yang dilakukan Trinita Chen, warga Indonesia keturunan Tionghoa yang sudah tinggal di Melbourne selama tiga tahun tetap merayakan Imlek.

"Tahun ini berbeda, karena saya ada jadwal kuliah di akhir minggu. Jadi perayaan Imleknya harus disederhanakan," kata Trinita.

Seperti dikutip dari ABC News, Trinita tetap menyempatkan diri untuk menggelar acara makan malam bersama keluarga kecilnya, sebelum pergi ke wihara.

Ia mengatakan ada sejumlah makanan khas yang dihidangkan, seperti bakmi yang melambangkan panjang umur. Ada pula kue keranjang yang berisi harapan agar hubungan saudara yang tetap erat. Tak ketinggalan juga jeruk sebagai simbol kemakmuran dan ikan.

Tradisi lain yang masih dipegang oleh Trinita adalah membuat kue mangkok, dikenal sebagai 'Fa Gao' atau 'Huat Kwe' yang akan ia bawa ke Wihara sebagai sajian saat sembahyang.

"Kue mangkok tidak gampang mekar. Jadi biasanya kalau bisa mekar, artinya di tahun itu rezeki akan lancar," ujar Trinita menjelaskan.

Tapi selain ritual-ritual yang dilakukannya menjelang tahun baru, ada pula sejumlah larangan yang ia hindari. Diantaranya mencuci rambut, memangkas rambut, menyapu atau membersihkan rumah, yang harus dilakukan sebelum Imlek.

"Dilarang menyapu pada hari Imlek karena itu artinya menyapu rezeki di tahun baru," kata Trinita.

Merayakan Tahun Baru Imlek dengan sederhana juga dilakukan oleh Helvi Reichl, warga Indonesia lainnya di Melbourne.

Saat ditemui di wihara, Helvi sedang sembahyang sebelum tahun yang baru berganti.

"Perayaan tahun baru bagi saya ini lebih personal sifatnya dan juga lebih karena alasan relijius, bukan sekedar budaya," katanya.

Hanya Helvi sendiri di keluarganya yang keturunan China dan memeluk Buddha, sementara suaminya adalah warga lokal Australia.

Sementara bagi Herman Rusdi, warga Indonesia yang sudah tinggal tujuh tahun di Australia, Imlek tidak terasa perayaannya seperti di Indonesia. Oleh karena itu ia lebih memilih untuk mudik ke Indonesia tahun ini agar bisa merayakan dengan keluarga besarnya.

"Setelah tidak lagi mendapat angpao, family gathering adalah satu hal yang saya tunggu-tunggu saat Imlek," kata pria kelahiran 1988 tersebut.

Tradisi yang diajarkan orang tua Herman masih ia lakukan, seperti memakai baju baru, memberi angpao kepada anak-anak yang belum menikah, dan membersihkan rumah sebelum hari Imlek.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini