Ikatan Dokter Indonesia Tanggapi Usulan Ganja Jadi Komoditas Ekspor

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Jum'at 31 Januari 2020 15:19 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 31 481 2161298 ikatan-dokter-indonesia-tanggapi-usulan-ganja-jadi-komoditas-ekspor-OxrrXAoO8N.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

Di tengah isu virus korona Wuhan, masyarakat Indonesia dihebohkan oleh usulan anggota Komisi VI DPR RI dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Rafli, untuk menjadikan ganja sebagai komoditas ekspor Indonesia di kancah internasional.

Pernyataan tersebut sontak menarik perhatian sejumlah kalangan, termasuk Ketua Persatuan Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) dr. Daeng M. Faqih. Daeng menjelaskan bahwa wacana ini harus diperhitungkan dengan matang, mengingat ganja masuk masuk ke dalam golongan narkotika yang dilarang untuk penggunaan, bahkan penelitian medis sekalipun.

“Saran saya ikuti aturan yang ada. Aturan yang ada saat ini ganja masih masuk golongan 1. Artinya masih ilegal untuk digunakan maupun diperjualbelikan, termasuk dalam hal pengobatan dan penelitian pun dilarang,” ucap dr. Daeng saat ditemui di Kantor PB IDI, Jakarta Pusat, Jumat (31/1/2020).

Dokter

Daeng mengatakan, selama regulasi tersebut masih berlaku, lebih baik masyarakat mengikuti aturannya karena dinilai dapat menimbulkan dampak yang negati bila disalahgunakan.

“Jangan ngambil langkah kalau masih regulasinya dilarang, nanti berat itu bagi pemerintahan berat bagi masyarakat berat nanti terlebih kalau penyalahgunaan,” tegas dr. Daeng.

Bila pemerintah ingin memberikan kelonggaran agar ganja menjadi komoditas ekspor, Daeng menegaskan perlu diambil sejumlah langkah serius, termasuk melakukan penelitian lebih lanjut sebelum meresmikan kebijakannya.

“Harus melalui langkah-langkah yang cermat. Tidak bisa sembarangan karena ini barang masuk dalam golongan 1 narkotika. Sebaiknya hati-hati sekali ke arah sana,” pungkas dr. Daeng.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini