nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

China Gunakan Obat Anti-HIV untuk Pasien Terinfeksi Virus Korona Wuhan

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Senin 27 Januari 2020 14:50 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 01 27 481 2158929 china-gunakan-obat-anti-hiv-untuk-pasien-terinfeksi-virus-korona-wuhan-ekI7ERDiJw.jpg Ilustrasi (Foto : AIKhaleejToday)

Tiga rumah sakit di Beijing mulai merawat pasien yang terinfeksi virus korona Wuhan dengan obat anti-HIV Lopinavir dan Ritonavir. Ini merupakan bagian dari upaya pemerintah setempat untuk menghentikan penyebaran penyakit mematikan tersebut.

"Kabarnya obat anti-AIDS telah digunakan dan terbukti efektif dalam mengobati virus korona. Komisi Kesehatan Nasional telah merekomendasikan nama-nama obat untuk mengobati virus korona, dan kami memiliki stok Lopinavir/Ritonavir di Beijing," tulis keterangan resmi Komisi Kesehatan Kota Beijing yang dikutip Okezone dari Scmp, Senin (27/1/2020).

Tiga rumah sakit di Beijing yang ditunjuk untuk menangani virus korona Wuhan adalah Rumah Sakit Ditan Beijing, Rumah Sakit Youan Beijing dan Medical Center of PLA General Hospital. Ketiga rumah sakit tersebut telah mulai menggunakan terapi obat anti-HIV Lopinavir/Ritonavir untuk pengobatan pasien virus korona Wuhan.

Virus Korona Wuhan

Kedua obat tersebut adalah antiretroviral yang menghambat HIV terikat dengan sel sehat dan bereproduksi. Hal ini sering digunakan dalam kombinasi untuk mengobati penyakit HIV.

Sementara itu, penelitian baru pada 41 kasus virus korona Wuhan di China dalam jurnal medis The Lancet "substantial clinical benefit" dari penggunaan obat dalam pengobatan SARS, epidemi virus korona yang melanda China pada tahun 2002 dan 2003.

Namun, para ahli dari berbagai lembaga penelitian medis di China juga mengatakan, tidak ada metode pengobatan yang telah terbukti mengobati virus korona.

"Tidak ada pengobatan antivirus untuk infeksi virus korona yang terbukti efektif. Dalam penelitian kontrol historis, kombinasi Lopinavir dan Ritonavir di antara pasien SARS-Cov dikaitkan dengan manfaat klinis yang substansial," menurut artikel dalam jurnal The Lancet.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini